Breaking News

Peran Komunikasi Pembangunan Menghadapi Tatanan Kehidupan Baru


Dr. M Badri,  Dosen UIN Sultan Syarif Kasim Riau berpandangan  krisis tidak berdiri sendiri, tetapi ada risiko yang tidak ditangani dengan baik dan risiko bisa diproyeksikan di masa depan.

BOGOR-Efek pandemi covid-19 dari mulai perubahan interaksi masyarakat, pola pekerjaan dan juga kebiasaan hidup bersih telah menciptakan perubahan sosial.
Sebutan kenormalan baru, adaptasi kebiasaan baru dan tatanan kehidupan baru kini ramai dibicarakan. Untuk dapat mempersiapkan masyarakat menuju tatanan kehidupan baru, Forum Komunikasi Pembangunan Indonesia (Forkapi) menyelenggarakan webinar dengan  tema Komunikasi Krisis dan Adaptasi Kehidupan Normal Baru.
Ketua Umum Forkapi Dr. David Rizar Nugoroho menjelaskan bahwa kehadiran webinar Forkapi adalah untuk mengajak masyarakat beradaptasi dan mempersiapkan diri dalam menyambut tatanan kehidupan baru.
“Komunikasi merupakan hal penting di dalam masyarakat. Komunikasi pembangunan hadir dalam mendorong masyarakat untuk beradaptasi dan menyelesaikan masalah-masalah yang ada di masyarakat,” kata Dr. David kepada Si Bro pada Kamis (2/7/2020).
Sementara Dosen IPB University Dr. Djuara Lubis  salah satu narasumber mengatakan  disiplin masyarakat adalah kunci menghadapi tatanan baru. Untuk itu, masyarakat perlu membangkitkan kembali modal sosial. Tidak hanya modal sosial secara ekonomi, tetapi juga psikologis dan spiritual.
Menurutnya  tantangan comdev adalah bagaimana menggali potensi yang ada di masyarakat agar bisa saling berbagi. Namun pengetahuan dan kepatuhan masyarakat masih rendah. Bahkan ada kebosanan.
Dia mencontohkan  seperti  puncak mulai padat . Padahal covid-19, masih di sekitar kita. Kita perlu kampanye untuk tatanan hidup baru karena perjuangan kita belum selesai.
“Gerakan sosial juga diperlukan untuk mengorganisasi masyarakat agar patuh dengan tujuan mengurangi penderitaan orang yang terdampak,” jelasnya
Selain itu, literasi media juga menjadi hal yang penting karena saat ini kita memasuki era duademi, pandemi covid dan banjir informasi.
“Kemudian informasi juga ada yang benar dan ada yang palsu. Bahkan ada informasi yang menjadikan orang antisipasi dan ada orang yang justru merasa covid-19,  itu tidak ada,” tambahnya.
Menurut, Dr.Djuara,  ada masyarakat yang tidak percaya kepada pemerintah. Hal itu dicontohkan dengan ada beberapa warga yang menjemput pasien dari rumah sakit dan ada pasien yang tidak mau diisolasi.
“Zhang (2020) menjelaskan bahwa strategi komunikasi yang dilakukan di Cina adalah mengkolaborasikan antara Pemerintah, masyarakat dan expert. Ketiga komponen ini harus berkomunikasi dengan baik karena bila tidak, media sosial dapat merusak dan memproduksi kabar palsu,” kata Dr. Djuara.
Pembicara lainya ,  Dr. M Badri,  Dosen UIN Sultan Syarif Kasim Riau berpandangan  krisis tidak berdiri sendiri, tetapi ada risiko yang tidak ditangani dengan baik dan risiko bisa diproyeksikan di masa depan.
“Kita tidak tahu. Saat ini Covid, beberapa tahun ke depan apa lagi. Bisa saja. Melihat keadaan di Indonesia, kita bisa membaginya dengan sebelum krisis, prakrisis dan fase krisis. Dan kurang tepatnya penanganan adalah pada fase prakrisisis yakni kita melakukan blunder dengan meremehkan corona, menyangkal dan meminta masyarakat untuk santai dan tidak resah,” kata Dr. M. Badri.
Selama keadaan (pandemi: red) ini belum selesai, akan ada perubahan, pola-pola akan berubah dan ketika krisis, masyarakat akan mengalami kepanikan, tersebarnya hoax, kesalahan koordinasi, emosional, curiga, dan apatis.
“Strategi Komunikasi risiko dan krisis harusnya terintegrasi agar bisa menyampaikan informasi dengan baik kepada masyarakat dari mulai prakrisis, awal krisis hingga pascakrisis.,” sarannya
Pada fase prarisiko, jelas M.Badri ,  perlu dilakukan memantau risiko, memahami potensi, melakukan edukasi, melihat respon hingga menghadapi kemungkinan terburuk adalah langkah awal yang sebaiknya dilakukan oleh Indonesia pada saat covid-19 , sudah menyerang bangsa lain dan merupakan bentuk pertahanan yang baik. Kegiatan pencegahan itu baik untuk mengurangi risiko dan krisis.
Webinar Forkapi ini bukanlah yang pertama dan terakhir. Webinar Forkapi akan hadir setiap hari Kamis.
“Kegiatan ini akan ditutup  dengan Seminar Nasional pada tanggal 23 Juli 2020 , dengan membahas Komunikasi Pembangunan, Mitigasi Covid-19 dan Tatanan Sosial Baru, “jelas Forkapi David Rizar Nugoroho
Penulis    : Red Si Bro
Editor      : Robby Firliandoko

No comments