Mitigasi Bencana Asap

Oleh M Badri

Bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan masih terus terjadi. Dampak dan kerugian yang ditimbulkan juga sangat besar. Pada bencana asap di Riau pada 2014 lalu saja kerugian ekonomi mencapai lebih Rp 20 triliun. Sedangkan, biaya penanggulangannya menyedot dana sekitar Rp 164 miliar.

Tahun ini, diperkirakan lebih besar karena melanda lebih banyak daerah. Padahal, bila pemerintah serius melakukan mitigasi bencana asap, kerugian tersebut dapat diminimalisasi.

Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana (UU No 24/ 2007 tentang Penanggulangan Bencana). Mitigasi merupakan bagian dari siklus manajemen bencana, baik bencana alam, maupun karena ulah manusia. Namun, selama ini aspek mitigasi bencana lebih banyak dilakukan pada bencana alam, seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, dan longsor.

Dalam penjelasan UU Penanggulangan Bencana disebutkan, kebakaran hutan atau lahan merupakan salah satu potensi bencana yang disebabkan faktor alam maupun nonalam (faktor manusia). Berbagai studi dan analisis yang dilakukan pihak berkompeten, baik lembaga pemerintahan maupun organisasi nasional dan internasional juga menyimpulkan bahwa hampir 100 persen kebakaran hutan dan lahan di Indonesia disebabkan oleh perbuatan manusia (Syaufina, 2008).

Melihat karakteristik karhutla dan potensi kerugian yang ditimbulkan maka mitigasi bencana asap merupakan kebutuhan mendesak. Mitigasi ini harus menjadi kebijakan aktif yang dikelola secara nasional dan lintas sektoral. Kegiatannya berupa penyuluhan dan sosialisasi pencegahan karhutla, peningkatan penegakan hukum, meningkatkan modal sosial dan partisipasi masyarakat, pembuatan kanal dan embung, dan sebagainya.

Mitigasi dalam manajemen bencana termasuk ke dalam fase pengurangan risiko prabencana. Pada fase ini dilakukan tindakan pengurangan risiko jangka panjang. Untuk kasus bencana karhutla, upaya mitigasi masih belum efektif karena tidak ada lembaga khusus penanggulangan karhutla. Saat ini, baru melalui satuan-satuan tugas. Akibatnya, bencana asap yang melanda Indonesia sejak 1997 itu dari tahun ke tahun semakin parah.

Melihat potensi bencana karhutla sudah selayaknya pemerintah membentuk lembaga khusus untuk menanggulangi karhutla. Hal ini cukup realistis bila melihat potensi bencana karhutla di Indonesia yang umumnya melanda kawasan gambut, perkebunan, dan hutan. Saat ini, baru Sumatra dan Kalimantan. Ke depan, berpotensi melanda Sulawesi dan Papua seiring pengembangan kawasan perkebunan di daerah tersebut.

Selain itu, karhutla merupakan bencana dengan karakteristik berbeda dibanding bencana lainnya. Hal ini karena melibatkan banyak pemangku kepentingan terkait kehutanan, lingkungan, perkebunan, hingga penegakan hukum. Institusi yang terlibat dalam penanganannya pun lintas sektoral.

Penelitian Olsen dkk (2014) tentang penanganan bencana asap akibat kebakaran hutan di Amerika Serikat yang dipubliksikan di jurnal Environmental Management juga menemukan permasalahan sama, yaitu perlunya meningkatkan komunikasi antarlembaga, intralembaga, dan masyarakat. Prioritas utamanya adalah komunikasi antarlembaga yang berhubungan dengan kebakaran dan alokasi sumber daya lembaga untuk kegiatan mitigasi. Selain itu, perlu membangun jejaring sosial di masyarakat dan membangun hubungan jangka panjang antara pemerintah dan masyarakat.

Dengan adanya lembaga khusus ini, diharapkan sistem birokrasi, koordinasi, dan penegakan hukum karhutla semakin baik. Lembaga itu juga dapat mengatasi lambannya kepala daerah dalam mengatasi bencana asap. Menunggu parah baru minta bantuan ke pusat. Bahkan, Presiden pun harus turun tangan mengatasi bencana asap karena banyak kepala daerah gengsi dan ragu-ragu menyatakan darurat asap.

Selain penguatan kelembagaan, mitigasi bencana asap harus melibatkan masyarakat di lokasi rawan karhutla. Revitalisasi Masyarakat Peduli Api (MPA) untuk pencegahan karhutla bisa menjadi salah satu solusi kegiatan mitigasi. MPA merupakan kelompok masyarakat yang diberdayakan dalam pengendalian karhutla. Tugasnya, antara lain, melakukan penyuluhan pencegahan kahutla, pemadaman dini, serta memberikan informasi kepada pihak berwenang terkait kejadian karhutla dan pelakunya.

Beberapa daerah sebenarnya memiliki MPA yang tersebar di desa rawan karhutla. MPA ini umumnya bentukan berbagai instansi pemerintah, perusahaan, dan LSM. Namun, tidak semua MPA berfungsi. Banyak yang dibentuk hanya berdasarkan proyek, kepentingan jangka pendek, dan tidak mendapat pendampingan berkelanjutan. Padahal, MPA merupakan garda terdepan pencegahan karhutla.

Belum maksimalnya pemberdayaan MPA disebabkan kurangnya koordinasi lintas sektoral di pusat dan daerah, sehingga pembinaan dan pendampingan MPA belum merata. Bahkan, di Riau terdapat kasus, anggota MPA yang melakukan pemadaman dini di lokasi kebakaran lahan malah ditangkap aparat keamanan. Untuk itu, dalam merevitalisasi MPA perlu dilakukan beberapa langkah.

Pertama, penguatan kelembagaan yang didukung oleh regulasi untuk memberikan perlindungan hukum dan jaminan sosial kepada anggota MPA. Kedua, membangun jejaring pendampingan MPA yang melibatkan pemerintah, swasta, dan LSM.

Ketiga, mengoptimalkan alokasi kegiatan corporate social responsibility (CSR) perusahaan perkebunan dan kehutanan untuk MPA. Keempat, memberikan insentif kepada MPA melalui kegiatan ekonomi produktif.

Penguatan kelembagan dan revitalisasi MPA di atas merupakan faktor penting dalam mitigasi bencana asap. Sebab, karhutla merupakan bencana yang dapat diprediksi kejadiannya, setiap musim kemarau dan El Nino. Upaya mitigasinya tidak cukup mengandalkan pemerintah, tapi perlu melibatkan banyak pihak, terutama masyarakat. (*)

Dimuat di REPUBLIKA, Selasa, 15 September 2015

Sunday, September 20, 2015
Posted by badri
Tag :

Revitalisasi Masyarakat Peduli Api


Foto: gurindam12.co
Oleh M Badri

Penyelesaian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau masih jauh panggang dari api. Indikasinya, setiap musim kemarau kasus karhutla terus terjadi. Misalnya dalam beberapa hari terakhir, kabut asap semakin pekat dan kualitas udara terus memburuk. Dampaknya juga masih sama, mengganggu kegiatan pendidikan, perekonomian dan transportasi. Melihat realitas ini, sudah saatnya pemerintah merevitalisasi Masyarakat Peduli Api (MPA) untuk melakukan pencegahan.

Hal itu penting dilakukan agar upaya pemerintah melakukan pemadaman karhutla tidak hanya menjadi kebijakan reaktif. Karena tidak sedikit anggaran yang harus dikeluarkan untuk pemadaman karhutla, baik konvensional, bom air, maupun menciptakan hujan buatan dengan teknologi modifikasi cuaca. Logikanya, mencegah lebih baik daripada memadamkan.

Berkaca dari kasus karhutla 2014 lalu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) harus mengeluarkan dana hingga Rp355 miliar untuk mengatasi karhutla yang sebagian besar terpakai untuk menanggulangi karhutla di Riau. Pada kebakaran 26 Februari-4 April 2014, BNPB menghabiskan dana Rp134 miliar. Tahun sebelumnya bencana asap menelan dana Rp103 miliar. Meski biayanya besar, mau tidak mau BNPB harus keluar dana karena bencana tersebut bisa berdampak luas pada masyarakat (riaupos.co, 26 Juni 2014).

Alokasi dana untuk mengatasi karhutla yang mencapai ratusan miliar itu baru dari BNPB. Belum termasuk anggaran yang dikeluarkan Pemprov Riau maupun Pemkab/ Pemko di Riau yang daerahnya dilanda bencana karhutla. Ratusan miliar anggaran yang digunakan untuk pemadaman api seharusnya dapat dikurangi, bila pemerintah serius memberdayakan masyarakat di sekitar kawasan rawan karthutla.

Pentingnya pemberdayaan masyarakat melalui pembentukan kelompok MPA ini cukup logis dan ilmiah. MPA menurut Peraturan Dirjen PHKA Kemenhut No: P. 2/IV-SET/2014 yaitu masyarakat yang secara sukarela peduli terhadap pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang telah dilatih/ diberi pembekalan serta dapat diberdayakan untuk membantu kegiatan pengendalian kebakaran hutan.

Dimana tugas MPA antara lain memberikan informasi kepada pihak berwenang terkait kejadian kebakaran dan pelaku pembakaran, menyebarluaskan informasi peringkat bahaya kebakaran hutan dan lahan, melakukan penyuluhan secara mandiri atau bersama-sama dengan petugas, serta melakukan pertemuan secara rutin dalam rangka penguatan kelembagaan.

Pembentukan MPA penting dilakukan karena dalam UU No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana disebutkan bahwa bencana kebakaran hutan dan lahan merupakan salah satu potensi bencana yang disebabkan oleh faktor alam maupun nonalam (faktor manusia). Apalagi studi dan analisis yang dilakukan oleh berbagai pihak berkompeten, baik lembaga pemerintahan maupun organisasi-organisasi nasional dan internasional menyimpulkan bahwa hampir 100 persen kebakaran hutan dan lahan di Indonesia disebabkan oleh perbuatan manusia (Syaufina, 2008).

Penguatan MPA
Saat ini di Provinsi Riau sebenarnya sudah terdapat puluhan, bahkan mungkin lebih 100-an MPA. Kelompok tersebut umumnya merupakan hasil binaan dari berbagai instansi pemerintah, perusahaan perkebunan dan kehutanan, dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Namun tidak semua MPA menjalankan fungsinya dengan baik dalam pencegahan karhutla. Banyak MPA yang dibentuk hanya berdasarkan kepentingan jangka pendek dan tidak melalui proses pendampingan secara berkesinambungan.

Sedikitnya kelompok MPA yang berfungsi, antara lain terlihat dari hasil Focus Group Discussion (FGD) tentang pemaksimalan peran MPA yang difasilitasi Yayasan Mitra Insani, akhir April 2015 lalu. Dimana dari puluhan kelompok MPA di Riau, hanya beberapa MPA yang bisa dijadikan percontohan. Misalnya MPA Desa Harapan Jaya (Inhil), MPA Desa Tanjung Leban dan Desa Sepahat (Bengkalis), serta MPA Desa Pelintung (Dumai).

Tidak adanya pendampingan secara holistik menyebabkan keberadaan MPA hanya sekadar nama. Padahal sejatinya MPA merupakan garda terdepan dalam pencegahan karhutla yang ada di wilayahnya. Secara spesifik revitalisasi MPA dapat dilakukan melalui:

Pertama, penguatan kelembagaan MPA dengan membuat regulasi terpadu secara nasional tentang MPA dan lembaga-lembaga terkait di dalamnya. Hal ini diperlukan untuk mengatur sistem koordinasi, memberikan perlindungan hukum dan jaminan sosial ekonomi kepada anggota MPA. Sebab terdapat kasus, MPA yang menjalankan tugas pencegahan karhutla berbenturan dengan kepentingan pengusaha dan aparat.

Kedua, memberikan pelatihan teknis pemadaman api. Kegiatan ini dapat melibatkan instansi pemerintah maupun perusahaan yang memiliki kompetensi dalam pemadaman api. Teknis pemadaman dini perlu dilakukan agar api tidak membesar dan menyebar secara masif. Pelatihan ini juga harus dibarengi dengan pemberian bantuan peralatan dan perlengkapan yang memadai.

Ketiga, memberikan pelatihan dan pendampingan strategi komunikasi pencegahan karhutla. Aspek komunikasi ini penting dikuasai MPA, sebab pencegahan juga identik dengan kegiatan sosialisasi, penyuluhan, maupun penyadaran masyarakat. Dalam konteks ini, selain kemampuan komunikasi interpersonal dan kelompok, MPA perlu menguasai penggunaan media komunikasi, baik media sosial, media massa, maupun media rakyat.

Keempat, memberikan insentif sebagai pengganti tenaga dan waktu anggota MPA yang mereka alokasikan untuk pencegahan karhutla. Insentif tersebut dapat berupa insentif langsung maupun pengembangan usaha produktif bagi keluarga anggota MPA. Bila kelompok MPA sejahtera secara ekonomi maka mereka dapat lebih fokus dalam menjalankan tugasnya.

Revitalisasi MPA di Provinsi Riau sudah mendesak dilakukan. Sebab karhutla merupakan bencana yang dapat diprediksi kejadiannya, yaitu setiap musim kemarau panjang. Dimana dalam manajemen bencana terdapat fase pengurangan risiko pra-bencana, yang meliputi mitigasi dan kesiapan. Dalam fase itulah MPA memiliki peran penting untuk melakukan pencegahan. Sehingga dampak bencana karhutla dapat diminimalisir. (*)

Dimuat di Riau Pos, Kamis, 3 September 2015
Thursday, September 10, 2015
Posted by badri
Tag :

Mengubah Energi Sosial Menjadi Energi Listrik


Ilustrasi: wealthartisan.com/
Membincangkan PLN (Persero) tidak akan jauh-jauh dari persoalan energi. Perusahaan listrik andalan Indonesia ini, sejak 69 tahun lalu sudah menghasilkan energi listrik dari berbagai sumber, mulai tenaga air, disel, uap, gas, panas bumi, dan sebagainya. Aliran listrik PLN pun sudah menyebar ke seantero nusantara. Meskipun belum menjangkau seluruh lapisan masyarakat, setidaknya rasio elektrifikasi nasional terus meningkat mencapai hampir 80 persen.

Thursday, October 16, 2014
Posted by badri
Tag :

Nostalgia Tanah Kelahiran

Sewindu sudah lamanya waktu
Tinggalkan tanah kelahiranku
Rinduku tebal kasih yang kekal
Detik ke detik bertambah tebal

Pagi yang kutelusuri riuh tak bernyanyi
Malam yang aku jalani sepi tak berarti
Saat kereta mulai berjalan
Rinduku tebal tak tertahankan

.....

Cukup sampai bait itu, lirik lagu “Rindu Tebal” Iwan Fals yang mewakili kerinduan saya pada tanah kelahiran. Memang sudah sewindu saya tidak pulang, mengunjungi saudara dan kerabat. Juga teman-teman semasa SMA. Terakhir ke sana pada medio 2006 lalu, saat menghadiri pernikahan adik bungsu. Mafhum saja, hingga kini saya menetap di Pekanbaru bersama keluarga kecil. Kedua orangtua pun, sejak pertengahan 1980-an juga memutuskan untuk menetap di Riau. Menjadi warga Kuantan Singingi, bahkan sejak belum dimekarkan dari Kabupaten Indragiri Hulu. Maka, perjalanan ke tanah kelahiran tak lebih dari sebuah nostalgia. Menapaki jejak masa lalu, menziarahi para pendahulu.

Stasiun Pasar Senen
Kereta Matarmaja belakangan ini semakin populer, sehingga teramat sulit mendapatkan tiket. Setidaknya kita harus booking online dulu dua minggu sebelumnya, itu pun hanya sisa beberapa kursi. Bukan hanya karena harganya yang murah (Rp 65 ribu), tetapi kereta ekonomi bersubsidi itu menjadi andalan para backpacker dan pendaki gunung yang hendak bertualang ke Jawa Timur. Apalagi setelah film “5 cm” ikut mempopulerkan Matarmaja, maka kereta berkelir orange itu bak selebriti dunia transportasi. Tak heran kalau dalam setiap gerbong pasti terdapat penumpang menggendong carrier. Bukan hanya backpacker lokal, tapi juga mancanegara.

Selasa (2/9/2014) sore itu pun, saya masuk ke dalam Gerbong 8 No. 22 A. Meski kelas ekonomi, suasananya jauh berbeda dengan beberapa tahun lalu. Tanpa riuh pedagang asongan dan penumpang tanpa kursi. Reformasi manajemen yang dilakukan Ignasius Jonan menjadikan kereta api sebagai angkutan yang tertib dan nyaman. Pada pukul 15.35 kereta mulai merangkak pelan-pelan, setelah peluit panjang memecah kesunyian peron stasiun. Terlambat 20 menit dari jadwal semula, tapi masih wajar kalau dibanding keterlambatan pesawat terbang yang bisa berkali lipat.

Saya menyukai perjalanan kereta api, karena sepanjang jalur yang dilalui dapat menikmati pemandangan indah. Hamparan sawah hijau baru ditanam. Padi menguning siap panen yang memanjakan senja. Para petani yang mengabdikan diri untuk memenuhi kebutuhan beras rakyat Indonesia. Meskipun hasilnya hanya cukup memenuhi kebutuhan dasar keluarganya, mereka tetap setia menanam di tengah ancaman pangan impor dan politisasi beras yang kadang mengorbankan bangsa sendiri.

Ah sudahlah, lebih baik menikmati perjalanan panjang hampir 13 jam. Mendengarkan irama balada Franky dan Jane Sahilatua. Sesekali terganggu suara peluit kereta, dengkur penumpang dan deru lokomotif. Banyak pengalaman sepanjang perjalanan, tentang tingkah manusia, tapi tidak menarik untuk diceritakan di sini. Biarlah berlalu bersama kereta yang terus berjalan menuju ke timur.

Mbah di depan rumah dengan view sawah
Dusun Butun
Subuh baru saja berlalu, ketika saya sampai di depan pintu rumah nenek. Rumah yang antara tahun 1995-1998 lalu saya tinggali untuk menimba ilmu di SMAN 1 Talun. Masih seperti dulu. Tak ada perubahan berarti. Warna catnya masih sama, yang dulu juga, namun terlihat lebih kusam. Rumah besar itu kini sepi, hanya ditinggali nenek dan seorang paman. Terlebih setelah kakek meninggal lebih sewindu lalu. Diikuti paman bungsu yang berpulang karena kecelakaan lalu lintas. Maka kesunyian pun menyapa pada pagi buta.

Rumah itu berada persis di depan hamparan sawah yang membentang sejauh hampir dua kilometer. Saat saya ke sana masih hijau dan menyejukkan mata. Di rumah itu, biasanya saya betah berlama-lama duduk di beranda. Memandangi bentang alam yang indah. Melihat petani hilir mudik. Apalagi kalau sore, daun-daun padi yang tersaput cahaya senja menjadi seperti sebuah lukisan. Hawa dingin yang terbawa angin dari sawah menyajikan kedamaian khas pedesaan.

Rumah mbah (kiri) dilihat dari sawah
Dusun Butun, secara geografis berada di Desa Butun, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar. Dusun kecil itu berada di ujung kaki sebelah selatan Gunung Kelud, yang meletus Februari 2014 lalu. Tapi karena arah anginnya menuju barat, dusun asri itu tidak terkena dampaknya. Hanya abu tipis yang seketika hilang ditiup angin. Tak ada jejak letusan. Juga nyaris tak ada jejak perubahan seperti sewindu sebelumnya. Saya masih bisa menandai perumahan, jalan dan jembatan, seperti dulu. Hanya penduduknya yang berubah karena bertambahnya usia. Selebihnya masih sama.

Saya betah berlama-lama di rumah. Tentunya sambil menikmati semilir angin dari persawahan. Sambil minum kopi lokal, mencecap suasana yang jarang saya temui. Perpaduan sejuknya pedesaan dan hangatnya sikap kekeluargaan penduduknya. Dalam kesederhanaan, mereka hidup tentram dan damai. Bertani padi atau palawija. Sebagian membudidayakan ikan. Mulai ikan konsumsi hingga ikan hias jenis Koi. Bahkan Koi asal Blitar paling terkenal di Indonesia. Corak warnanya indah, harganya relatif murah. Tak heran kalau seorang sahabat yang kini menjadi peternak Koi sukses, bercerita sering mengirim ikan hias asal Jepang tersebut ke Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.

Jalan menuju TPU
Selain bernostalgia dengan keluarga dan sahabat lama, saya juga menyempatkan diri untuk berziarah. Mengirim doa-doa sederhana di pemakaman desa yang berada di tengah sawah. Melewati jalan tanah yang dipagari pohon-pohon asam besar di kiri kanannya. Di pemakaman itu, bersemayam jasad almarhum buyut, kakek, nenek, abang (meninggal saat balita), paman dan sebagian keluarga. Maka senja itu, saya menziarahi sejarah dan silsilah. Di antara harum kamboja dan kapuk yang beterbangan dari pohon randu.

Stand almamater
Kota Wlingi
Wlingi adalah kota kecamatan yang dekat dengan tanah kelahiran saya. Jaraknya hampir sama dengan Kecamatan Gandusari yang sebenarnya menjadi kecamatan Desa Butun. Tapi saya lebih suka ke Wlingi, karena menjadi jalur penghubung Blitar dengan Malang, sehingga lebih ramai. Saat saya berkunjung ke sana, kebetulan sedang ada pameran pembangunan dan pameran lingkungan hidup di taman kota yang sejuk dan asri. Dan kebetulan juga, di sana ada stand SMAN 1 Talun, almamater saya dulu.

Bersama teman-teman SMA
Selama pulang, saya beberapa kali mengunjungi Wlingi, untuk suatu keperluan, atau sekadar lewat. Kota kecil itu dulu menjadi salah satu tempat bermain saya. Di kota itu juga saya kemudian bernostalgia dengan beberapa teman SMA yang kebetulan masih berada di sana. Sebuah pertemuan untuk menyambung persahabatan, sebab setelah tamat SMA tahun 1998, baru kali ini saya kembali berkumpul bersama mereka.

Pada suatu malam, kami sepakat untuk bertemu di rumah keluarga Heri Wibowo dan Ani di Gurit, Wlingi. Keduanya adalah teman kami waktu SMA. Di sana beberapa teman sudah menunggu, seperti Agus Kliwir, Ariade dan Bambang Darmawan. Setelah bertukar cerita dan bercanda ria, kami segera meluncur ke kafe Mr. Kreebo di kawasan Beru, Wlingi. Di kafe  yang terletak di jalan raya Blitar-Malang itu, kami kemudian mengundang sejumlah teman lainnya yang kebetulan tempat tinggalnya tidak jauh. Datanglah M Agus Purwantoro, Didik, dan Edy Ardianto.

Taman kota di Wlingi
Sambil menikmati kopi dan alunan musik yang hits tahun 1990-an, kami berkelakar menceritakan keluguan, kelucuan dan kenakalan masing-masing pada masa lalu. Persahabatan memang tidak akan lekang oleh waktu. Meski kami sudah menjalani kehidupan masing-masing, pindah ke berbagai pulau dan negara, sesekali kami masih bisa berkomunikasi dengan bantuan teknologi. Terutama melalui jejaring sosial buatan pemuda kriwil Zuckerberg. Kalau kebetulan ada yang pulang ke Blitar, kami menyempatkan untuk berkumpul, meski hanya bisa dihadiri beberapa orang.

Alun-alun Kota Blitar
Kota Blitar
Pulang ke tanah kelahiran, tidak lengkap kalau tidak main ke Kota Blitar. Kota di selatan Pulau Jawa yang terkenal karena sebagai lokasi peristirahatan terakhir tokoh Proklamator Kemerdekaan, Bung Karno. Saya sengaja menuju kota itu menggunakan angkutan umum. Seperti dulu, saya menunggu bus Bagong yang legendaris. Bus trayek Malang-Blitar PP yang terkenal suka kebut-kebutan. Sopir bus tiga perempat berbodi agak tambun itu, masih juga seperti dulu: ugal-ugalan . Di jalanan mereka seperti sopir Medan, tapi yang ini malah tanpa huruf ‘M’. Tapi itulah yang bikin tenar bus Bagong. Raja jalanan, bus favorit saat SMA dulu.

Bus Bagong
Saya menjelajahi beberapa sudut Kota Blitar. Mulai Terminal Bus Patria, kemudian ke Stasiun Kota Blitar. Istirahat sejenak di alun-alun kota, sambil menghilangkan dahaga dengan es pleret. Kemudian juga menikmati kulinernya yang terkenal: nasi pecel. Saya keliling Kota Blitar berjalan kaki, menelusuri beberapa jalan dengan panduan Google Maps. Kalau dikalkulasi, perjalanan saya mengelilingi kota selama beberapa jam itu, mungkin lebih 10 kilometer.

Sebagian koleksi perpustakaan Bung Karno
Akhir perjalanan saya di Kota Blitar tentunya ke komplek Makam Bung Karno yang berada di Jl. Ir. Soekarno, Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, sekitar 2,5 km sebelah utara pusat Kota Blitar. Tentunya saya berjalan kaki ke sana, sambil menikmati landmark kota di tengah teriknya cuaca. Di kompleks pemakaman tersebut terdapat perpustakaan dua lantai yang cukup megah dan modern, ornamen relief dan patung, galeri lukisan dan foto bernuansa Bung Karno, dan tentunya makam sang Proklamator. Sementara di sisi kompleks pemakanan, berjejer ratusan pedagang kerajinan dan oleh-oleh khas Blitar.

Kuliner
Tak lengkap mengunjungi Kota Blitar kalau tidak menikmati kulinernya yang khas. Apalagi kalau bukan nasi pecel. Di Blitar saya menikmati aneka pecel dan minuman tradisional. Pertama adalah pecel tumpang. Warung sederhana penjual pecel tumpang ini saya temui di gang kecil dan sepi di tepi rel kereta antara Pasar Legi Blitar dengan stasiun. Saya lupa namanya, tapi di kanan kiri gang terdapat banyak penjual bunga dan tanaman hias. Menelusuri gang itu seperti melewati perkebunan di tengah kota, bersih dan indah.

Kuliner Kota Blitar
Warung makan pecel tumpang itu sederhana, tapai ramai pengunjung. Berdasarkan pengalaman, warung yang ramai biasanya makanannya enak dan murah. Langkah kaki saya pun otomatis berbelok ke kanan, menuju salah satu pintu warung. Pecel tumpang menjadi pilihan. Nasi pecel berisi kacang panjang, toge, bayam, mentimun dan kemangi disiram dengan sambel tumpang, yaitu sambal berbahan olahan tempe. Lauknya peyek, tempe dan entah gorengan apa lagi. Makanan sederhana yang sehat dan nikmat. Nasi pecel tumpang plus gorengan dan segelas teh manis hanya Rp 7.500.

Berikutnya warung pecel Mbok Bari yang terletak di tepi jalan utama dekat kompleks makam Bung Karno. Warung pecel itu lumayan terkenal dan ramai dikunjungi wisatawan. Warung itu juga menyajikan nasi ramas dengan beragam lauk-pauk. Tapi misi kuliner saya tetap satu: nasi pecel. Sambel pecel di warung ini lumayan ajib, berbeda dengan sambel pecel lainnya. Sayuran yang digunakan hampir sama, cuma ada tambahan kecipir. Tak heran kalau warung ini termasuk legendaris karena berdiri sejak tahun 1964. Di sini harga nasi pecel plus tahu tempe Rp 10.000.  

Nasi pecel berikutnya adalah pecel pincuk, yang saya temukan suatu pagi di Desa Jajar, tepi jalan raya yang menghubungkan Talun-Gandusari. Komposisi pecel pincuk tidak jauh berbeda dengan pecel lainnya, hanya penyajiannya yang berbeda, yaitu beralaskan daun pisang yang dipincuk alias dilipat menjadi kerucut.  Karena berada di desa, harga pecel pincuk plus dawet beras (dawet campur bubur beras) cukup murah, hanya Rp 7.000.

Kuliner Kota Blitar
Selain nasi pecel, saya tidak melewatkan sate kambing dan becek di Pasar Wlingi. Warung sate di sisi utara pasar tersebut menjadi langganan kedua orangtua kalau kebetulan pulang ke Blitar. Becek adalah sebutan untuk gulai kambing yang dicampur dengan nasi. Rasanya gurih, apalagi kalau dinikmati dengan sate kambing muda yang dibakar dengan bumbu khasnya. Sepiring becek plus 10 tusuk sate dan teh manis saya tebus dengan harga Rp 31.000.

Pulang ke tanah kelahiran belum sah kalau tidak menikmati aneka masakan uceng di Warung Sukaria, Babadan, Wlingi. Warung ini cukup terkenal dan sering terlihat di acara wisata dan kuliner berbagai stasiun televisi nasional. Dinding warung yang cukup luas itu, dihiasi foto beberapa artis ibukota yang pernah berkunjung. Tapi saya tak hafal namanya satu per satu. Hal itu membuktikan bahwa warung yang berada di pinggir kampung tersebut cukup tersohor di kalangan pecinta kuliner. Menu andalannya adalah uceng, ikan endemik yang hanya ada di beberapa sungai di sekitar kawasan Wlingi. Terutama kali Lekso yang membelah kota Wlingi menjadi timur dan barat. Di warung itu, uceng diolah menjadi sayur, lalapan dan peyek. Harganya juga lumayan bersahabat, seporsi sayur uceng, peyek uceng dan udang, serta air mineral Rp 25.000.

Setelah makanan, ada beberapa minuman yang bisa dibilang asli dari Blitar. Selain dawet beras, minuman yang cukup terkenal dan bikin kangen adalah dawet srabi, yaitu es dawet alias cendol yang dicampur dengan kue srabi. Harga semangkuk dawet srabi rata-rata Rp 2.500. Selain itu juga ada es pleret, yaitu es cendol bercampur bola-bola kecil dari tepung yang disebut pleret. Penjual es pleret banyak dijumpai di sekitar alun-alun Kota Blitar. Harga satu gelas umumnya Rp 2.500. Minuman lainnya yang saya jumpai es aneka jamu, mulai beras kencur, kunyit asem, dan sebagainya. Penjual es jamu banyak dijumpai di Kota Blitar dengan harga jual per gelas rata-rata juga Rp. 2.500.

Itu hanya sebagian kecil dari kuliner khas kota itu yang sempat kembali saya nikmati. Masih banyak kuliner lain yang tidak kalah nikmat, seperti rujak uleg, rawon, soto, dan sebagainya. Ada juga jajanan khas, seperti opak gambir, kerupuk gadung, wajik kletik dan lain-lain. Karena keterbatasan waktu saya tidak sempat mengeksplorasi semua kuliner tanah kelahiran. Selain tentunya karena faktor W tubuh yang semakin tidak bersahabat setelah beberapa bulan tidak melakukan pendakian gunung.

Stasiun Wlingi
Senja baru saja merayap. Stasiun kecil itu perlahan-lahan tertutup gelap. Dari jauh peluit kereta memecah keheningan peron. Minggu (7/9/2004) tepat pukul 18.32 kereta Matarmaja tiba dari Malang. Hanya berhenti beberapa menit. Menyedot beberapa penumpang yang hendak pergi ke Jakarta. Tak perlu menunggu lama, saya pun segera masuk ke dalam gerbong. Dilepas lambaian tangan paman. Kereta kemudian bergerak pelan-pelan. Membawa saya meninggalkan tanah kelahiran. (*)
Friday, September 19, 2014
Posted by badri
Tag :

Banalitas Politik di Media Sosial

Oleh M Badri

Konstelasi perpolitikan Indonesia semakin memanas menjelang pemilihan pilpres 2014. Terutama setelah publik mengetahui kandidat yang bertarung hanya dua pasang, Jokowi-Jusuf Kalla dan Prabowo-Hatta Rajasa. Dengan demikian konsentrasi dukungan publik mengerucut pada dua pasangan tersebut. Apalagi keduanya juga memiliki pendukung fanatik. Tidak hanya di dunia nyata, media sosial pun menjadi ajang ‘perang’ kedua kelompok pendukung.
Wednesday, June 04, 2014
Posted by badri
Tag :

Tiga Belas Jam di Baduy Dalam


Malam baru saja merayap. Samar-samar kami mulai melihat siluet gubuk-gubuk bambu leuit. Lumbung padi tradisional itu berjejer rapi di tepi hutan. Aroma kehidupan segera tercium dari kejauhan. Berpadu dengan harum lumpur dan dedaunan basah. Senja yang mistis. Hening berbaur dengan suara hewan nokturnal yang mulai keluar sarang. Setelah melalui jembatan bambu dengan air sungainya yang deras, kami sampai di perkampungan itu.

Warga Kampung Cibeo yang dihuni suku Baduy Dalam segera menyambut dengan ramah. Jauh dari kesan kaku dan seram. Seperti persepsi kebanyakan warga kota terhadap suku-suku pedalaman. Salah satu warga Baduy, dengan ramah mengantar kami mencari rumah tempat bermalam. Dalam gelap, kami mengikuti gerak kakinya yang lincah menjejak batu-batu di jalan setapak mengitari rumah-rumah warga. Tak ada penerangan memadai. Hanya lampu minyak dan lilin yang samar-samar menerangi perkampungan.

Hap! Setelah melompati batu terakhir, akhirnya rumah yang dituju terlihat juga. Sebuah rumah panggung dari bambu, berlantai kayu. Di sana beberapa rekan kami yang lebih dulu tiba sudah menunggu. Pak Fajrid, pemilik rumah mempersilahkan kami masuk. Dua anak kecilnya nongol dari balik bilik. Mereka tersenyum ramah. Bahasa tubuhnya menyiratkan persahabatan.

“Kalau mau bersih-bersih silahkan ke sungai,” kata pemilik rumah, sambil menunjuk ke arah suara gemericik air yang terlindung sebuah pohon besar. Terlihat seram dan gelap. Sungai itu juga terlindung rumpun bambu. Setelah istirahat sejenak saya pun segera menuju sungai. Melalui jalan setapak yang sepi.

Sungai di Kampung Cibeo itu mengalir lembut setinggi lutut. Airnya bersih dan sejuk. Meskipun hujan baru saja mengguyur perkampungan. Mandi di sungai berbatu menjadi sensasi luar biasa. Tak ada sampah dan benda pencemar. Sifat alaminya menyatu dengan kehidupan penduduknya yang bersahaja.

“Mandi, Kang?” tiba-tiba saya dikejutkan oleh suara orang yang baru muncul dari kegelapan. Sambil membawa sebatang lilin, ia menuruni tangga batu menuju dasar sungai. Setelah melepas ikat kepala dan pakaian, ia segera menyeburkan diri. Namanya Pak An, warga kampung itu juga.
Setelah kenalan dan basa-basi sebentar, ia pun berbagi bercerita. Seperti kebanyakan warga Baduy Dalam, mereka senang menceritakan kampung halamannya. Sungai itu bersih dan segar karena memang penduduk menjaganya. Ada aturan adat tidak boleh mengotori lingkungan. Aturan itu juga berlaku bagi para pendatang.

“Di sini tidak boleh pakai sabun dan sampo,” katanya. Persis seperti yang disampaikan pemandu perjalanan kami ke Baduy Dalam. Memang kedua perlengkapan mandi itu, plus pasta gigi diharamkan di kawasan itu. Mandi cukup dengan menyiram  air ke tubuh. Harum sumber air alami sudah cukup menyegarkan. Apalagi di sekitar sungai tumbuh kembang-kembang liar nan wangi.
Dari cerita Pak An, sungai itu sendiri dibagi menjadi tiga kawasan. Kawasan untuk warga biasa ada di bawah. Salah satunya tempat kami mandi. Di atasnya ada kawasan untuk Jaro (pemimpin pemerintahan) dan keluarganya. Semakin ke hulu diperuntukkan untuk Pu’un (pemimpin adat) dan keluarganya.

“Saya duluan ya, Kang,” katanya ramah, sambil bergegas beranjak dari sungai. Tapi saya yang sudah belasan tahun tidak merasakan berendam di sungai, masih ingin berlama-lama di sana. Berendam sambil memandangi bintang-bintang yang meramaikan dirgantara. Juga bulan yang membagikan cahayanya melalui celah daun-daun bambu.

Segarnya air sungai Kampung Cibeo menghilangkan lelah dan penat 10 jam perjalanan. Bermula dari stasiun Tanahabang, sekitar pukul 07.30 kami berangkat dengan kereta api yang merangkak pelan-pelan menuju stasiun Rangkasbitung, Lebak, Banten. Perjalanan dilanjutkan dengan angkutan minibus menuju Ciboleger, desa terluar sebelum masuk ke perkampuangan suku Baduy.

Setelah  istirahat dan memenuhi kebutuhan logistik, sekitar jam 13.00 kami mulai berjalan kaki melewati perkampungan suku Baduy Luar. Baru beberapa langkah, hujan mengguyur deras. Tapi kami tetap melanjutkan perjalanan, karena tidak ingin kemalaman di jalan. Sebab medan menuju perkampungan suku Baduy Dalam cukup berat. Melalui jalan setapak yang licin dan berlumpur kala hujan. Jalurnya naik turun dengan terjal. Membelah punggung bukit dan lembah.

Memang, dari sejumlah literatur yang pernah saya baca, masyarakat Baduy Dalam merupakan salah satu suku yang hidupnya masih terasing atau mengasingkan diri dari keramaian. Mereka tidak mau tersentuh oleh kegiatan pembangunan. Praktis perkampungan tersebut tidak teraliri listrik, tidak memiliki  fasilitas kesehatan dan pendidikan formal, apalagi  sarana transportasi. Permukiman penduduknya juga sangat sederhana. Mereka bermukim di bagian dalam atau hulu Sungai Ciujung. Ada tiga kampung yang mereka tinggali, yaitu Cikeusik, Cikawartana dan Cibeo. Mereka tidak pernah menambah jumlah kampung.
***

Malam mulai larut. Binatang nokturnal semakin riang mengeluarkan bunyi-bunyian dari tempat persembunyiannya. Menciptakan harmoni irama alam yang merdu. Kerlap-kerlip lampu minyak dan lilin di rumah-rumah warga, berbaur dengan cahaya kunang-kunang yang rajin mengitari permukiman. Malam yang eksotis. Apalagi  di langit bulan terang diapit gugusan awan. Romantis bukan?

Malam itu, kami beruntung mendapat kesempatan berdialog dengan Jaro Sami. Kepala Kampung Cibeo itu, sudah menunggu di rumahnya yang sederhana. Saya dan puluhan pengunjung lainnya, segera berkumpul di beranda dan halaman rumahnya. Mencari posisi yang nyaman untuk duduk sambil mendengarkan berbagai cerita dari Jaro Sami. Tentang perkampungan dan sejarah Suku Baduy, yang selama ini hanya kami baca dari cerita-cerita di laman maya.

“Saya mengucapkan terimakasih kepada adik-adik yang sudah jauh-jauh datang mengunjungi perkampungan kami. Memang beginilah keadaannya, kampung kami sederhana,” kata Jaro Sami, memulai dialog. Tokoh kampung itu terlihat berwibawa. Suaranya datar tapi menggema. Wajahnya terlihat tegas dengan kumis dan jenggot tipis. Raut mukanya menunjukkan tanda seorang pemimpin yang disegani di komunitasnya.

Dari penuturan Jaro Sami, Suku Baduy merupakan bagian dari komunitas masyarakat Sunda. Mereka menganut keyakinan  Sunda Wiwitan, suatu kepercayaan yang lekat dengan suku Sunda masa lampau. Selain mempercayai keberadaan Tuhan, mereka mempercayai pikukuh nenek moyang. Aturan adat yang menjadi pedoman bagi aktivitas masyarakat Baduy Dalam. Mereka juga menjadikan alam sebagai sandaran kehidupan. Tidak heran kalau hidup mereka menyatu dengan alam raya.

“Kami sangat menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Tidak boleh merusak alam karena akan mengganggu keseimbangan kehidupan,” kata Jaro Sami dengan bijak. Perkataan itu, menyiratkan betapa mereka menjadi benteng terakhir perlindungan  alam dan lingkungan yang semakin rusak ini. Kearifan lokal yang mereka pertahankan dan wariskan turun-temurun, menjadikan komunitas tersebut bertahan dari gempuran kemajuan.

Untuk membedakan masyarakat Baduy Dalam dengan Baduy Luar cukup mudah. Warga Baduy Dalam selalu berpakaian dan ikat kepala putih. Sedangkan Baduy Luar umumnya berpakaian hitam dan ikat kepala batik. Bila masyarakat Baduy Dalam tidak boleh menggunakan perangkat teknologi apa pun, tidak demikian Baduy Luar. Bahkan Baduy Luar sudah familiar dengan teknologi komunikasi modern.

Dalam beberapa tahun terakhir ini Baduy Dalam memang menjadi destinasi alternatif. Lingkungan perawan, magnet bagi wisatawan. Mengunjungi Baduy Dalam, pelancong mendapatkan tiga hal sekaligus. Pertama, wisata alam menjelajahi jalan setapak membelah perbukitan dan ladang-ladang. Kedua, wisata budaya melihat kearifan lokal dengan nilai-nilai tradisi yang masih dipertahankan. Ketiga, wisata spiritual menghayati harmoni manusia, lingkungan dan Sang Pencipta.

Kawasan Baduy Dalam memang terbuka bagi wisatawan. Kecuali pada bulan Kawalu, masa panen tiga bulan berturut-turut sekitar Februari hingga April, Baduy Dalam tertutup bagi orang luar. Sebab warga merayakannya dengan penuh khidmat dan khusyuk. Berdoa kepada Tuhan agar diberi rasa aman, damai dan kesejahteraan. Saya sendiri berkunjung tidak lama setelah Kawalu usai.

Tapi kehadiran wisatawan diakui Jaro Sami memberikan sedikit perubahan pada kehidupan masyarakat Baduy Dalam. Tetapi perubahan yang terjadi masih sebatas pada pola konsumsi. Tidak sampai pada adat istiadat yang sudah diwariskan oleh nenek moyang mereka. Misalnya pada pola makan, sebelum kehadiran wisatawan mereka mengkonsumsi produk hasil pertanian saja. Namun setelah ada wisatawan mereka mulai tertarik mengkonsumsi produk kemasan seperti kue, sarden, mi instan, dan sebagainya.

“Kalau kebiasaan makan memang ada perubahan. Kalau dulu kita tidak kenal kue tapi sekarang kita juga banyak makan makanan kemasan. Tapi kalau masalah pakaian dan adat-istiadat tidak ada perubahan dari dulu sampai sekarang,” kata Jaro Sami ketika saya tanya tentang kemungkinan terjadinya perubahan, akibat kerap dikunjungi wisatawan.

Selain pola konsumsi yang berubah, generasi muda mereka juga mulai banyak yang memahami Bahasa Indonesia. Terutama mereka yang sering ke luar kampung dan berinteraksi dengan dunia luar. “Belajarnya satu sama lain, tidak di sekolah,” Jaro Sami menjelaskan dengan Bahasa Indonesia yang fasih.

Di kampung itu sekolah formal memang masih menjadi sesuatu yang tabu. Bertentangan dengan aturan adat. Sehingga transfer pengetahuan hanya dilakukan secara informal. Saling belajar di antara mereka. Sekolah formal dikhawatirkan akan merusak tatanan adat yang telah moyang mereka bangun sejak dulu. Tapi mereka tidak bodoh. Daya tangkap mereka terhadap hal-hal baru sangat luar biasa. Mereka cepat menyerap informasi, tapi mampu menyaringnya. Pengetahuan yang tidak bertentangan dengan adat masih bisa mereka terima. Sebaliknya, hal-hal baru yang berpotensi merusak tatanan akan mereka hindari.

Dari beberapa cerita yang kami dengar, orang asing tidak boleh masuk kawasan Baduy Dalam. Baik selama di perjalanan maupun di perkampungan mereka, tidak sekalipun terlihat wajah bule dan oriental. “Memang warga asing tidak boleh sampai ke sini, mereka hanya boleh sampai Baduy Luar saja. Sudah dari dulu begitu, pantangan dari nenek moyang,” kata Jaro Sami menjawab pertanyaan penasaran salah seorang rekan kami.

Pantangan dari nenek moyang. Larangan adat. Kata itu sering kami dengar ketika bertanya tentang laku kehidupan mereka yang tidak biasa. Dua kata itu berarti selesai. Titik. Tidak boleh lagi diperdebatkan. Kalau sudah menyangkut pikukuh nenek moyang dan aturan adat, berarti sudah menyangkut harga diri dan nasib komunitas. Pelanggar pasti mendapat sanksi adat. Paling berat, dikeluarkan dari komunitas mereka. Diusir dari kampung dan tidak diakui sebagai warga Baduy Dalam. Lebih apes lagi, mereka bisa mendapat malapetaka.

Contoh kecil, mereka pergi ke mana-mana tidak boleh memakai alas kaki. Tidak boleh menumpang alat transportasi. Jika mereka melanggar akan mendapat sanksi adat yang berat. Dianggap murtad sebagai Baduy Dalam. Bahkan bisa celaka di perjalanan. “Pernah ada yang melanggar terus mengalami kecelakaan,” kata salah seorang warga.

Soal cinta juga sekarang menjadi masalah serius di kampung tersebut. Memang, suku Baduy Dalam hanya boleh melakukan perkawinan di antara mereka. Gadis Baduy Dalam tidak boleh kawin dengan suku Baduy Luar, apalagi pendatang. Mungkin itu salah satu cara untuk mempertahankan keberadaan komunitas mereka. Menjaga keluarga mereka dari kontaminasi budaya luar. Sehingga pikukuh nenek moyang masih bisa diwariskan turun-temurun.

“Tapi sekarang sudah agak longgar. Orang tua tidak bisa begitu saja menjodohkan anaknya. Anak-anak harus setuju kalau dijodohkan. Kalau tidak ya akan dicari pasangan lain yang cocok,” kata Jaro Sami.

Tapi untuk urusan kawin dengan sesama Baduy Dalam tidak bisa ditawar-tawar lagi. Kalau ada yang nekat kawin dengan orang luar, sama dengan melanggar adat dan keluar dari Baduy Dalam. Tidak boleh lagi tinggal di lingkungan tersebut. “Tapi ada juga satu dua yang melanggar. Namanya juga anak muda sekarang kalau sudah cinta bisa nekat,” Jaro Sami tersenyum sinis menceritakan perilaku sebagian kecil pemuda kampungnya.

Mungkin itu juga jawabannya, mengapa kami tidak pernah menjumpai gadis kampung Baduy Dalam. Gadis-gadis kampung itu seperti dipingit. Tidak boleh menampakkan diri kepada kaum Adam pendatang. Mereka hanya keluar setiap pagi buta, itu pun hanya untuk pergi ke sungai. Padahal, konon gadis-gadis kampung Baduy Dalam cantik jelita. Kulitnya putih bersih. Parasnya cantik alami tanpa polesan. Gadis pedalaman yang sejak kecil disepuh harum kembang hutan.
***

Pagi berangsur-angsur membuka tirai kehidupan Kampung Cibeo. Permukiman yang sebelumnya terlihat samar kini semakin benderang. Rumah-rumah bambu beratap ijuk dan rumbia berjejer rapi. Dikelilingi hutan dan rimbun bambu. Suasananya tenang. Dibungkus hawa dingin, sejuk tidak menusuk. Kebisingan hanya terdengar dari aktivitas para pendatang. Wisatawan yang ramai berkunjung saat akhir pekan.

Saya segera bergegas ke sungai. Menikmati aliran airnya yang sejuk. Mengalir perlahan membelah gugusan bebatuan. Melihat anak-anak kecil bermain riang di jembatan bambu gantung. Memandangi para pendatang dengan penuh persahabatan. Seorang pemuda kampung, terlihat berdiri di pinggir sungai. Tersenyum ramah.

“Sedang apa, Kang?” kataku membuka percakapan.
“Mengantar tamu ke tempat pembuangan,” katanya sambil tertawa lirih. Aku paham maksudnya. Menunjuk ke salah satu tempat tidak jauh dari sungai yang khusus digunakan untuk pembuangan sisa pencernaan. Agar tidak mengotori sungai. Sebab sampai ke hilir juga masih digunakan warga untuk mandi dan keperluan sehari-hari.

Kami pun berbincang-bincang ringan, tentang Baduy Dalam. Dia tidak keberatan berbagi cerita tentang kampung halamannya. Ceritanya juga persis seperti yang saya dengar dari Jaro Sami dan warga lainnya.

“Saya sering ke Jakarta, bahkan sampai ke Bogor dan Bekasi,” kata Yan, pemuda berusia 20-an tahun itu. Logat Bahasa Indonesianya terdengar agak gaul. Memang beberapa bulan sekali dia kerap ke luar kampung. Selain untuk berjualan hasil hutan dan kerajinan, juga untuk menyambangi kenalan yang ada di kota.

“Seringnya nganter madu dan golok pesanan,” ujarnya. Ia selalu berjalan tanpa alas kaki ke kota-kota yang dituju itu. Lama perjalanan bisa seminggu hingga setengah bulan. Memang, madu dan golok Baduy Dalam cukup terkenal di kalangan luar. Harga satu botol madu sekitar 75 - 100 ribu rupiah. Sedangkan golok kualitas terbaik mencapai 300 ribu rupiah. Bahkan ada yang lebih mahal.

“Kalau malam di perjalanan, biasa menginap di mana?”
“Seringnya kalau tidak di rumah kenalan ya di kantor polisi. Kadang juga di rumah perangkat desa yang kita lewati,” katanya bercerita ihwal pengalaman perjalanannya. Untuk menemukan alamat yang dituju juga bukan persoalan sulit. Dengan bermodalkan secarik kertas berisi alamat, dipastikan dia dapat menemukannya.
“Biasanya tanya ke tukang ojek, mereka banyak tahu, he-he-he...”
“Naik ojek?”
“Ya tidaklah, cuma bertanya...”
“Ngomong-ngomong, sudah kawin belum?”
“Belum...”
Dia tersenyum malu-malu.
“Kalau kawin maunya dengan gadis Baduy Dalam apa luar?”
“Belum tahu juga, ha-ha-ha...”

Begitulah, kaum muda Baduy Dalam kini banyak yang semakin terbuka. Memahami perubahan sebagai sebuah realitas. Tapi tetap saja, pikukuh nenek moyang dan aturan adat menjadi pagar kasat mata yang membentengi kehidupan mereka dari kontaminasi budaya luar. Meski tidak signifikan, kehadiran wisatawan yang mencapai ratusan orang setiap akhir pekan, tetap memancing terjadinya perubahan. Sebab bagaimanapun, interaksi dengan masyarakat berbeda budaya akan menghasilkan pengetahuan dan pengalaman baru. Pengalaman baru itulah yang kemudian perlahan-lahan memberikan warna berbeda bagi kehidupan suku Baduy Dalam.

Namun sampai kapan mereka akan bertahan? Apalagi, kami melihat sebagian pendatang mulai tidak menaati aturan. Pada beberapa bagian sungai, saya menemukan sampah yang dibuang sembarangan. Ada juga yang tidak mematikan telepon genggam. Meski sekadar untuk melihat jam atau menghidupkan alarm. Lebih dari itu, nilai-nilai komersil sudah mulai masuk ke kawasan tersebut. Nyaris tidak ada lagi sistem barter seperti pada masa lalu. Semuanya kini dapat dinilai dengan uang.
“Mungkin setelah ini, saya akan membatasi kunjungan ke sini,” kata Gress, pengelola kegiatan wisata yang beberapa kali membawa rombongan pelancong ke Baduy Dalam.

“Kalau terlalu sering didatangi wisatawan, saya khawatir adat-istiadat mereka, kebudayaan mereka, lingkungan mereka akan semakin rusak. Sebab tidak semua wisatawan mematuhi aturan. Takutnya ada yang membawa pengaruh buruk bagi kehidupan mereka,” katanya, sambil menyeruput segelas kopi manis di gelas bambu. Di balai-balai rumah panggung tempat kami bermalam.

Lalu, kami pun segera berkemas. Sebab pengunjung hanya boleh menginap satu malam. Menata perlengkapan pribadi ke dalam ransel. Tidak lupa memasukkan sampah-sampah plastik, membawanya pulang. Tidak ada yang kami tinggalkan, selain beberapa bungkus makanan kemasan untuk keluarga tuan rumah. Kami pun hanya membawa pulang pengalaman dan beberapa hasil kerajinan. Keelokan perkampungan tersebut masih tabu untuk diabadikan dalam kamera. Tapi keramahan, ketulusan dan persahabatan warga Baduy Dalam tetap lekat di memori kami.

Matahari menyembul di balik bukit. Semburat cahayanya memendar dari rumpun bambu. Terang dan eksotis. Kami segera berkumpul di tanah lapang. Berdoa untuk keselamatan perjalanan pulang. Kembali melewati jalan setapak, naik turun bukit dan lembah. Setelah satu malam melihat dan berinterakasi dengan  kehidupan suku Baduy Dalam. Meresapi kearifan budayanya. Lokalitasnya yang terpelihara. Menghayati laku hidupnya. Melihat bagaimana manusia merawat alam, alam merawat manusia. (*)
Sunday, May 25, 2014
Posted by badri
Tag :

Hantu Penunggu Pohon

sumber gambar: https://img1.etsystatic.com
Cerpen M Badri

Mak Inah lari terbirit-birit. Perempuan setengah abad itu seketika bisa berlari kencang. Melesat, melebihi laju kendaraan yang biasa melintasi jalan berlubang itu. Menembus pekat malam. Dia terus berlari, menjauhi pertigaan pinggir desa. Tidak berani menoleh ke belakang. Ke pohon randu yang menjadi penanda desa. Dalam pandangan samarnya, pohon itu berubah menjadi rumah raksasa. Dengan puluhan wajah tersenyum hambar kepadanya.

“Han... Han... Hantuuu............”

Dia berteriak parau. Tapi tak ada orang yang mendengar. Orang-orang kampung sudah meringkuk dalam selimut. Menikmati udara dingin. Dibawa hujan yang turun bertubi-tubi. Setelah kemarau berkepanjangan. 

Akhirnya Mak Inah sampai juga di rumah. Jarak beberapa ratus meter serasa berkilo-kilo meter jauhnya. Mungkin inilah lari paling panjang dalam sejarah hidupnya. Meskipun dulu pernah dikejar babi hutan di ladang, tapi tak separah ini. Ketakutannya menjelma keringat dingin. Dia pingsan tepat di depan pintu rumahnya.
Brukkkk......

“Mak... Mak.... Kenapa Mak?”

Sabir, anak bungsunya, panik bukan kepalang. Ia sebenarnya akan pergi meronda. Setelah melempar sarung dan senter ke lantai, Sabir mengangkat tubuh Emaknya yang sudah lunglai itu ke dalam rumah. Direbahkannya di dipan kayu. Ia mengambil minyak angin. Lalu mendekatkan mulut botol yang sudah dibuka ke hidung Emaknya. Beberapa menit kemudian Mak Inah sadar. Tapi nafasnya masih terengah-engah.

Ia segera minum air putih hangat. Mengatar nafas perlahan-lahan. Seperti yang diajarkan instruktur senam lansia, setiap Minggu pagi di balai desa. Sabir menyeka wajah Mak Inah yang terus berkeringat dingin. Kepalanya dipenuhi tanda tanya. Tidak biasanya Emaknya seperti itu. Tapi Mak Inah belum sanggup bercerita. Hanya pesan ketakutan luar biasa tersirat di wajahnya.

“Han... Hantu itu benar-benar ada. Bukan cuma cerita...”

“Hantu apa Mak?”

“Hantu pohon randu, di ujung desa...”

“Tidak mungkin, Mak...”

Sabir terus menenangkan Mak Inah. Memijit-mijit kakinya yang pincang, karena keletihan dan tersungkur beberapa kali sebelum sampai rumah. Wanita tua itu terus berdebat tentang hantu penunggu pohon. Tapi Sabir tetap tidak percaya.

***

Cerita hantu penunggu pohon akhir-akhir ini santer terdengar. Tepatnya beberapa pekan setelah pemilihan umum. Hantu yang kabarnya menunggu pohon randu tua penanda desa. Pohon randu itu sangat rindang. Lingkar batangnya tidak cukup dipeluk lima depa orang dewasa. Mungkin umurnya sudah puluhan atau bahkan ratusan tahun. Letaknya di pertigaan ujung desa. Persimpangan jalan yang menghubungkan desa itu dengan desa-desa tetangga. 

Pohon randu itu saat musim hujan, daunnya sangat rimbun. Tetapi pada musim kemarau meranggas. Tapi karena dahan dan rantingnya banyak, pohon itu tetap meneduhkan. Apalagi kalau kapuknya beterbangan ditiup angin ke segala penjuru. Sekitarnya seperti dilanda hujan salju. Suasananya terkesan romantis. Karena itu pada musim kemarau, tempat itu sering dijadikan lokasi pemotretan pre-wedding. 

Di bawahnya ada gubuk kayu pangkalan ojek. Di sebelahnya ada beberapa kedai kaki lima penjual makanan dan minuman. Kalau malam gubuk itu berubah menjadi pos ronda. Karena itulah, kalau siang cukup ramai yang duduk-duduk di sana. Selain mereka yang berangkat atau pulang berladang, juga anak-anak sekolah. Bahkan kegiatan-kegiatan desa sering dilaksanakan di sana. Di lapangan sepak bola tidak jauh dari pohon randu itu. 

Pohon randu itu seperti magnet. Sejak pagi hingga petang selalu ramai oleh kumpulan orang-orang kampung. Sekadar ngopi di warung atau main domino. Apalagi kalau musim politik, entah pemilihan kepala desa, kepala daerah, legislatif, bahkan presiden. Bangku-bangku di bawah pohon randu itu menjadi saksi konsolidasi dan transaksi politik. Maka tidak heran kalau gambar-gambar wajah orang dengan senyum dipaksanakan banyak tertempel di sana. 

Bidang batang randu yang luas itu, kemudian menjadi semacam galeri politik. Menampilkan wajah dan senyum palsu yang tercetak di baliho, spanduk dan pamflet-pamflet mini. Wajah-wajah yang dipermak sedemikian rupa di perangkat komputer, hingga terlihat muda dan menawan. Bahkan banyak jauh berbeda dengan aslinya. Kemudian senyum itu, ahh! Terlihat sekali kalau direkayasa. Bahkan tidak lebih baik dari senyum pramuniaga yang menyapa pelanggan dengan terpaksa.

Pada musim pemilu, pohon randu itu semakin ramai dengan tempelan wajah-wajah caleg yang dipaku ke batangnya. Saling berlomba memasang gambar dan jargon di bidang paling terlihat. Bahkan tinggi-tinggian, sambil berharap gambar yang letaknya paling tinggi bakal mendapat peruntungan suara tertinggi pula. Dahan dan rantingnya pun tak luput dari gambar-gambar caleg. Entah siapa yang memulai, semakin mendekati musim kampanye, cabang dan ranting pohon randu itu tiba-tiba penuh dengan gantungan gambar caleg. 

Pohon randu itu kemudian berubah menjadi pohon aneka wajah. Tidak ada dahan dan ranting yang luput dari gantungan gambar-gambar berbagai ukuran. Bahkan hingga sampai ke pucuk paling atas, yang tingginya beberapa puluh meter. Buah randu yang biasanya menerbangkan kapuk pada musim kemarau pun tidak terlihat lagi. Tertutup oleh wajah-wajah yang selalu tersenyum. Melambai-lambai ketika ditiup angin. 

Konon, tren menggantung gambar di pohon itu berdasarkan saran paranormal desa tetangga. Menurut paranormal itu, pohon randu tua itu memiliki tuah tinggi. Dihuni berbagai jenis dan bentuk mahluk halus. Siapa bisa meletakkan gambar di lokasi paling tinggi, maka dia yang kemungkinan bakal menang. Begitulah kata paranormal, dalam kondisi seperti kesurupan. Pohon randu itu pun kemudian dipenuhi dengan aneka sesaji. Pelengkap hasrat menjadi wakil rakyat.

***

“Tolong...”

“Ada mayat...”

“Bunuh diri...”

Keheningan kampung itu pecah oleh teriakan warga. Padahal azan subuh baru saja berlalu. Warga desa segera berbondong-bondong ke arah suara teriakan. Berasal dari sekitar pohon randu. Tempat itu seketika menjadi ramai. Salah seorang warga melihat seseorang gantung diri di dahan pohon randu.

“Siapa?” Seorang warga berbisik-bisik kepada temannya yang lebih dulu tiba. 

“Madesu...” Jawabnya juga lirih.

“Yang dulu ribut di sini ya?”

Temannya mengangguk. Ia teringat lelaki umur empat puluhan itu. Madesu, caleg nomor urut satu dari salah satu partai peserta pemilu. Dia dan tim suksesnya pernah ribut dengan caleg lain. Gara-gara rebutan tempat untuk menggantung gambarnya. Madesu, caleg pendatang baru dari desa tetangga. Konon, dia menghabiskan duit ratusan juta untuk mendapat nomor urut satu. Menggadaikan kebun dan rumah. Dia yakin, kalau terpilih, dalam beberapa bulan duitnya akan kembali. Bahkan akan berlipat ganda. Wah!

Desa itu mendadak gempar. Baru kali ini ada orang gantung diri di pohon randu. Maka kabar itu segera tersiar ke mana-mana. Diberitakan surat kabar dan radio. Bahkan televisi nasional juga meliputnya. Betapa tidak, lelaki itu menggantung di dahan yang tinggi. Lidahnya menjulur. Matanya melotot tajam. Tidak ada senyum di bibirnya. Seperti pada beberapa gambar wajahnya yang masih tergantung di pohon itu.

Orang-orang menduga, dia stres karena tidak terpilih menjadi legislator.  Beberapa hari sebelumnya dia sempat depresi. Posisi terhormat wakil rakyat gagal dia dapatkan. Padahal rumah dan ladang sudah tergadai. Sebelumnya dia sempat mengamuk. Kadang keliling desa teriak-teriak, seperti orang kampanye. Padahal pemilu sudah selesai. Belum sempat dibawa ke rumah sakit jiwa, Madesu keburu mati bunuh diri.

Tapi tragedi pohon randu tidak berhenti pada Madesu. Beberapa hari berikutnya ada lagi orang gantung diri di tempat sama. Warga menghitung, tidak sampai sebulan ada lima caleg gagal gantung diri di tempat itu. Mereka pun semakin takut. Rapat warga dengan tokoh masyarakat desa sebenarnya memutuskan untuk menebang pohon randu tua itu. Tapi tidak jadi karena keberadaan pohon randu itu dianggap penting sebagai penanda desa. Kalau pohon itu ditebang, nama Desa Randu Kramat tentunya juga harus diganti. Warga tidak mau repot mengubah KTP dan alamat surat.

Pohon randu itu pun akhirnya dipagari kawat berduri cukup tinggi. Supaya caleg-caleg gagal lainnya, yang stres dan hendak bunuh diri tidak bisa memanjat pohon randu. Warga pun semakin rajin ronda di kawasan itu. Melawan rasa takut pada pohon tua, yang terlihat semakin mencekam. Tidak ada lagi orang-orang main domino hingga tengah malam. Tapi dahan pohon itu tetap semarak. Gambar-gambar caleg masih banyak yang bergantungan. Tidak ada warga yang berani memanjat untuk membersihkannya.

Desa itu semakin mencekam sejak ada isu hantu penunggu pohon yang kerap mengganggu. Desas-desus itu terus menyebar luas. Ada yang mengaku pernah mendengar suara  orang berpidato. Ada juga yang bercerita, temannya bertemu orang membagi-bagikan uang, tapi tiba-tiba menghilang. Berbagai cerita seputar hantu penunggu pohon randu meramaikan desa itu.

***

“Emak melihat Madesu...”

“Orang mati tidak mungkin hidup lagi Mak...”

Sabir terus mendebat Mak Inah, yang mulai bisa bernafas dengan teratur. Mak Inah bercerita, sepulang menjenguk teman pengajiannya yang sakit di desa sebelah, dia lewat pertigaan pohon randu. Membawa senter menyala redup. Samar-samar dia melihat wajah Madesu, caleg yang bunuh diri beberapa pekan sebelumnya.
“Dia tersenyum sama Emak...”

“Dia ngomong apa, Mak?”

“Diam saja. Tapi terus tersenyum. Emak lihat dan perhatikan, banyak sekali Madesu di situ. Semuanya tersenyum sama Emak. Emak sapa, dia tetap tersenyum. Emak lempar pakai kerikil dia tetap tersenyum. Emak lari, dia masih tersenyum...”

Sabir tertawa lirih. Dalam hati, ia membatin, mungkin Mak Inah melihat gambar-gambar caleg yang jatuh dari pohon randu selepas hujan disertai angin kencang sore tadi. Tali pengikat gambar-gambar itu lapuk, setelah berhari-hari terkena hujan dan panas. Lama-kelamaan gambar-gambar itu berguguran. Seperti daun randu di musim kemarau. Seperti kapuk yang beterbangan ke segala penjuru. ***

Bogor, 9 April 2014

Dimuat di Riau Pos: 20 April 2014
http://www.riaupos.co/1933-spesial-hantu-penunggu-pohon.html
Monday, April 21, 2014
Posted by badri
Tag :

Pentingnya Sistem Informasi Pembangunan Desa

Oleh M Badri

Pasca disahkannya Undang-undang Desa pada 18 Desember 2013 lalu, pembangunan kawasan perdesaan ke depan akan menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional. Meski Peraturan Pemerintah (PP) sebagai petunjuk teknis implementasi UU Desa hingga kini belum terbit, pemerintah daerah perlu segera membuat berbagai rancangan strategis. Salah satunya mengenai sistem informasi pembangunan desa dan kawasan perdesaan seperti yang diamanahkan undang-undang. 
Saturday, February 22, 2014
Posted by badri
Tag :

Bukuku






Sebagian Antologi


Popular Post

Powered by Blogger.

About

simple ordinary man-simple ordinary opus-simple ordinary site

- Copyright © negeribadri -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -