Apa Kabar Penyair Muda Pekanbaru?

Oleh M Badri

Sebuah perhelatan sastra baru saja digelar sejumlah penulis muda di Taman Budaya Yogyakarta, 2 – 3 Februari 2007 kemarin. Acara yang bertajuk “Forum Penyair Muda 4 Kota (Yogyakarta, Bandung, Denpasar dan Padang)” tersebut mengusung tema “Halo Penyair Muda Daerah, Apa Kabar?”. Meskipun acara dikemas sederhana tapi lumayan membawa kesan. Diawali dengan bedah buku puisi “Herbarium” yang memuat puisi-puisi penyair muda dari empat kota, diskusi tentang peta kepenyairan dan pembacaan puisi. Secara kebetulan, saya yang saat itu sedang berada di Yogyakarta, berkesempatan menghadiri undangan “tak resmi” dari beberapa teman penyair yang punya hajatan. Karena saya sendiri berada di luar empat kota tersebut. Lantas kenapa hanya empat kota?

Tanpa melihat celah etnosentrisme, barangkali para penyair muda penggagas kegiatan tersebut berupaya “melawan” mitos bahwa yang muda tidak bisa “berpesta”. Setidaknya hal itu muncul dari diskusi dengan beberapa teman penyair (muda) yang merasa bahwa hegemoni penyair “tua” masih memegang peran penting dalam berbagai perhelatan sastra di tanah air. Seolah-olah yang yang muda tidak mendapat tempat, sehingga ketika ada event sastra selalu yang itu-itu juga yang datang. Dalam konteks ini saya tidak memandang ekstrim bahwa kegiatan semacam itu merupakan “perlawanan” terhadap hegemoni penyair “tua” ––meskipun ada kecenderungan terjadi. Tetapi lebih kepada bagaimana para penyair muda dari sejumlah daerah di tanah air dapat bersilaturahmi, baik secara individu maupun proses kreatif.

Memang akhir-akhir ini di beberapa daerah seperti Yogyakarta, Bali, Padang, Bandung, Lampung dan sebagainya banyak bermunculan penyair-penyair muda. Hal ini merupakan suatu pertanda baik dalam proses regenerasi kepenyairan di Indonesia. Petumbuhan media massa baik cetak maupun elektronik (internet) turut menjadi faktor pendukung suburnya iklim kreatif ini. Lalu bagaimana dengan Pekanbaru? Setakat ini saya belum melihat perkembangan yang menggembirakan. Itu juga seirama dengan perbincangan saya akhir tahun lalu dengan salah seorang redaktur budaya media lokal yang berkantor di Pekanbaru. Di mana hampir terjadi lost generation penulis sastra di kota Pekanbaru. Dalam konteks ini barangkali saya akan memfokuskan pada regenerasi kepenyairan yang akhir-akhir ini nyaris tidak ada perkembangan.

Melihat kondisi bersastra yang kurang bergairah itu, tidak heran bila penyair-penyair muda Pekanbaru masih kurang mendapat tempat di kalangan penyair-penyair muda nusantara. Permasalahannya bukan terletak pada kualitas, tetapi lebih pada kuantitas yang dewasa ini cenderung menurun. Dalam hal persentuhan kreatif antarpenyair muda pun, saya melihat penyair muda Pekanbaru masih kurang “gaul”. Hal ini cukup beralasan karena ketika menjelajahi forum-forum diskusi sastra melalui berbagai media maya, hanya segelintir nama yang saya lihat ikut nimbrung. Padahal saat ini persinggungan kreatif antarpenyair-penyair muda sering dilakukan melalui berbagai milis atau forum diskusi di situs-situs sastra. Berbagai infromasi tentang perlombaan maupun event-event sastra sering kali muncul melalui media tersebut. Di sini yang perlu dicatat bahwa meskipun ingin bermain dengan lokalitas, tapi untuk menunjukkan eksistensinya di ruang publik tetap perlu berpikir global. Sebab dari situ kemudian sering muncul gagasan dan pertemuan yang melahirkan suatu agenda sastra. Salah satunya forum penyair muda yang saya sebut di atas.

Sebagai pegiat sastra yang tumbuh dan berkembang di Pekanbaru saya merasa mempunyai beban moral untuk “memprovokasi” para penyair muda yang sedang tumbuh untuk segera meramaikan khasanah sastra nusantara. Sehingga kejayaan penyair muda Pekanbaru (atau lebih luasnya Riau) bukan hanya sekadar romantisme masa lalu, tetapi harus terus berlanjut hingga kini. Beban sejarah bahasa Melayu sebagai “akar bahasa” seyogianya menjadi api pemantik untuk terus berkreatifitas. Berbagai media massa (dengan rubrik sastranya) yang ada di Pekanbaru saya kira cukup memadai sebagai medium untuk mengasah kreativitas dan kualitas karya. Ini sebenarnya merupakan suatu peluang mengingat jumlah media-media lokal yang menyediakan rubrik sastra di Pekanbaru relatif lebih banyak dibandingkan daerah lain. Tetapi kalau masalahnya terletak pada besarnya honorarium sebagai penghargaan terhadap penulis, barangkali hal itu perlu didiskusikan lebih lanjut dengan pemilik media. Sebab perkembangan bersastra tidak lepas dari ketersediaan media sebagai wadah publikasi karya-karya sastra. Di sinilah sebenarnya media massa harus mengambil peran lebih sebagai penggerak kepenyairan di Pekanbaru.

Pentingkah Komunitas Sastra?
Selain iklim diskusi sastra melalui “media maya” sepertinya kehadiran komunitas sastra juga dipandang perlu untuk regenerasi kepenyairan di Pekanbaru. Kalau dilihat lebih dekat, sebenarnya komunitas-komunitas sastra berpeluang untuk berkembang di wilayah kampus dalam bentuk unit kegiatan mahasiswa. Tetapi tidak dapat dipungkiri komunitas yang muncul di luar kampus kadang lebih menunjukkan eksistensinya. Berbicara tentang komunitas kampus, sebenarnya di Pekanbaru yang lebih tenar cenderung komunitas teater ––sekadar menyebut nama seperti Latah Tuah (UIN), Selembayung (Unilak), Batra (Unri) dan Lisendra Dua Terbilang (UIR). Sebab komunitas-komunitas itu juga banyak memunculkan penyair-penyair muda yang cukup berbakat. Sedangkan komunitas yang murni mengusung sastra, antara lain Senapelan Writers Association (SWA) di UIR. Tapi SWA kini nyaris tanpa aktivitas, kecuali beberapa pegiatnya yang masih mencantumkan nama komunitas di biodata karyanya setiap muncul di media massa.
Sedangkan komunitas di luar kampus, beberapa tahun lalu pernah muncul Komunitas Sastrawan Muda Riau (KSMR), namun sebelum sempat menunjukkan eksistensinya keburu hilang. Kini yang masih terdengar hanya Komunitas Paragraf yang digerakkan oleh sejumlah sastrawan seperti Hary B Koriun, Marhalim Zaini, Olyrinson dan Budy Utami, serta komunitas Forum Lingkar Pena (FLP). Lalu, di mana penyair-penyair muda-muda di bawah generasi Sobirin Zaini, Ellyzan Katan, atau Jefry Al Malay? Membaca buku kumpulan cerpen dan sajak terpilih Riau Pos 2006 “Jalan Pulang”, saya belum menemukan nama-nama baru di belantara sastra Riau. Sehingga tidak heran bila rubrik sastra media lokal Pekanbaru dibanjiri penulis-penulis muda dari luar Riau. Sungguh ironis!

Melihat fenomena ini sepertinya para penyair yang lebih dulu eksis (kalau tidak mau disebut tua atau senior) harus turut berpikir dan mencari jalan keluar bagi kemunculan penyair-penyair muda Pekanbaru. Kalau masalahnya pada kualitas, tentunya perlu dibudayakan pembelajaran sastra yang mengarah pada pematangan proses kreatif penulis-penulis yang baru tumbuh. Dengan memberikan motivasi dan semangat untuk berkarya serta melibatkan mereka dalam sejumlah event yang diadakan lembaga-lembaga sastra ––dewan kesenian, misalnya. Bila masalahnya pada kuantitas, tentunya perlu jejaring untuk memunculkan penyair-penyair berbakat di kampus-kampus maupun sekolah-sekolah. Saya yakin cukup banyak generasi muda yang berpotensi menjadi penyair. Hanya saja masalahnya pada ada tidaknya dorongan dan kesempatan untuk muncul di ruang publik.

Memang bukan jaminan bahwa komunitas akan penghasilkan karya-karya atau penulis berkualitas. Tetapi setidaknya melalui komunitas, iklim bersastra dapat tumbuh subur melalui berbagai kegiatan diskusi maupun pengkajian karya-karya sastra yang dilakukan. Karena dalam sebuah komunitas terjadi proses interaksi kreatif dan saling memberi umpan balik antara anggota-anggotanya. Terlebih bila sering diadakan diskusi dengan menghadirkan pembicara-pembicara dari kalangan penyair “senior” yang secara tidak langsung akan memacu penulis-penulis muda untuk giat berkarya. Hal ini akan mempercepat kematangan dalam bersastra dan memunculkan penulis-penulis muda. Memang itu bukan pekerjaan mudah, karena kegiatan bersastra meskipun dilakukan secara kolektif tetap saja nilai kualitas dan eksistensinya tergantung pada pergumulan kreatif masing-masing individu.

Tradisi Apresiasi Puisi
Selain menggerakkan kantong-kantong sastra melalui berbagai komunitas, perlu juga dibangun apresiasi sastra (terutama puisi). Apresiasi berperan mengobarkan semangat penyair-penyair muda untuk “meledakkan” karyanya. Apresiasi seperti ini antara lain saya lihat dalam kegiatan forum penyair muda di Yogyakarta beberapa waktu lalu. Dimana sejumlah komunitas sastra menunjukkan tradisi apresiasi sastra secara kontinyu untuk mempertahankan gairah menulis. Sebagai contoh adanya budaya pembacaan puisi berjamaah secara bergantian (semacam tadarus puisi) yang dilanjutkan dengan kritik oleh anggota-anggota lainnya. Melalui proses belajar kolektif seperti ini kemudian akan muncul karya-karya berkualitas yang siap bersaing memperebutkan posisi di ruang publik.

Kemudian melihat begitu banyaknya jurusan bahasa dan sastra di sejumlah perguruan tinggi, sangat bertolak belakang dengan perkembangan kepenyairan di Pekanbaru. Apakah hal ini disebabkan karena para pengajar sastra di perguruan tinggi kebanyakan kurang apresiatif terhadap karya sastra? Saya tidak berhak memvonisnya. Tetapi pada kenyataannya, para pengajar sastra di perguruan tinggi atau sekolah-sekolah masih terbelenggu dengan hegemoni kurikulum. Sehingga kurang apresiatif terhadap perkembangan sastra kontemporer yang terus meluas. Tentunya menjadi masalah besar bila kita menginginkan pertumbuhan penyair muda tanpa didukung oleh sistem pendidikan sastra yang mumpuni.

Ternyata permasalahan ini juga terjadi di sejumlah kota yang notabene sebagai pusat pendidikan sastra. Di mana tenaga pengajar sastra (juga mahasiswa jurusan sastra) jarang yang benar-benar menggeluti sastra itu sendiri secara intens. Sedangkan mereka yang bergumul dengan sastra secara teori maupun praktek lebih memilih menjadi wartawan atau editor buku daripada pengajar sastra. Kalau memang demikian, wajar saja bila generasi muda kita banyak yang tidak mencintai sastra bahkan “buta” mengenai sastra, terutama sastra yang “serius”.

Fenomena ini tentunya perlu mendapat perhatian lebih dari peminat sastra, baik yang bergerak pada tataran teoritis maupun praktis. Sehingga ke depan tidak terjadi lost generation penyair-penyair muda Pekanbaru, tetapi diharapkan pertumbuhannya menggembirakan terutama untuk meramaikan kepenyairan di tanah air. Berkaca pada “Forum Penyair Muda 4 Kota” tersebut, penyair muda Pekanbaru diharapkan dapat ambil bagian dalam berbagai event sastra selanjutnya. Apa kabar penyair muda Pekanbaru? Barangkali saya tidak membutuhkan jawaban kabar baik atau kabar buruk. Tetapi lebih pada jawaban untuk sama-sama menumbuhkan kesadaran kreatif membangun budaya kepenyairan di Pekanbaru yang lebih baik. (*)

Dimuat di Riau Pos, Minggu 11 Februari 2007