Mahar
Rintik hujan
senja itu sudah lama kurindukan. Setelah berbulan-bulan kemarau melanda
perkampungan. Sawah-sawah kekeringan. Ladang-ladang semakin gersang. Apalagi,
hamparan bukit gundul yang memanjang di perbatasan. Semak belukar sudah habis
terbakar. Menyisakan tanah retak dan jelaga. Aliran mata air yang berhulu di perbukitan
sudah menyerupai air mata.
Melihat hujan
menggenangi halaman, tiba-tiba aku merindukan masa lalu yang hijau. Tumbuh
dalam dekapan liar tumbuhan hutan. Ketika belantara menghampar seperti
permadani. Bergelombang mengikuti kontur bukit dan ngarai. Belaian lembut perdu
ditiup angin. Bisikan mesra kecipak ikan di rawa-rawa. Melodi burung-burung dan
siamang.
Alam telah mengajarkan
banyak hal, kekasihku. Beruntung aku sempat menikmati masa kecil dalam pelukan
rimba. Hutan hijau yang dulu menyelimuti perbukitan itu. Tempat bermain
mengasyikkan. Memancing ikan, berburu burung, hingga bertualang ke rerimbun
belum terjamah.
Aku telah banyak
belajar dari rimba raya. Belajar hidup dan bertahan hidup. Mencari sulur pepohonan
penawar dahaga. Mengenali buah dan tetumbuhan yang bisa mengganjal lapar.
Hingga menghindar dari segala ancaman binatang liar.
Tapi itu dulu,
kekasihku. Kisah ini hanya bisa kuceritakan kepadamu. Juga kepada anak-anak
kita kelak. Masa lalu sudah terjadi. Kini, hanya terlihat hamparan tanah kering
kerontang. Rumah-rumah rapuh. Kantong-kantong kemiskinan. Sebab pembabatan
hutan dan penambangan liar hanya memakmurkan sesaat.
“Karena itu kau
ingin kembali ke desa?”
Mungkin ini
pilihan sulit bagimu, kekasihku. Sebab kau lahir dan tumbuh di permukiman beton.
Berkawan keriuhan dan sumpah serapah kendaraan. Tapi, kalau bukan aku, siapa
lagi? Terlalu banyak yang sudah meninggalkan perkampungan. Setelah sawah dan
ladang tak lagi menghasilkan. Gersang dan kerontang.
“Ide senewen
itu?”
Ya, aku akan
melakukannya. Aku akan mengawinimu dengan mahar 1989 batang bibit pohon. Sama
dengan angka kelahiranmu. Romantis bukan? Sebab dengan mahar itu, aku ingin
cintaku kepadamu terus tumbuh dan semakin tumbuh. Aku ingin menemanimu
menanamnya. Merawatnya, menyirami dan memupuknya. Menyemainya dengan doa-doa. Dengan
ribuan pohon itu, aku ingin riwayat cinta kita semakin lama semakin sejuk dan
rindang.
Aku ingin
mencintaimu dengan keteduhan, kekasihku. Pepohonan yang kita tanam itu, akan
menjadi saksi perjalanan cinta kita. Kita akan merawatnya seperti anak-anak
kita kelak. Kalau mereka lahir nanti, kita akan kembali menanam pohon sejumlah
angka tahun kelahirannya. Indah bukan?
Kemudian aku,
kamu, dan anak-anak kita akan terus merawat pohon-pohon itu. Menamainya,
melindunginya dari aneka hama dan gulma. Mengajari mereka mencintai alam,
mencintai kehidupan. Agar mereka tumbuh dalam dekapan lembut tumbuhan hutan.
Aku yakin, kelak mereka dapat kita hidupi dari hasilnya. Sederhana bukan?
Kemudian, ketika
kita tua nanti, kita bisa menikmati sisa usia dalam keteduhan rimba. Setiap
pagi menghirup udara segar perbukitan. Mendengarkan orkestra binatang hutan,
yang terus menghibur kita sepanjang siang sepanjang malam. Kemudian ketika
kematian menjemput, kita akan mengakhiri hidup dengan indah.
Setelah kita
tiada nanti, kekasihku. Kita tidak perlu mengkhawatirkan anak-anak kita. Sebab
peopohonan yang kita tanam itu, pasti akan mengayominya. Melindungi anak-anak
kita dari bencana. Mereka tidak akan lapar, sebab di hutan banyak tanaman
pangan yang bisa dipanen. Sebagian pohon yang bisa mereka tebang, kemudian
mereka tanami kembali dengan jumlah berkali lipat.
Mereka akan kita
ajari bagaimana merawat pohon-pohon itu. Seperti memelihara kehidupan. Harus
penuh kesabaran dan ketekunan. Semakin baik merawatnya, akan semakin bagus
hasilnya. Banyak filosofi yang bisa kita tanamkan di benak mereka. Bukan
sekadar dongeng dan omong kosong seperti cerita-cerita di layar kaca.
***
Pagi tanpa
matahari. Mendung menggantung di langit sejak selepas subuh. Rintik hujan
pelan-pelan membasahi tanah lapang dan perbukitan. Di bukit itu, air hujan
terus meluncur ke lembah. Tidak ada lagi akar perdu dan pepohonan yang
menahannya. Merembes ke perut bumi. Membasahi pori-pori tanah, melekatkannya,
sehingga tidak mudah longsor. Tapi yang terjadi, punggung bukit penuh luka,
berbentuk irisan-irisan. Mengikuti alur air hujan yang mengalir ke bawah.
Lelaki itu,
berdiri menghadap perbukitan. Puluhan hektar lahan tandus baru saja disapu gerimis.
Lanskap tanah lempung merah kekuningan, terlentang dan telanjang. Ia akan membelinya.
Tanah yang di masa kecil dulu menjadi laman bermainnya. Tapi kini tanpa
sebatang pohon.
Ceruk-ceruk
bekas tambang emas menganga di mana-mana. Tidak banyak emas yang bisa ditambang
di bukit itu. Maka pada masa lalu, hanya beberapa bulan setelah hutan dibabat
dan tanah-tanah digali, penduduk meninggalkannya begitu saja. Tidak ada upaya
reklamasi. Limbah tambang meracuni tanah. Beberapa tahun kemudian, rerumputan
dan perdu mulai tumbuh. Tapi di musim kemarau selalu terbakar. Perbukitan
gundul kembali. Siklus itu, terjadi bertahun-tahun.
Maka, ketika
lelaki itu ingin membelinya dari penduduk, banyak yang menertawakan. Mereka pun
mau menjualnya dengan harga murah. Tak sampai menghabiskan sisa tabungan,
setelah belasan tahun bekerja di perusahaan BUMN. Ia ingin kembali ke titik
nol. Melepaskan jabatan dan kemakmuran. Kebahagiaan tidak selalu berkorelasi
dengan materi, bukan?
“Buat apa kau
beli tanah itu?” kata tetua desa, yang masih pamannya.
“Itu tanah
kutukan. Malapetaka yang harus diterima warga, akibat keserakahan mereka di
masa lalu,” ia melanjutkan, sambil menyeruput kopi hitam.
“Emas sialan
itu! Cuiih! Hanya mendatangkan kehancuran,” pria paruh baya itu terus
menyerocos dan mengumpat.
Lelaki itu diam.
Membiarkannya terus bercerita ihwal tanah perbukitan yang akan dibelinya. Tanah
gersang yang dipandang sebagai hamparan tanah kutukan. Sebab tak ada tumbuhan
dan binatang yang mau mendiaminya. Apalagi manusia?
“Aku ingin
menanaminya dengan pepohonan. Menghijaukannya seperti dulu,” kata lelaki itu datar.
“Tidak mungkin
bisa, kami sudah mencobanya. Tapi bibit yang baru kami tanam selalu mati.
Bekali-kali sampai kami bosan,” kata pamannya.
“Kau tahu,
bahkan ilalang dan rumput liar pun tak mau tumbuh di sana. Itu tanah kutukan.
Babi hutan pun tak mau hidup di sana,” ia semakin kesal pada keponakannya itu.
“Sudahlah, kau
sudah enak hidup di kota, tak usah kembali lagi ke desa. Biar makam Emak dan Bapak
kau, Paman yang urus. Kamu akan menyesal kembali ke sini. Pemuda-pemuda kampung
ini pun, tidak ada lagi yang mau tinggal. Mereka semua pergi ke kota atau ke
luar negeri menjadi TKI. Tinggal kami yang tua-tua di sini, menunggu sampai
mati.”
Pria paruh baya
itu melempar puntung rokok ke halaman. Jatuh di genangan air.
Cessss...
“Aku akan
mencobanya, Paman. Calon istriku pun sudah setuju. Setelah menikah nanti, kami
akan pindah ke sini. Memperbaiki rumah peninggalan ayah. Kami akan membawa
beribu bibit pohon. Menanam dan merawatnya, seperti merawat anak-anak kami
sendiri. Kami akan menghabiskan sisa usia di sini,” lelaki itu meyakinkan.
“Kau ini gila.
Membawa istrimu ke sini?”
“Iya, kami sudah
sepakat. Dia anak kota tapi lulusan kehutanan, Paman. Aku yakin, dia tahu
bagaimana menumbuhkan pepohonan di tanah gersang itu,” ia menyeruput kopi di
cangkir beling.
“Kami akan
menanami pepohonan. Di sela-selanya akan kami tanami kopi dan umbi. Bukankah
desa kita dulu penghasil kopi terkenal? Aku ingin mengembalikannya seperti
dulu,” ia tersenyum, melihat pamannya diam.
“Kami juga akan mendirikan
sekolah alam. Model sekolah yang kini banyak dibuat di pinggiran kota. Saya
yakin, dengan jarak hanya beberapa puluh kilometer dari kota, nanti banyak
anak-anak kota yang disekolahkan di sini. Orang sudah jenuh dengan peradaban
beton, banyak yang ingin kembali ke suasana perkampungan.”
Matanya
memandang penuh keyakinan. Bahkan dia sudah mencoret-coret lanskap yang akan
dibuat di kontur tanah perbukitan itu. Mencatat jenis-jenis pohon yang akan
ditanam. Pepohonan cepat tumbuh hingga yang berumur puluhan tahun. Mulai
pepohonan penghasil buah-buahan hingga kayu-kayu keras. Semuanya akan dia
tanam. Berselingan dengan kopi dan umbi.
“Saya akan
mempekerjakan beberapa pemuda desa yang masih tersisa, Paman. Biar mereka tidak
kehilangan asal-usul, mau hidup dan membangun kampungnya. Aku yakin beberapa
tahun lagi, desa ini akan kembali seperti puluhan tahun lalu.”
“Terserah kau
lah. Paman hanya bisa membantu dengan doa. Tubuh ini sudah tidak bisa lagi
dipakai kerja berat,” pria itu akhirnya menyerah.
Lelaki itu
tersenyum. Membiarkan pamannya berlalu ke belakang. Ia sendiri melangkah ke
selasar. Menunggu hujan reda. Tapi lamanya seperti menunggu sang pacar. Ia
teringat kekasihnya, yang akan dikawininya beberapa bulan ke depan. Di seberang
rumah itu, sebuah bangunan kayu terlihat mulai lapuk. Sudah lama tak
berpenghuni. Sejak kedua orangtuanya tiada.
***
Hidup penuh pilihan,
kekasihku. Kita bebas menentukan pilihan yang kita inginkan. Meskipun bagi
sebagian orang, pilihan kita dianggap tidak masuk akal. Begitu juga orang-orang
kampung itu dulu, mungkin menganggap pilihannya menebangi hutan, sebagai yang
paling masuk akal untuk mengubah kehidupan. Memutus rantai kemiskinan. Tapi
akhirnya pilihan mereka salah.
Kau perlu tahu,
dari puncak perbukitan itu dulu air mengalir dengan jenih. Mata air bermunculan di celah-celah tebing.
Menggenangi rawa-rawa dan sawah yang berjejer di lembah. Menyediakan air bersih
untuk penduduk. Bahkan di sisi timur bukit itu, dulu ada air pancuran tempat
mandi gadis-gadis desa. Aliran airnya yang bersih, menjadikan kulit mereka
selalu wangi dan bening.
Tapi itu dulu,
kekasihku. Kau tak perlu cemburu dan curiga dengan gadis-gadis desa yang wangi
dan bening. Itu hanya kisah masa lalu. Sebab malapetaka alam selalu
menghasilkan efek domino. Sejak pembukaan tambang gagal itu, kemiskinan
mendorong mereka merantau menjadi babu di kota atau luar negeri. Beberapa
pulang tinggal nama.
Aku juga ingin
mengembalikan air bersih itu, kekasihku. Agar tubuh anak-anak kita kelak selalu
wangi dan bening. Aku sudah memesan 1989 batang pohon kualitas terbaik,
untukmu. Bukankah hakikat mahar merupakan tanggung jawab suami terhadap
istrinya? Maka, aku ingin pemberianku bermanfaat untukmu. Juga bagi masyarakat
di sekitar kita. Sehingga ribuan pohon ini nantinya menjadi amal kebaikan.
Aku akan
menambah ribuah pohon lagi. Sebagai hadiah perayaan perkawinan kita, kekasihku.
Aku akan menghadiahi para tetamu dengan bibit pepohonan. Agar mereka juga ikut
merayakan kebahagiaanku bersamamu. Sebab aku juga ingin merayakannya di sini.
Di titik nol tempat kita akan memulai kehidupan baru.
Pohon-pohon itu,
kekasihku. Di kemudian hari akan menjadi tumbuh dan besar. Mereka akan
menghibur kita setiap hari. Setiap ada angin sepoi-sepoi mereka akan menari
dengan riang. Menggerak-gerakkan rerantingnya, daun-daunnya, menjadi koreografi
paling indah. Mereka juga akan menggesekkan dahan-dahannya. Satu sama lain,
hingga menghadirkan irama alam yang eksotis.
Burung-burung
akan beterbangan, hinggap dari satu dahan ke dahan lain, dari satu pohon ke
pohon lain. Kupu-kupu akan hinggap di perdu-perduan, yang bertumbuhan di
sekitar hutan. Aku akan mendatangkan berpasang menjangan dan siamang untuk
menghuni hutan kecil kita itu. Membawa lebah penghasil madu. Aku juga akan
membiarkan binatang-binatang lainnya singgah atau membangun rumah.
Cucu-cuku kita
nanti, kekasihku. Akan kubuatkan rumah-rumah pohon di dahan-dahan trembesi dan
jati yang tegak menjulang. Agar mereka bisa belajar membangun harmoni alam. Sebab
aku yakin, pada masa mereka nanti, permainan anak-anak semakin tidak
bersahabat. Kebanyakan anak-anak akan kehilangan masa kecilnya. Hanya alam yang
bisa menyelaraskan akal dan pikirannya. Maka, anggaplah gagasan senewenku ini
sebagai bekal untuk anak cucu kita kelak. Keselarasan ekologi akan menjadi
puisi indah. Menjadi lukisan menawan.
Hutan kecil itu,
bukan sekadar monumen perkawinan kita, kekasihku. Tapi bukti cintaku kepadamu
yang kuharap terus tumbuh dan kita rawat bersama. Sebab aku tidak ingin, cinta kita
terkikis perubahan iklim. Apalagi pemanasan global yang merisaukan banyak
orang. Di masa tua nanti, pepohonan itu yang akan merawat kita. Menyegarkan
pernafasan kita yang semakin renta. Menjernihkan mata kita dari pikun dan
rabun.
Aku tidak sabar menunggumu.
Dengan ribuan pohon dan ribuan harapan. Aku ingin segera mengawinimu. Merayakan
kebahagiaan bersamamu. Membuahimu dengan benih-benih sari pati tanah subur.
Semakin banyak anak kita lahir, semakin banyak pula pepohonan yang akan kita
tanam. Maka keluarga kita akan semakin rimbun. Menjadi belantara yang saling
menjaga. Bukankah kamu juga menginginkannya, kekasihku? (*)
Bogor, 2014












No comments
Post a Comment