Bulan Merah di Atas Pelabuhan

Cerpen M Badri

Matahari jingga membasuh senja di tepian Selat Malaka. Bulatannya tinggal separoh, pelan-pelan beranjak ke peraduan menjemput malam seperti biasa. Beberapa menit kemudian kejora hinggap di langit yang telah berwarna gelap. Celah-celah anyaman rumbia mencuri sinarnya kemudian membawanya ke meja rumah, tepat didepan wajah Abah yang sedang merenung. Di depannya segelas kopi tanpa gula sudah hampir dingin, tapi Abah belum menyentuhnya juga. Hanya asap rokok kretek murahan yang sedari tadi keluar dari bibirnya.

Sudah seminggu ini kerjaan Abah hanya merenung. Satu-satunya perahu motor butut miliknya yang biasa digunakan melaut membisu dalam tambatan. Abah sedih. Tidak melaut berarti kebutuhan hidup juga harus macet. Tabungan Emak sudah habis untuk mengirim Abang yang kuliah di kota P sebulan lalu. Katanya Abang sedang menyelesaikan tugas akhir kuliah. Tidak lama lagi kata Emak, Abang akan menjadi sarjana. Yah, sarjana! Sebutan terhormat di kampung kami. Kebanyakan sarjana tidak mau pulang kampung. Mereka lebih suka bekerja di kota. Semoga Abang mau pulang kampung. Membangun kampung ini yang tidak maju-maju.

“Kamu juga harus bisa seperti abangmu. Walau kita miskin dan Abah Emak tidak pernah sekolah, tapi anak-anak Emak semuanya harus pandai. Abah dan Emak tidak ingin kalian begini, makanya Abah kerja keras di laut untuk membiayai sekolah kalian. Kalian harus rajin belajar supaya Abah dan Emak tidak kecewa.”

Emak pernah menasehatiku suatu malam menjelang tidur. Walau hanya singkat tapi kata-kata itu membekas dalam ingatanku. Aku ingin cepat besar. Ingin sekolah seperti Abang. Bisa membaca dan menulis. Sekarang? Aku belum lagi genap enam tahun.

Tapi melihat rembulan murung di wajah Abah aku jadi ikut sedih. Bukan tanpa alasan Abah tidak bisa melaut, kenaikan solar beberapa waktu lalu menyebabkan para nelayan di kampung ini tidak bisa mencari ikan. Barangkali ada cukong nakal yang menimbun atau mungkin juga menyelundupkannya ke negeri seberang.

Kalaupun ada solar sekarang ini harganya pasti berkali lipat dari harga biasanya. Sementara harga ikan sangat murah. Kalau dipaksa melaut Abah juga akan rugi. Abah tidak bisa melaut, orang-orang kampung juga begitu. Lautan Malaka yang biasanya begitu akrab dengan Abah kini sunyi. Kapal-kapal motor yang biasa lalu lalang seperti hilang.
***

Sepotong ubi rebus singgah di lambungku. Ditambah dengan segelas teh tanpa gula aku merasa pagi ini bisa memulai hidup. Hidup sebagai kanak-kanak yang belum mengerti benar tentang permasalahan yang sebenarnya sedang kami hadapi. Aku agak senang melihat Abah mulai melakukan aktifitas, namun sorot matanya tak bisa membohongiku, bahwa Abah masih bersedih. Di belakang rumah ia mulai menggerai jala. Menyambung tali yang putus.

Aku duduk dibawah pohon nyiur, tatapan mataku lurus kedepan menembus gelombang yang memercikkan buih-buih putih. Seekor camar terbang mengitari buah kelapa yang mengapung-apung ditengah laut. Masih belum ada kapal nelayan yang melaut. Laut sunyi, hanya hamparan biru membentang sepanjang samudera. Langit juga biru. Aku seperti berada di dalam sebuah lingkaran biru. Camar melengking terbang tinggi, lalu hinggap pada pohon siapi-api.

“Abah belum bisa melaut Nak.”
Suara Emak menyentakkan lamunanku. Lamunan kanak-kanak yang belum lagi tahu perjuangan hidup.

“Tadi surat dari Abangmu datang. Katanya dua bulan lagi kita disuruh datang ke kota P. Mendampingi Abangmu wisuda. Emak bangga Nak, kita yang miskin ini masih bisa menyekolahkan Abangmu sampai selesai. Kamu juga harus begitu. Bisa seperti Abangmu.”

Air mata Emak menetes di pipinya yang cekung. Guratan lembut di wajahnya menampung air bening itu sebelum diusapnya dengan kain. Matahari hanya sebentar membuat kilau wajahnya yang hitam. Pagi ini udara cerah. Aku akan mencari kerang di pantai seperti anak-anak yang lain. Bermain lumpur. Aku harus membantu Emak mencari uang. Umurku belum lagi enam tahun. Aku hanya bisa mencari kerang.
***

Malam hari aku paling suka berdiri di pinggir pelabuhan. Bersandar pada pagar kayu sambil melihat bintang di langit. Seperti kunang-kunang. Kadang aku membayangkan terbang ke atas sana. Lalu mengambilnya satu dan kujadikan lampu dirumah. Mengganti lampu teplok yang menimbulkan jelaga. Kalau tidak ada minyak rumah akan gelap. Bukannya bintang tidak perlu minyak. Selalu menyala setiap malam.

Minyak juga yang membuat Abah tidak melaut. Kenapa kehidupan di kampung ini tergantung minyak. Setiap tahun pasti ada masa orang-orang tidak melaut. Masalahnya tak lain karena harga solar mahal. Kadang tidak ada sama sekali. Aku pernah dengar di sekitar tempat Abang kuliah banyak ladang-ladang minyak. Karena berlebihnya sampai dijual kemana-mana. Tapi kata Abang, harga minyak disana juga mahal. Kadang sulit mencarinya. Aku tidak percaya.

Malam ini bulan purnama. Hari belum lagi tengah malam. Aku sendirian di pelabuhan. Aku paling suka melihat bulan bulat penuh berwarna kuning kemerah-merahan –aku menyebutnya bulan merah. Aku juga sering membayangkan bisa sampai ke bulan. Disana banyak cahaya. Tidak seperti di kampung ini yang gelap. Dengan cahaya terang aku bisa mengaji. Apakah disana juga ada surau?

Aku belum lagi enam tahun. Belum tahu apa itu bulan. Yang kutahu hanya aku paling suka melihatnya pada malam hari. Berdiri di pelabuhan. Siapa tahu pada salah satu kapal yang berlabuh ada Abang yang pulang kampung. Bulan merah di atas pelabuhan itu selalu membuatku bahagia. Sebentar aku bisa melupakan kesedihan karena Abah belum melaut. Kalau Abah melaut kadang aku suka melihat kepergiannya dari pelabuhan ini. Menatapnya sampai lampu kapal hilang ditelan malam. Abah mencari ikan dan pulang membawa uang.

Bulan merah sedikit tertutup mendung. Tapi sebentar kemudian terang lagi. Pada permukaannya seperti ada bintik-bintik hitamnya. Apakah itu rumah orang-orang yang tinggal di bulan? Apakah mereka juga melihat aku disini? Seperti aku melihat mereka. Alangkah bahagianya orang yang tinggal di bulan. Setiap malam diterangi cahanya. Mungkin mereka tidak bisa melihatku. Karena disini gelap. Tidak ada cahaya. Lampu-lampu diesel hanya hidup sampai jam delapan. Padahal kalau banyak minyak bisa sampai jam dua belas. Abah dan Emak tak pernah melarangku main di pelabuhan. Aku senang setiap melihat bulan merah.

Saat air laut mulai pasang dan angin berhembus kencang aku biasanya pulang. Meninggalkan bulan merah sendirian. Cahayanya mengantarkanku sampai kedalam rumah. Sebelum tidur aku masih sempat merasakan cahayanya yang menerobos dari celah-celah atap rumbia. Aku tidur ditemani sinar bulan. Aku juga pernah bermimpi berada di kampung bulan. Disana terang sekali. Orang-orangnya cantik dan tampan berkulit indah. Tidak seperti orang kampungku yang hitam-hitam. Disana juga ada pelabuhan dan orang melaut. Orang bulan melaut tidak pernah memakai minyak. Emak hanya tertawa sewaktu kuceritakan tentang mimpiku di kampung bulan.
***

Aku melihat Abah duduk di beranda rumah kami. Rumah kecil di perkampungan nelayan yang miskin. Rumah panggung berlantai kayu yang sebagian sudah lapuk. Pohon bakau tumbuh subur di sekitar rumah. Kepiting kecil banyak yang bermain-main disana.
“Abah masih belum melaut Mak?”
“Belum lagi Nak.”
“Kapan Abah melaut Mak.”

“Entahlah. Emak pun tak tahu. Tadi pagi Penghulu Marjikin katanya nak ke kecamatan. Mau menanyakan perihal ini. Apa pasal hingga setakat ini tak ada solar. Inilah susahnya hidup di kampung pinggiran Nak. Kita selalu terpinggir. Makanya kamu cepat besar dan sekolah seperti Abangmu. Kalau kamu pintar hidup tidak akan begini.”

Emak menghembuskan nafasnya dalam-dalam. Di wajahnya terlihat guratan kesedihan. Matanya menatap gelombang pasang. Deburan ombaknya menggetarkan dadaku. Abah belum melaut gara-gara tak ada solar. Kejamnya orang-orang yang tidak mengirim minyak kemari. Padahal di darat –sebutan kami untuk kota provinsi-- banyak ladang-ladang minyak. Apa salahnya membaginya kemari. Agar Abah bisa melaut.

“Benar ya Mak, yang dibilang Pak Cik Husin. Katanya di darat banyak sumur-sumur minyak. Sumur-sumur letaknya di ladang-ladang minyak. Iya Mak?”
“Iya benar,” katanya sambil menganyam tikar pandan.
“Ngambil minyaknya pakai ember seperti kita menyambil air ya Mak?”

“Ya tidak. Emak pun tak tahu itu. Tapi kata Abangmu mengambil minyaknya pakai pompa. Sumurnya dipompa. Itu kata Abangmu waktu balek kampung lebaran kemarin.”

“Ooo…….berarti tanah kita kaya ya Mak. Di darat banyak ladang minyak dan di laut banyak ikan.”

“Iya. Tapi kita tetap begini ini. Hidup miskin dan terbelakang. Dapat minyak saja susah, padahal ladangnya tak jauh-jauh amat. Dan… harga ikan murah sekali. Bagaimana kita bisa kaya.”

Emak terus menyulam. Selat Malaka masih juga lengang. Hanya sampan-sampan kecil dan orang memancing yang terlihat. Diatasnya camar terbang meliuk-liuk dan melengking. Langit berwarna biru bermahkota gumpalan awan putih. Cahaya matahari berkilauan menikam dasar laut. Hari cerah sekali. Tapi wajah Abah masih mendung.
***

Malam ini purnama masih singgah di kampungku. Seperti biasa aku duduk di pelabuhan. Walaupun disebut pelabuhan tapi suasananya agak sepi, karena tidak ada orang melaut. Padahal biasanya ramai. Semua gara-gara tak ada solar.

Bulan purnama yang bulat dan merah terlihat agak tertutup awan. Aku bersandar di pagar pelabuhan. Kepalaku menengadah keatas menatapnya. Di sekitarnya ribuan bintang mengelilingi. Bulan merah seperti raja di langit. Apakah disana ada perkampungan dan surau tempat mengaji? Mungkin disana tak ada ladang-ladang minyak karena orang di kampung bulan mungkin tidak perlu solar. Semua sudah terang. Tapi kalau ada, apakah orang bulan mau menjual minyaknya kemari? Naik apa ya. Mungkin tidak bisa. Kampung bulan jauh sekali.

Ditengah-tengah hayalanku tentang kampung bulan tiba-tiba aku dikejutkan oleh seseorang.

“Ehh… Ngape Dikau disini. Sudah malam cepat balek sana. Abah kau cari nanti.”
“Pak Cik Penghulu Marjikin. Dari mane….”
“Pak Cik baru pulang dari kecamatan. Orang kecamatan mau mengusahakan solar. Kalau tidak besok mungkin lusa sudah sampai kemari. Kasih tahu Abahmu nanti. Cepat balek sana, hari sudah malam.”

“Iya Pak Cik. Abah bisa melaut lagi?”
“Iya bilang nanti ya?”


Aku senang sekali. Tapi aku belum beranjak pulang saat Penghulu Marjikin sudah melangkah pergi. Aku masih memandang bulan merah. Deburan ombak Selat Malaka menggetarkanku. Aku senang Abah bisa melaut lagi. Besok pasti Abah akan dapat uang. Mungkin uangnya akan dikumpul untuk ongkos ke kota P melihat Abang jadi sarjana. Abah pasti senang dan Emak juga senang.

Aku masih berdiri di pelabuhan memandang bulan merah di atas kepalaku. Besok mungkin bulan merah tidak nampak lagi. Bulan depan baru datang, kalau cuaca masih cerah. Tapi aku senang, Abah bisa melaut. Saat mendung menutupi hampir separoh bayangannya, aku beranjak pulang. Diantar angin laut yang dingin dengan irama deburan ombak Selat Malaka.***

Pekanbaru, Agustus 2003