Pesawat Pekanbaru - Jakarta yang Terbang Menjelang Senja

Cerpen M Badri

Matahari sudah condong ke barat. Aku masih saja berkutat dengan laporan-laporan perusahaan yang harus kuserahkan ke kantor pusat di Jakarta besok pagi. Sebelum jam tiga sore harus selesai ku print-out. Lalu mandi, berkemas dan segera ke bandara untuk reservasi. Cukup dua stel pakaian yang kubawa, ditambah sebuah jas plus dasi. Besok pagi semua laporan harus kupresentasikan di hadapan direksi dan seluruh pimpinan cabang.
***
Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II, menjelang senja.
Aku hanya berangkat sendiri. Dua map laporan perusahaan sudah kumasukkan ke dalam kopor. Tak lupa notebook juga kubawa serta, mana tahu ada data-data yang belum kumasukkan. Sore ini juga aku harus berangkat, tidak dapat ditunda. Aku sudah menelepon hotel langgananku untuk check-in malam nanti.

Lima belas menit lagi pesawat akan berangkat. Seat di sebelahku masih kosong. Alamat aku tak akan punya teman ngobrol, seperti pada beberapa kali penerbangan sore. Hanya menjadi pendengar setia obrolan penumpang yang duduk di depan dan belakangku. Ada obrolan politik, kematian, seks dan entah apalagi. Seperti biasa, telingaku tak ubahnya tong sampah yang siap menerima semua pembicaraan mereka.

Di saat aku sedang menikmati kekecewaan ini, dua orang pramugari cantik melintas di depanku. Di belakangnya seorang perempuan bule berambut blonde agak keriting mengikuti sambil menjinjing tas kecil dan jaket warna hitam.

“It’s your seat miss..” kata pramugari itu.
“Thank’s”

Alamak, ternyata dia dapat seat di sebelahku. Sebelum meletakkan pantatnya di seat, dia tersenyum padaku. “Boleh saya duduk disini?” katanya dengan logat agak cadel, khas bule bila berbicara menggunakan bahasa Indonesia.

“Oh, please…” kataku mempersilahkannya.
“Pakai bahasa Indonesia saja, saya suka dengan bahasa itu,” jawabnya. Aku agak malu, kupikir dia kurang pandai bahasa negeri ini.

Kemudian dia menata duduknya. Diletakkannya tas kecil entah berisi apa––mungkin lipstik, bedak dan seperangkat perabotan wanita––di sampingku. Jaket beludru warna hitam tetap dipangkunya. Seketika harumnya parfum perempuan singgah di hidungku, menyusup ke sel-sel syaraf sehingga menggodaku untuk berlama-lama menikmatinya. Tubuhnya langsing terawat, mungkin dia rajin senam atau sejenisnya. Yang aku tak habis pikir, perempuan bule itu memakai pakaian teluk belanga. Berwarna biru muda dengan renda-renda lembut.

Pramugari mengumumkan kepada penumpang bahwa pesawat akan berangkat. Segera kukenakan sabuk pengaman. Pesawat berdengung disertai getaran-getaran halus. Tak lama kemudian, kami sudah meninggalkan bandara. Mulai menembus sederetan awan yang berbaris di sepanjang cakrawala.

“Hei, Anda melamun,” dia mengagetkanku beberapa saat setelah take-off.
“O..oh, tidak. Anda mau kemana?” kataku agak gugup.

“Mau ke Jakarta juga, lalu terbang ke New York. Oyaa, kita belum kenalan ya?” dia langsung saja mengulurkan tangannya padaku. Tanpa sungkan-sungkan kusambut tangannya yang lembut itu.

“Atan Surya Bersinar.”
“Tania Kinski. Panggil saja Nia. Anda asli orang Riau ya?” kemudian dia melepaskan genggaman tangannya. Padahal aku ingin berlama-lama menjabatnya.

“Iya, orang tua saya asli sini. Saya juga lahir di sini.” Kemudian aku menjelaskan asal usulku. Pekerjaanku dan ihwal kepergianku ke Jakarta. Tak lupa aku keluarkan joke-joke segar untuk menghangatkan suasana.

“Saya juga lahir di Riau, tepatnya di Minas. Dulu orangtua saya kerja di pengeboran minyak milik Caltex. Sejak tahun 1975 mereka sudah di sini. Tapi sekarang sudah pensiun dan kembali ke Amerika,” ucapnya sambil menatapku. Aku agak terkejut juga mendengar pengakuannya. Berarti dia orang Riau juga, yang kebetulan berdarah Amerika.

“Berarti sejarah hidup Anda ada yang tercatat di sini ya?”
“Bukan hanya tercatat, tapi sebagian besar terukir di Riau ini. Saya cinta dengan Riau, walaupun penduduknya banyak suku dan asal usul tetapi saling menghargai. Saya tinggal di Riau sampai umur lima belas tahun. Mau tidak mau saya harus ikut papa pulang ke Amerika.”

“Jadi kesini hanya sekedar reuni.”
“Saya kesini mengunjungi teman-teman dan Bu Siti, guru saya dulu. Dia sudah seperti orang tua saya sendiri, banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan darinya. Tapi sayang, sewaktu saya ke rumahnya di Duri, katanya dia sudah meninggal beberapa minggu sebelum saya sampai kesini,” katanya pelan. Ada raut kesedihan di wajahnya. Matanya sedikit berkabut, seperti langit sore entah di daerah mana yang tertutup awan kelabu. Mungkin matahari sudah tertinggal jauh di bawah sana, ditelan lautan atau sungai yang sedang banjir. Kemudian ada tetesan bening yang mengalir dari matanya yang kebiru-biruan.

“Maaf, saya telah membuat Anda sedih.” Kuulurkan sapu tangan warna biru muda kepadanya.

“Nggak apa-apa, saya memang sedang sedih. Dia sangat berarti bagi hidup saya,” katanya setelah menghapus cairan bening di matanya.

“Sebegitu berartikah sehingga Anda mau jauh-jauh datang dari Amerika hanya untuk mengunjungi bekas guru Anda?” kataku mencoba mengembalikan suasana.

“Iya! Perhatiannya kepada saya melebihi orangtua saya sendiri. Dia banyak mengajarkan adat-istiadat timur kepada saya. Sampai kembali ke Amerika pun kebiasaan itu tetap saya bawa. Saya banyak belajar budaya Melayu dari beliau. Saya pandai tari zapin, serampang dua belas, pakaian ini,” katanya sambil menarik sedikit bajunya. “Mungkin Anda tidak percaya kalau di Amerika sana saya sering memakai pakaian seperti ini. Saya juga mengajari anak-anak di sekitar rumah saya tari zapin. Mereka sangat senang sekali.”

“Hebat sekali. Itukah yang membuat Anda jauh-jauh kemari,” kataku penasaran.
“Betul. Umur saya sekarang dua puluh tiga. Hanya delapan tahun saya di Amerika, selebihnya masa kecil dan remaja saya banyak saya habiskan di Riau. Dulu banyak sekali teman-teman sekolah saya disini. Saya juga senang melihat deburan ombak Selat Malaka, bila ayah sedang off. Kami sering pergi ke Pulau Rupat dan pantai Selat Baru selama beberapa hari. Kadang juga jalan-jalan ke Istana Siak atau sesekali ke Batam dan Tanjungpinang. Banyak foto-foto yang saya bawa ke sana, dan saya perlihatkan kepada saudara-saudara saya. Apa komentarnya, It’s very beautiful… Soalnya mereka taunya Indonesia hanya Bali saja!”

Menarik sekali gadis ini. Aku tak pernah menyangka gadis bule ini pandai tatacara dan budaya Melayu. Mungkin waktu yang telah membentuknya. Percakapan semakin hangat saja. Kami saling berbagi pengalaman dan sesekali diselingi tawa kecil. Mendung dimatanya sudah hilang, begitu juga hujan yang tadi sempat luruh dari matanya sudah terhapus. Hanya keceriaan yang tersisa. Mungkin aku tak akan mengalami hal seperti ini dalam penerbangan-penerbangan berikutnya. Karena setiba di Jakarta dan menyelesaikan segala urusan aku akan kembali lagi ke Pekanbaru. Sementara dia hanya transit dan melanjutkan penerbangan ke New York.

“Bagaimana kabar keluarga Anda di sana? Apakah kerasan tinggal di Amerika!” tanyaku setelah sempat hening beberapa saat.

“Mereka baik-baik saja. Kalau dibilang kerasan bagaimana ya, sepertinya mereka ingin kembali ke Riau juga. Rindu dengan hutan-hutannya. Disana papa membuka peternakan sapi. Kami punya satu rumah yang arsitekturnya di buat seperti rumah-rumah Melayu disini. Papa dulu punya banyak kenalan, ada yang memberikan buku dan memberikan kenang-kenangan desain rumah Melayu. Agak lama juga selesainya, apalagi buat ukiran-ukirannya,” katanya begitu bersemangat.

Tak terasa sudah sekitar dua jam kami ngobrol. Perjalanan sepertinya begitu singkat. Pramugari mengumumkan sebentar lagi pesawat akan landing. Kutawari dia singgah di hotel tempatku menginap. Dia setuju untuk bermalam disana. Karena dia akan berangkat dengan penerbangan pagi. Bandara Soekarno-Hatta masih ramai.

Setelah mengemasi barang-barang bawaan aku memanggil taksi dan segera meluncur ke hotel. “Kabarnya Jakarta sangat rawan ya. Saya dengar di berita sering terjadi pengeboman oleh teroris. Yang jadi sasaran kebanyakan orang-orang seperti aku ini ya?” katanya tanpa mengalihkan pandangannya ke luar. Lampu-lampu kota seperti kunang-kunang yang berterbangan di antara gedung-gedung dan pepohonan. Di beberapa ruas jalan nampak polisi berjaga-jaga dengan senjata lengkap, untuk mengantisipasi kejadian buruk di akhir tahun. Seperti ada perang saja, pikirku.

“Tenang saja, Tania Kinski aman bersama saya,” kataku bercanda sambil mengacungkan tangan dengan posisi mirip orang memegang pistol. Mengingatkanku pada film-film laga buatan negerinya.

“Ah kamu.” Dia mencubit pinggangku. Agak sakit memang, tapi aku suka. Dia tetap memandang keluar. Sesekali berkomentar bila melihat sesuatu yang dianggapnya unik. Kusodorkan kepadanya sekaleng softdrink yang tadi kubeli di bandara. Lagu Honey, I’m Homenya Shania Twain mengalun dari sebuah stasiun radio yang dihidupkan sopir taksi. Jakarta masih sibuk dengan hiruk pikuk kendaraan. Sesekali gelandangan melintas di pinggir jalan.

Melintasi ruas-ruas jalan di Jakarta––apalagi malam hari––membuatku berpikir yang tidak-tidak. Aku membayangkan seandainya ada bom meledak di depanku. Lalu menghancurkan tubuhku dan tubuh Tania, mungkin juga sopir taksi. Tentunya penerbangan sore tadi menjadi penerbangan terakhirku. Atau kalau-kalau ada penjahat kapak merah yang menggedor kaca taksi saat berhenti di lampu merah, ih ngeri!

“Hai, melamun lagi ya!” Sikutnya disentakkan ke dadaku.
“Tidak. Hanya membayangkan seandainya…” Aku tak jadi meneruskan perkataanku. Jangan-jangan kalau kuteruskan dia malah merasa tidak nyaman.

“Seandainya apa?” serangnya.
“Eeh, seandainya kita bisa sering-sering bertemu.” Aku mencoba berbohong.
“Teruuus!”
“Yaaa, asyik aja!” Dia hanya tertawa.

Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 lewat saat kami sudah sampai di hotel. Segera kuhampiri resepsionis dan mengganti kamar yang telah kupesan dengan kamar superior double bed. “Kita satu kamar saja ya, biar bisa ngobrol-ngobrol. Aku belum ngantuk juga. Jangan kuatir aku takkan bergerilya,” kataku memastikan.

“Okey. Semoga menjadi malam yang menyenangkan.” Dia nyengir kuda.
Kemudian kuangkut barang bawaan yang tidak seberapa banyak, selebihnya dibawakan room boy yang mengantarkan ke kamar kami. Segera kurebahkan badan ke kasur hotel yang empuk. Kulepas baju dan kuganti dengan kimono yang telah disediakan. Tania juga begitu. Ranjang tidak jauh terpisah, sehingga kami bisa ngobrol sambil rebahan.

“Kapan lagi kamu datang kesini?” tanyaku memulai pembicaraan kembali.
“Entahlah, tergantung situasi. Kalau ada yang membuatku tertarik untuk datang, mungkin bisa sering-sering. Tapi delapan tahun aku di Amerika, pikiranku sepertinya masih disini. Aku terlalu cinta dengan Riau, apalagi budayanya. Sehingga aku sulit sekali beradaptasi dengan lingkungan baruku di Amerika sana.” Matanya menatap tajam ke arahku. Seperti ingin menembus jantungku dan mencari sesuatu yang tersembunyi di dalamnya. Aku balas menatapnya, mungkin dengan tatapan yang sama.

“Baguslah! Pernah nggak kamu berpikir untuk menetap di sini.” 


“Ada juga sich. Tapi aku sulit berpisah jauh dengan keluargaku. Aku sangat sayang dengan papa mama. Tapi aku juga sering rindu dengan tempat kelahiranku. Pernah kan kamu ke Sungai Siak? Dulu waktu kecil aku sering diajak papa naik perahu menelusuri tepi sungai sambil memancing atau sekedar menghabiskan beberapa roll film. Indah sekali bukan? Tapi itu hanya kenangan. Ingin rasanya aku kembali mengulang masa kecilku dulu. Kami dulu juga mempunyai kandang binatang yang banyak ditempati beberapa hewan tidak buas. Kebanyakan binatang itu pemberian orang-orang Sakai teman papa yang kebetulan mendapatkannya di hutan. Di Amerika aku hanya menemukan hal itu tadi dalam mimpi.”

Suaranya agak lirih. Matanya juga kelihatannya mulai redup. Malam ini dia harus istirahat, karena besok akan menempuh perjalanan jauh. Pergi ke belahan bumi lain yang jauhnya beribu-ribu mil. Aku juga harus istirahat supaya besok pagi lebih fit saat melakukan presentasi. Segera kumatikan lampu kamar dan kuganti dengan lampu tidur yang remang-remang. Samar-samar kulihat ada butiran bening menetes di pipinya, tapi segera dihapusnya sewaktu dia tahu aku melihatnya.

“Ingin mimpi apa kamu malam ini?” tanyaku sambil membetulkan letak selimut.
“Yang jelas aku ingin lokasi mimpiku di Riau!” dia menjawab sekenanya.
“Boleh aku numpang dalam mimpimu?”
“Itu yang aku harapkan!”
“Sampai jumpa dalam mimpi!”
***

Atan, awal bulan depan aku akan kesana. Papa mama mengijinkanku tinggal di Riau beberapa lama. Mereka juga menyarankanku untuk membeli sebuah rumah di sana. Supaya mereka juga bisa sering-sering datang ke Riau. Kalau bisa tolong carikan ya, yang dekat dengan Danau Buatan. Supaya setiap hari aku bisa melihat riak air danau dan pepohonan hijau di sekitarnya. Kebetulan rumahku disini juga dekat danau. Bila aku rindu pada keluargaku dapat diobati dengan melihat riak danau dengan buih-buih halusnya. Mau kan kamu menerima kehadiranku? Begitu salah satu dari ratusan e-mail yang ditulisnya sejak setahun yang lalu.

Bukan hanya mau tapi itu yang kuharapkan, pikirku. Awal pertemuanku dengannya di dalam pesawat yang membawaku ke Jakarta setahun yang lalu masih membekas hingga kini. Hari menjelang senja, kulihat matahari pelan-pelan hinggap di pucuk-pucuk akasia depan rumahku. Sinarnya menembus sampai ke dinding-dinding kamar dan menghadirkan sebuah silhuet keemasan. Aku akan menjemputmu di Bandara Sultan Syarif Kasim II. Segera kubalas e-mailnya.***

Pekanbaru, Desember 2003