Breaking News

Bulan Kabut



Madu Hutan

Padang ilalang bergoyang mengikuti desau angin yang berhulu di hutan. Bukan hutan perawan. Hanya sisa belantara, ditumbuhi beberapa batang sialang tinggi menjulang. Pohon tempat lebah liar membangun sarang. Tanpa curiga dan prasangka kepada mahluk-mahluk sekitarnya. Ribuan lebah itu membangun kerajaan di dahan-dahannya. Daun-daunnya mungil, menjadi celah bagi angin yang bertiup kencang. Sehingga tidak gampang ditumbangkan badai.

Begitu juga dengan kamu Sahra. Gadis rimba yang lahir dari saripati rawa, semak belukar, rerimbun onak. Kamu sudah terbiasa tidur beralas gambut. Berselimut kabut. Diiringi melodi sumbang kawanan siamang, kicau burung, raungan beruang. Hingga kamu menjadi gadis jelita, beraroma rimba. Sebab tubuhmu sejak belia disepuh harum kembang hutan.

Belasan tahun, kamu menjadi bagian dari komunitas adat terpencil di pedalaman Sumatera. Berkawan babi hutan, menjangan dan aneka siluman. Kamu tumbuh seperti pohon madu itu. Jelita, perkasa, harum bunga. Madumu masih murni, belum pernah dicecap dan diresap.

***

Angin Kering

Aku tidak sengaja berjumpa denganmu. Dalam perjalanan panjang menelusuri pedalaman. Mendokumentasikan sisa-sisa subspesies bernama Latin Panthera Tigris Sumatrae. Binatang belang yang di alam liar populasinya tinggal beberapa ratus ekor itu.

Dalam perjalanan, di tengah kemarau yang memanggang jalan berkelok dan berlobang, aku melihatmu. Duduk di sebuah gubuk tepi jalan. Gubuk kecil beratap rumbia. Ketika kami lewat, kamu segera beranjak. Melangkah ke pinggir jalan sambil membawa beberapa botol plastik kemasan air mineral.

“Madu Bang, madu sialang...”

“Dipanjat dari pohonnya. Tidak ditebang!”

Suaramu lantang. Keringat hangat bercucuran membasahi pipimu. Berkilauan diterpa cahaya matahari yang mulai condong ke barat. Kendaraan berpenggerak empat roda yang kami tumpangi pun berhenti. Sekaligus ingin istirahat sejenak.

“Berapa?”

“Dua puluh ribu saja, Bang. Madu asli, dipanjat dari pohonnya!”

Katamu meyakinkan. Lalu membolak balik botol berukuran 600 mililiter. Kami membelinya beberapa. Kamu kemudian mengenalkan diri.

“Sahra.”

Namamu singkat. Sesederhana dirimu yang belum terpoles bedak dan gincu. Tutur katamu jujur. Belum terlumur pencitraan. Sahra, entah dari mana ayahmu mendapat nama yang dalam arti luas bermakna hutan belantara itu.

Kamu bercerita, sudah berbilang pekan dilanda kemarau. Padang ilalang terlihat mengering. Seirama dengan ladang palawija yang terus meranggas. Menyisakan tanah gersang. Angin kering terus bertiup mengabarkan waspada. Sebab api bisa datang tiba-tiba.

“Setiap tahun selalu terjadi kebakaran hutan dan lahan, Bang. Apalagi kalau kemarau. Kami harus siap-siap mengungsi ke dalam rimba. Mendekat ke sungai dan rawa-rawa.”

Kita pun larut dalam perbincangan. Melupakan penat perjalanan. Rasa was-was dan ketakutan. Sebab berada di antara rimba dan padang ilalang, bisa memunculkan banyak kemungkinan.

“Maukah kau menemani kami, Sahra?”

Kataku, berharap ada penduduk lokal yang bersedia menjadi pemandu. Apalagi di tim kami hanya ada satu perempuan. Kamu mengangguk. Tepat saat matahari senja membasuh lembut pipimu yang jingga.

***

Malam Sepi

Kami diam-diam mengintai dari atap mobil berpagar besi. Ditutupi dahan dan dedauan. Bau-bauan mesin dan tubuh juga sudah disamarkan. Supaya terlihat alami. Beberapa unit kamera dipasang di sejumlah lokasi yang sering dilalui binatang belang itu.

“Dulu, kami sering melihat Datuk berkeliaran. Bahkan aku beberapa kali memberi makan anaknya, yang suka berlarian ke luar sarang. Kami tidak saling mengganggu.”

Sahra menceritakan hubungan penduduk kampung dengan kawanan harimau. Dia memanggilnya Datuk. Si raja rimba yang dihormati. Tapi itu dulu. Kini Sahra mengaku tidak pernah lagi mendengar auman yang menggetarkan dan membuat bulu kuduk merinding itu. Tapi sesekali dia pernah melihat sorot mata buas dan ganas di balik rerimbun hutan. Tak ada lagi persahabatan.

“Sejak sering diburu, Datuk tak pernah lagi ke sini. Mereka bahkan sering membunuh orang.”

Malam semakin larut. Udara dingin menyusup hingga tulang. Sunyi berkelindan dengan kecemasan. Sekaligus harapan untuk bertemu sang Datuk. Kami ingin melihat sorot matanya yang ganas. Taringnya yang tajam. Kami ingin merasakan getaran nalurinya mencabik mangsa. Malam sepi menjadi bagian dari penantian panjang.

Samar-samar kami mendengar auman tertahan. Kamera infra merah menangkap gerakan tertatih dari kejauhan. Bukan langkah perkasa si raja hutan. Tapi gerakan penuh kesakitan. Sorot matanya tidak tajam. Tapi menyiratkan kepasrahan. Kami terus mengamati langkahnya. Aumannya lebih menyerupai rintihan. Tubuhnya kurus. Tingginya tidak sampai setengah meter.

“Kata para aktivis lingkungan yang pernah ke sini, Datuk sering menyerang manusia karena kelaparan. Hutan-hutan sudah ditebangi perusahaan. Kawanan mereka juga diburu. Dibunuh. Bagian-bagian tubuhnya diperjual belikan.”

Kami hanya melihatnya beberapa menit. Harimau kurus itu sempat memandang ke arah kami. Sorot matanya kosong. Raut mukanya menunjukkan keibaan. Hanya sesaat. Setelah itu, ia kembali masuk ke semak belukar. Menghilang di kegelapan malam.

***

 Amuk Api

Benar katamu. Kemarau, kebakaran dan kabut asap menjadi siklus tahunan. Aku akan terkurung di sini. Berhari-hari. Sampai api yang melahap padang ilalang dan ladang-ladang kosong itu berhenti mengamuk. Meninggalkan jelaga dan abu. Untungnya antara hutan dan ratusan hektar padang ilalang sudah dibatasi parit-parit besar. Hingga api tak sampai menjalar. Kalau itu terjadi, habis sudah.

Selama beberapa hari, perkampungan kecil di pinggir hutan itu dikepung api. Aktivitas kami hanya di dalam rumah kayu sederhana, yang ditinggali Sahra dan keluarganya. Tapi rumah panggung itu tidak biasa. Di sana aku menemukan tumpukan koran dan majalah. Juga buku-buku disusun rapi. Di rak-rak kayu yang dirangkai sederhana. Menyatu dengan dinding dan lantai. Buku-buku tentang lingkungan, sastra, hingga sosial, politik dan filsafat. Terlihat bersih dan terawat.

“Dulu ada seorang wanita muda yang bertahun-tahun tinggal di sini. Menjadi guru bagi kami. Anak muda hingga orang tua. Mengajari kami mengenal kata dan bahasa. Memahami ekosistem, lingkungan hidup, hingga menyanyi dan menari. Dia membantu kami untuk mandiri. Tidak bergantung pada sesiapa pun.”

“Di mana wanita itu sekarang?”

“Dikalahkan keadaan.”

“Maksudmu?”

“Dia mengalami sesak nafas hebat. Penyakit saluran pernafasannya tidak bisa kompromi dengan kabut asap. Waktu itu terjadi kebakaran lahan berminggu-minggu.”

“Apa yang terjadi?”

“Dia meninggal dalam perjalanan ke kota. Saat itu ada mobil relawan bencana ke sini. Tapi sudah terlambat.”

“Aku turut berduka.”

Sahra menangis. Dia mengenang kejadian dua tahun lalu itu.

“Dia hanya berpesan, agar kami terus belajar. Sebab alam raya adalah guru paling berharga. Dia mewariskan buku-bukunya.”

Aku menyeka air matanya. Beberapa hari tinggal bersama, membuat kami semakin akrab. Meski tidak pernah mendapat pendidikan formal, dia terlihat cerdas. Buku-buku di rak itu yang membentuk pemikirannya. Sedangkan sikapnya yang sederhana dipahat alam raya. Keberanian dan kekuatannya mungkin dibentuk rimba belantara.

Aku mengajaknya ke selasar. Melihat kobaran api dari jauh. Api mulai mengecil. Cahayanya menyatu dengan sinar bulan. Bulan pucat yang menyembul dari barat. Sinarnya kemerahan. Diselimuti awan dan asap.

***

Kabut Asap

Ruang tunggu bandar udara paling sibuk itu disesaki penumpang. Beberapa maskapai penerbangan tujuan Sumatera, Malaysia dan Singapura mengalami keterlambatan. Bahkan ada yang batal terbang. Sebab kabut asap semakin pekat. Jarak pandang semakin tidak bersahabat. Tayangan televisi memperlihatkan beberapa kota besar nyaris seperti kota mati. Tak ada kesibukan dan keramaian.

Aku berjalan mondar mandir. Menunggu keberangkatan. Terjebak waktu. Ingin mengirim kabar lewat SMS dan telepon. Tapi tidak mungkin. Di pedalaman itu tidak ada sinyal seluler jenis apapun. Selama ini, aku dan Sahra hanya berkomunikasi lewat hati. Mimpi-mimpi. Rindu-rindu. Tanpa Facebook dan Skype.

Aku seperti lelaki asing terjebak di bandara dalam film The Terminal. Film Spielberg yang dibintangi Tom Hanks dan Catherine Zeta-Jones itu. Tapi apakah aku harus menunggu berminggu-minggu? Satu jam di bandara sudah menjadi penantian panjang. Tak ada yang kuinginkan. Selain segera terbang. Melalui kilometer-kilometer penuh debu. Menikmati goncangan di jalan berkelok dan berlobang. Sampai ke rumahmu. Melabuhkan duka rindu.

Aku mengeluarkan trofi penghargaan itu dari ransel. Mengusap ukiran rol film berwarna kuning emas. Rol yang menjulur lepas. Seperti mengisahkan perjalanan panjang. Mulai tiba di perkampungan pedalaman. Menunggu sang raja rimba. Terjebak api dan asap. Hingga tiba di panggung kehormatan. Dokumenter itu Sahra, telah memenangkan penghargaan bergengsi se Asia Pasifik.

Aku ingin membawa trofi itu. Memajangnya di rumahmu. Bersama buku-buku. Menjadi bagian dari rak-rak yang melekat di dinding kayu. Menjadi bagian dari hasrat rinduku. Menjadi titik awal dari cita-citamu.

“Aku juga ingin menjadi sineas sepertimu. Aku ingin merekam kehidupan. Supaya bisa disaksikan anak cucu. Bukan sekadar dongeng dan lukisan.”

Katamu, waktu itu. Setelah melihat hasil rekaman di laptop. Kamu terkesima. Berlama-lama menatap gambar bergerak. Mengamati dengan teliti.

***

Bulan Sendirian

Kampung Rimba Melintang, menjelang tengah malam. Bulan tertutup kabut. Sahra duduk sendiri di bawah pohon ara. Di bangku kayu, ditemani bayang-bayang semu. Rembulan pucat. Seperti wajahnya yang dingin. Dia menunggu kekasihnya yang berjanji datang akhir bulan enam.

“Aku akan kembali tahun depan. Semoga hujan turun saat itu. Hujan deras yang menghapus kemarau. Juga membasuh setahun dahaga rinduku.”

Dia mengingat kembali kata-kata terakhir kekasihnya. Setahun lalu. Sebelum memeluknya dengan khusyuk. Lalu perlahan-lahan menjauh. Ditelan tanjakan dan tikungan. Menyisakan debu-debu rindu sepanjang jalan. Saat itu, gerimis mulai turun. Setelah berton-ton garam ditebar di awan. Untuk menyemai hujan. Membuat tanah basah. Hal sama yang saat ini ditunggunya.  

Tapi malam itu tak ada hujan. Kemarau panjang masih menyisakan api dan asap. Semakin malam kabut kian pekat. Bulan sendirian dalam gelap. Warnanya semakin suram. Tertutup gugusan abu dan kabut. Gerimis meleleh dari sudut matanya. Mengalir hingga ke bibir. Tapi hujan masih merahasiakan rintiknya. (*)

Pekanbaru - Bogor, 2013 

Cerpen ini dipublikasikan di Media Indonesia, 19 Januari 2014

No comments