Surat dari Hebron

Lazuardi telah terhapus percikan darah yang mengalir di tepi barat
tangisan bocah-bocah kalah oleh pekikan mortir memecah nadi
detak jantung iringi suara adzan yang menggema di tanah pekuburan
malam itu sebuah bom bersemayam dalam lambung seorang satria
yang mencoba mempertahankan tanah suci palestina

Perempuan berkerudung meratap di bawah roda buldozer
ketika puing-puing luka berserakan di atas sajadah
air matanya menderas di atas duka padang pasir
aku di sini hanya berharap alirannya mengendap di belantara palem
menumbuhkan kolam oase sejenak sebelum para satria ke medan perang

Para ruh berdoa di atas api yang membakar rumah-rumah
doanya adalah tarian suci seperti para malaikat yang bertasbih pada tuhan
menorehkan selembar harapan pada peradaban yang terinjak
sepatu bot tentara hitam berkalung sangkur merah darah
oleh polesan hujan dari tubuh-tubuh tak bernyawa

Di gaza kulukis puisiku di antara congkak meriam
di bawah ayunan bayi piatu yang ditinggal mati bapaknya
sore tadi ketika panser memborbardir senja dengan butiran peluru
bintang menangis darah dalam dekapan cakrawala
airnya kuminum dengan seteguk belasungkawa

Sepucuk surat warna putih tanpa kata kuterima
dari gadis kecil yang senyumnya tertahan luka
air matanya habis terkuras panas matahari di atas sahara:
“tolong suruh bapakku menunggu di sana
aku akan menyusul esok atau lusa
setelah sebutir peluru menembus dada”

Di hebron gadis kecil itu mengusap rambutnya yang berserakan
sepertu tulang-tulang para satria yang tertinggal dari ruhnya
cahaya matanya redup di antara debu-debu amunisi
kakinya yang telanjang berlari dalam lorong malam

Dor!
dan peluru itu pun menghentikan detak jantungnya
darahnya mengalir tepat di akhir puisiku

2002


Belajar Mengaji

Membaca Basmallah* aku seperti berada dalam surau
lengkap dengan mihrab yang melengkung seperti pelangi
sementara dua ekor burung mengaji
seperti zikirku di malam-malam sunyi
zikir puisi

2003

*Basmallah, salah satu judul lukisan digital karya Dantje S Moeis


Suatu Pagi di Bawah Tiang Bendera

Subuh telah melepuh, cericit burung singgah dalam pagiku yang keruh
jalanan lengang tersiram air hujan yang luruh tadi malam
lelaki tua berjalan di antara siluet matahari
bukankah itu orang-orang yang telah melukis sejarah?
dengan taruhan darah dan tulang-tulang yang patah
lalu kenapa dia masih gelisah?
kubaca di koran-koran hidupnya susah

Kemudian di bawah tiang bendera
kulihat merah putih terbang tertatih-tatih
setelah malamnya bintang berlumuran airmata
lagu indonesia raya mengalun dari bibir-bibir kering
apakah gema proklamasi hanya sekedar ritual tujuh belasan?
sementara secangkir duka singgah dalam lambung-lambung luka

Suatu pagi matahari pucat pasi
airmata benar-benar tumpah
di tanah basah

2003



Perjamuan Siang
  : Hasan Junus (alm)

Aku masih menyimpan sinar matahari yang kau kirimkan dalam sajakku
setelah menghantarkanku pulang membawa gundah
sebait cerita tentang cinta dan neraka singgah dalam malamku yang asing
lagu-lagu kasidah, ternyata lebih indah dari gemericik anggur merah
setelah menelan siang dalam perjamuanmu

Debu-debu kota mengingatkanku pada kiamat tiba
manusia berserakan seperti serpihan daun-daun musim kering
tapi sejenak aku terkenang pada suguhan musim semi
sepiring dongeng dan segelas puisi kau hidangkan
lengkap dengan sejarah kota mekah yang sempat kau singgah

Engkau bercerita tentang pulau-pulau yang risau dalam akar dedaunan hijau
bukankah itu riau?
aku lupa membuka kamus melayu yang kusimpan dalam hening tubuhku
menjelang pulang kau selipkan surat dalam belahan jantungku
“maukah kau datang pada hari kematianku?”
katamu, menikam rabuku yang kering
dadaku bergemuruh seperti guntur di akhir september
kemudian hujan jatuh dari mendung mataku setelah sekian tahun kemarau

2003



Bandar Sungai
 : Muhalib

Malam di bandar bulan singgah di meja bilyar
aroma sungai mengikis debu, mencumbui kerikil di mataku
inikah kota yang sering kau ceritakan itu?
kafe-kafe seperti semak belukar, kayu melulu
dan orang-orang menyanyi sumbang sambil mengunyah bebatuan
dalam kantukku anak-anak berlari riang di penyeberangan
lalu menyusu pada pipa minyak, sisa tahun lalu

Telah kulewati setiap lorong rumah-rumah panggung
sambil menyulam batang-batang pinang di tepi jalan
tak ada tarian, tak ada sambutan
anak-anak perawan sembunyi di balik hujan
dan membiarkan selendangnya tenggelam ditelan malam

Maaf, aku tak sempat menikmati api di bandar
dari dinding-dinding kafe yang terbakar
masihkah kau menyanyi saat airmata mereka terkapar?
sebelum aku mengikuti arah matahari dan arus sungai
lalu singgah di kota-kota yang tak tercantum dalam peta

2004



Narasi Rakyat

Dulu aku membaca iklan para pemimpin di perempatan jalan
penuh slogan-slogan tentang masa depan yang dijual eceran
“ayo siapa mau beli, ditanggung reformasi”
kemudian orang-orang berkerumun saling dorong dan saling maki
ini pemimpin, itu maling!
yang sana tikus yang sini kucing!
teriaknya sambil mengusung poster warna warni

Aku melangkah mantap mengikuti degup jantung yang berserakan
kemudian aku membelinya dengan tangan penuh harapan
kutukar suaraku dengan lambung berkarat menahan pedih zaman
orang-orang kembali berteriak memuja burung gagak di atas panggung demokrasi
reformasi, anti korupsi!
pro rakyat, gantung pejabat bejat!
sambil menari-nari menjual diri di tengah himpitan ekonomi

Tak lama kemudian aku melihat mereka ramai-ramai menjilati lidah sendiri
dalam karnaval badut-badut menabuh perut yang penuh keringat rakyat
irama perih menyayat serpihan harapan yang kemarin dilukis pada bendera-bendera partai
rakyat tetap miskin dililit hutang sementara harga barang semakin mahal
pulau-pulau dan gedung telah terjual dan sebagian hanyut dalam banjir air mata
orang-orang di tengah jalan mengutuki cermin sendiri
“tak ada reformasi, semua memperkaya diri”

Di perempatan jalan aku kembali membaca iklan para pemimpin
dengan slogan-slogan seperti kemarin. aku tak jadi beli!
karena masa depan yang mereka tawarkan tidak lebih indah dari bau selangkangan
kemudian aku melihat orang ramai- ramai membawa poster sambil memaki-maki:
pemimpin banyak yang jadi maling!
pejabat banyak yang berkhianat!
tikus-tikus berwajah kucing!

Tapi suara mereka hanya sampai di kerongkongan
tersumbat pentungan dan moncong senapan

2003



Luka Padang Pasir

Aku melihat puing-puing rembulan di seribu satu malam
menghantarkan air mata yang tumpah di tengah gurun kering
para ksatria di bawah badai amunisi meneriakkan takbir
sementara tentara hitam semakin mengganas
dengan sejuta muslihat menggenggam dunia yang semakin buta

Barangkali seribu satu puisi tak cukup untuk menahan duka
timur tengah kembali menangis ketika perempuan memeluk jasad bayinya
yang wafat saat adzan subuh belum usai
juga bocah-bocah yang terbaring disamping jenasah ibunya

Aku disini serupa batu yang berdo’a lewat sisa kata-kata
mengurai luka padang pasir yang tergilas sebuah ambisi
dari orang-orang yang datang untuk menggali kubur sendiri

2003



Zikir Tengah Malam

Setelah senja resah menunggu malam
di antara kumandang azan menjelang hujan
angin sejenak mengantarkan kalimatMu ke penjuru cakrawala
hening tiba-tiba membuka bayangan dosa-dosa
yang terangkai seperti sebuah mimpi kelabu
tentang kemarau panjang yang menghujam kalbu

Di atas kepingan sajadah kucoba merangkai kata
sebelum sunyi membuka lembaran buku harian usang
tentang hari kemarin yang terecer di jalanan
kembali kalimatMu menggema di sepanjang dinding ruangan
bintang-bintang sepi menyambutnya dengan desahan angin malam

Pada pangkal kecemasan kucoba merenungi
waktu yang telah lama berdetak tak beraturan
diselingi seribu kunang-kunang berwarna biru
hingga tetesan air mata bercampur dengan serpihan gelombang
memeluk bayangan diri yang semakin mengecil di hadapanMu

Zikirku berhenti di persimpangan mencari mata angin
untuk menghantarkan sejumput pikiran ke arah kiblat
seperti sebuah konser di tengah lautan saat kapal tanpa kemudi
mengendap-endap di bawah badai yang beriringan dengan hujan
saat mencari mutiara Tuhan di lautan tak bertepi

2002



Di Sepanjang Leighton

Lihatlah jembatan itu menggantung di bawah bintang yang berserakan
cahayanya adalah siluet hitam aliran siak
berbalut debu-debu industri yang melingkar
seperti selendang peradaban
di setiap denyut nadi yang tak pernah beraturan
lihat juga bulan perawan, sebelum malam menyetubuhinya
dengan sederet cerita kelabu yang tak pernah usai

Untuk sekedar menikmati jagung bakar yang selalu hitam
kucoba sedikit menepis racun ribuan kendaraan
beriringan dengan aroma lateks di setiap desah nafas
kaleng bekas dan plastik yang mengendap di bibir sungai
ketika arusnya tak henti menyanyikan irama sendu

Di atas leighton, saat musim hujan tiba
bocah-bocah menarikan percakapan cuaca
yang menelanjangi kota
dan memandulkan kehidupan rakyat pinggiran
yang selalu nanar
sementara matahari kian liar
membakar ribuan kepala

2002


First