Kapal yang Berlayar Suatu Senja

Cerpen M Badri

PELABUHAN Tanjung Priok, pertengahan 1998, suatu senja.....

Peluit kapal menggema di seantero dermaga. Orang-orang sibuk mencari tempat duduk di dalam dek kelas ekonomi. Sebagian lagi memilih menggelar tikar dan duduk melingkar. Di antara gemuruhnya orang-orang yang hendak berlayar ke tanah seberang, aku berdiri bersandar di anjungan kapal. Matahari pelan-pelan terbenam di ujung lautan, meninggalkan cahayanya yang keemasan. Sekilas menyerupai sebuah lukisan, lengkap dengan burung-burung, pulau-pulau kecil, dan beberapa perahu nelayan. Langit Jakarta dari kejauhan masih terlihat berkabut. Masih ada sisa-sisa asap dari bangkai gedung-gedung yang dibakar. Sementara aroma mesiu dan gas air mata masih lekat tercium di jaket kulit yang kupakai. Ada juga sedikit bercak darah yang masih menempel di kerah bajuku, darah seorang teman yang beberapa hari lalu terkapar di tengah jalan.

Dalam beberapa menit lagi aku akan meninggalkan Pulau Jawa. Pulau kecil berpenduduk sesak yang lima tahun sebelumnya kudatangi. Namun di pertengahan bulan yang penuh darah, penuh asap, dan bertabur kembang melati ini harus aku tinggalkan. Telepon dari Ayah yang mengabari Bunda sakit keras mengharuskanku pulang ke Sumatera. Bunda jatuh sakit setelah mengetahui berita-berita kerusuhan dari televisi. Puluhan orang mati terpanggang, dan ratusan demonstran terkapar di jalanan. Tubuh-tubuh bergelimpangan berbalut debu, asap, mesiu dan gas airmata. Sementara genangan darah dari berbagai golongan, suku dan ras tercecer di atas rerumputan dan beberapa ruas jalan. Bunda sakit keras, jantungnya kambuh dan masuk ICU. Aku harus pulang, untuk memastikan kepada Bunda kalau tidak terjadi apa-apa denganku.

“Pulanglah Tan, jangan kuatirkan aku,” kata Mei, kekasihku yang keturunan Tionghoa, suatu senja di bawah merahnya langit Jakarta sehari menjelang keberangkatanku. Airmatanya menderas dari kedua matanya yang sipit. Wajahnya yang kuning langsat berubah kemerah-merahan dan basah.

“Tapi aku mencemaskanmu Mei. Lihatlah orang-orang begitu anarkisnya membakar gedung-gedung dan toko-toko milik nonpribumi. Aku ingin tetap di sini bersamamu Mei. Tapi aku juga mencemaskan Bunda, beliau sakit karena mencemaskanku. Penyakit jantung Bunda gampang kambuh kalau mendengar berita buruk.”

“Aku tidak apa-apa kamu tinggalkan. Aku bisa menjaga diri Tan. Lagi pula aku harus menjaga Papa Mama yang sudah renta dan seorang adikku yang masih kecil. Pergilah, tunjukkan baktimu kepada Bundamu,” dia berkata lirih dengan kepala masih bersandar di pundakku.

“Atau kamu ikut denganku Mei. Sekalian kukenalkan dengan orangtuaku,” ajakku kemudian.

“Tidak Tan, aku harus tetap di sini walau apa pun yang terjadi,” katanya terisak.
Kemudian kami sama-sama diam. Tidak ada percakapan indah yang bisa kami ungkapkan. Tidak ada cerita tentang indahnya tembok raksasa di Beijing yang dibangun leluhur Mei, sementara dia sendiri belum pernah ke sana. Akupun tidak tertarik menceritakan indahnya senja di atas hamparan pasir pantai di kampungku.

Kabut asap samar-samar membungkus tubuh kami. Dan matahari yang pelan-pelan menghilang di balik salah satu gedung yang terbakar, terlihat merah saga. Langit sangat pucat dan dari kejauhan terdengar beberapa kali letusan senapan. Kami tetap diam dengan perasaan hampa. Akhirnya aku harus memutuskan pulang ke Sumatera, meninggalkan Mei di dalam gemuruh kota Jakarta. Tapi aku berjanji akan kembali setelah semuanya selesai. Mei menumpahkan seluruh airmatanya yang tersisa. Aku menampungnya di ruang-ruang batin yang hampa.
***

SUNGGUH aku tidak pernah melupakanmu Mei. Mungkin jarak dan waktulah yang kurang berpihak. Atau kita sedang dipermainkan nasib dan takdir. Sehari setelah pelayaran yang melelahkan itu aku menghubungimu lewat telepon, namun selalu saja tidak tersambung. Sedangkan nomor ponselmu berkali-kali hanya berisi jawaban operator.

Sungguh Mei, aku sangat mencemaskanmu. Sementara di televisi, hampir setiap jamnya kudengar aksi massa semakin beringas saja. Pusat-pusat perbelanjaan dijarah dan dibakar. Tapi berita yang paling mengejutkanku, di antara aksi demonstrasi menumbangkan sebuah rezim, beberapa perempuan etnis Tionghoa mengalami kejahatan seksual. Aku selalu berdoa semoga kamu bukan salah satunya. Aku tahu Mei, menjadi korban perkosaan itu sangat berat. Aku tidak ingin hal itu terjadi padamu, aku berharap dan sangat berharap sekali.

Aku tidak tahu bagaimana menghubungimu. Akhirnya aku menulis surat seminggu sesudahnya hanya untuk memastikan keadaanmu. Namun sebulan kemudian surat itu kembali dengan keterangan dari kantor pos bahwa alamat yang dituju tidak ada. Tapi aku tidak mungkin salah menulis alamat rumahmu Mei. Tanpa dicatat pun aku bisa mengingatnya. Rumah sekaligus toko bercat merah jambu di Glodok. Itu rumahmu Mei, yang hampir setiap Sabtu malam selalu kukunjungi.

Akhirnya aku menulis surat lagi, tetapi beberapa minggu kemudian surat itu kembali dengan keterangan yang sama. Beberapa teman yang coba kuhubungi juga mengatakan tidak tahu–––tapi itu salahku karena aku tidak pernah mengenalkanmu kepada teman-teman di kampus atau di pergerakan. Ingin rasanya aku kembali ke kota itu, yang sebagiannya menjadi abu. Tapi Bundaku selalu tidak mengijinkan. Aku sekarang anak tunggal Mei, maka wajar saja kalau Bunda mencemaskanku. Bunda tidak ingin kehilangan aku, setelah sebelumnya kehilangan Bang Haikal yang gugur setelah pasukannya digempur pasukan separatis di Aceh.

Hari berganti bulan dan tahun. Aku tetap saja tidak bisa melupakanmu. Aku sudah pasrah Mei, semuanya kuserahkan kepada Tuhan. Dalam suatu keremangan senja di atas pelabuhan di kotaku, aku sering memandang rembulan yang malu-malu mulai muncul dari balik sebuah pulau. Di sana banyak sekali perempuan remaja yang menghabiskan sore di sekitar dermaga. Di kotaku Mei, banyak terdapat gadis bermata sipit dan berkulit kuning langsat sepertimu. Tapi tak satupun yang sama denganmu, walaupun ada yang wajahnya mirip kamu, tetapi tetap saja ada yang beda. Kamu memang sangat istimewa Mei, bahkan mungkin sangat istimewa sekali.

Dalam pikiran burukku, mungkin kamu sudah mati dalam kerusuhan itu. Tapi aku sendiri tidak yakin kalau kematian itu yang memisahkan kita. Aku sudah sangat dekat denganmu Mei. Bukankah bila seseorang yang sangat dekat akan meninggal, kita akan diberi firasat. Tapi sampai sekarang ini aku tak pernah mengalami firasat apapun tentangmu, baik melalui mimpi atau kejadian lain. Itulah yang membuatku yakin kamu masih hidup. Tapi ke mana Mei, kamu tidak pernah menghubungiku bila masih hidup. Bukankah aku juga pernah meninggalkan alamat rumahku lengkap dengan RT, RW, nomor rumah dan telepon.

Atau kamu sudah pergi dengan lelaki lain, karena kecewa kutinggalkan di saat suasana sedang tegang. Ataukah kamu telah kembali kepada A Lung, pacar pertamamu dulu ––yang katamu sangat kamu benci karena dia berani berkencan dengan teman sekelasmu waktu di SMU. Pikiran-pikiran itu selalu menggangguku selama hampir enam tahun. Enam tahun Mei, bukan waktu yang singkat. Andai saja kita dulu kawin, mungkin dalam enam tahun ini kita sudah mempunyai anak dua atau tiga.

Walaupun berat aku berusaha melupakanmu juga. Apalagi di kampungku, sebuah kota nelayan di pinggiran Selat Malaka, aku dikenalkan oleh salah seorang pamanku dengan Hamidah. Seorang gadis Melayu yang anggun dan selalu mengenakan kebaya. Dia juga sangat cantik Mei, tapi tetap saja tidak sama denganmu. Bahkan yang kudengar dari Bundaku, perkawinanku dengan Hamidah rencananya akan dilangsungkan tahun depan. Mulai saat ini aku harus melupakanmu dan melupakan segala sesuatu tentang kamu. Liontin gambar naga yang kamu berikan saat ulangtahunku dulu juga harus kubuang, agar aku tidak mengingatmu lagi. Liontin kuno terbuat dari perak yang katamu untuk keberuntungan.

“Simpanlah Tan, walau apapun yang terjadi. Liontin ini warisan turun temurun dari keluargaku untuk diwariskan kepada anak laki-laki. Karena aku tidak mempunyai saudara laki-laki maka ini kuberikan kepadamu. Bersumpahlah untuk menyimpannya Tan, seperti sumpahmu untuk selalu mencintaiku,” katamu waktu itu. Aku teringat kata-katamu. Maka kubiarkan saja liontin ini menggantung di leherku. Kemudian kupandangi bulan di atas lautan itu lekat-lekat. Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu. Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku, kulupakan wajahmu*).
***

PELABUHAN Dumai, suatu senja di awal tahun....

Aku mendapat tugas dari media tempatku bekerja untuk melakukan peliputan ke Melaka, sebuah kota di tepi selatan Malaysia. Jaringan pengiriman TKI ilegal ke negara tetangga itu menjadi topik liputanku. Untuk melengkapi berita, aku harus melakukan investigasi ke Dumai, Malaka dan terakhir ke Singapura ––yang belakangan ini untuk menelusuri pengiriman TKI ilegal yang melewati jalur Batam. Semua dokumen dan peralatan kerja sudah masuk ke dalam ransel besar yang kugantungkan di punggung.

Beberapa menit lagi kapal akan meninggalkan dermaga. Aku bersandar di anjungan sambil melihat orang-orang yang masih keluar masuk kapal. Di antara ratusan penumpang, sepertinya aku melihat sebuah wajah yang sangat kukenal. Seorang perempuan bermata sipit berambut hitam lurus memakai jeans warna biru. Dia menggendong anak kecil berumur sekitar empat atau lima tahun. Tapi benarkah dia Mei, kekasih Tionghoaku yang selama ini kucari. Lalu anak siapakah yang ada dalam gendongannya. Kupandangi perempuan yang baru saja turun dari dek atas itu lekat-lekat. Wajahnya mirip sekali dengan Mei ku yang dulu, hanya saja agak kurus dan seperti ada lingkaran gelap di matanya. Tapi yang tak pernah kulupa adalah bekas luka di atas alisnya.

“Mei....” Untuk memastikannya, aku mencoba memanggil perempuan itu. Dia menoleh tapi kemudian berlalu. Aku mengejarnya, “Kamukah itu Mei,” kataku setelah sejajar dengannya.

“Siapa Anda? Nama saya bukan Mei, saya Elina,” katanya ketus.
“Nggak, kamu Mei kekasihku. Katakanlah kalau kamu memang Mei, selama ini aku selalu mencarimu,” aku tetap ngotot karena aku yakin dia memang Mei.

“Tidak, saya bukan Mei!” Kemudian dia segera berlalu dan turun dari kapal. Aku mau mengejarnya, tapi petugas dermaga menghalangiku. “Meiiiii....” Teriakanku berbaur dengan suara peluit kapal yang menandakan keberangkatan.

Kapal pelan-pelan mulai menjauh dari dermaga. Dari atas dek kulihat perempuan itu menatap kepergian kapal yang akan mengantarkanku ke Melaka. Dia juga menatapku lekat-lekat. Dalam keremangan senja kulihat perempuan itu menangis, air matanya menderas. Sementara anak kecil dalam gendongannya juga merengek-rengek. Aku yakin kalau dia itu Mei, wajah itu tidak pernah bisa kulupakan. Airmata itu, persis seperti airmata yang enam tahun lalu menderas menjelang kepergianku dari Jakarta. 

Tapi siapakah anak itu, apakah dia telah bersuami. Ataukah dia salah seorang korban perkosaan dalam tragedi kelabu itu, yang kemudian melahirkan anak dari kejadian yang tidak dia inginkan. Tapi hanya karena itukah Mei meninggalkanku. Kalaulah kamu tahu Mei, aku akan tetap menerimamu apapun yang terjadi. Tapi kapal ini tetap saja berlalu dan semakin menjauh dari dermaga, menembus keremangan senja yang keemasan. Aku tetap tegak mematung memandang pelabuhan yang semakin lama semakin hilang dari pandangan...***


Pekanbaru, Februari 2004

*)Mengutip dari sajak “Asmaradana” karya Goenawan Mohamad.