Berburu Buku

Masih terngiang di ingatan saya berita tentang amukan api yang melumat sebagian pasar buku Palasari, Bandung, akhir Agustus 2007 lalu. Meskipun bukan kebakaran hebat, tapi dampaknya begitu terasa bagi banyak pecinta buku. Sebab pasar buku Palasari sudah menjadi salah satu ikon wisata Kota Bandung. Tempat banyak orang mencari buku murah, berwisata buku sambil menikmati keindahan kota kembang yang katanya jelita itu. Sebenarnya saya sempat enggan datang ke Bandung, karena tidak sanggup menyaksikan puing-puing di lokasi yang wajib saya singgahi, setiap mengunjungikota yang jaraknya kurang lebih tiga jam perjalanan dari Bogor itu. Tetapi ternyata Palasari sudah kembali bergeliat, tidak sampai dalam hitungan bulan sejak kebakaran kontroversial tahun lalu. Saya pun ingin datang ke sana.

Akhirnya setelah sempat tertunda beberapa kali, di pagi Sabtu awal Januari yang dingin, saya segera menuju terminal Baranangsiang, Bogor. Sebuah bus telah menunggu dengan penumpang hampir penuh. Saya mengira perjalanan akan melewati kawasan Puncak yang terkenal macet setiap akhir pekan. Namun ternyata melalui rute tol Cipularang, sehingga waktu tempuh menjadi lebih cepat. Hamparan perbukitan dan persawahan berjejer sepanjang jalan dengan eksotis. Itulah salah satu lekuk tubuh “Priangan Si Jelita” seperti disebutkan penyair Ramadhan KH.

Matahari belum terlalu tinggi ketika saya sampai di terminal Leuwipanjang. Lalu segera mencari angkutan menuju terminal Kalapa. Dilanjutkan dengan angkutan 01 jurusan Kalapa – Caheum, yang melewati depan pasar buku Palasari. Dalam perjalanan menyusuri kota Bandung dengan angkutan sekitar setengah jam itu, kesan “Priangan Si Jelita” perlahan memudar seiring dengan tumpukan sampah dan kekumuhan yang terlihat hampir sepanjang jalan. Plus kemacetan karena lalu lintas yang kurang tertata, pengemudi yang tidak disiplin, serta sumpah serapah di antara klakson kendaraan yang bising. Melihat itu, saya teringat dengan salah satu lirik nakal Doel Sumbang yang menyebut “kotakembang kini menjadi kota kambing.” Lho kok?!

Tiba di Palasari, saya nyaris tidak melihat perbedaan dengan suasana terakhir saya ke sana, beberapa bulan sebelum kebakaran. Benar, amuk api tidak membakar seluruh bagian pasar. Tidak seperti berita yang saya dengar dari beberapa media. Saya kemudian segera masuk pasar, ke los belakang menuju toko buku langganan, Bandung Book Centre (BBC). Aroma kertas segera menghampiri indra penciuman saya begitu sampai di toko buku dua lantai itu. Saya suka ke toko buku itu karena koleksi bukunya paling lengkap, tumpukan bukunya tersusun rapi berdasarkan topik sehingga mudah mencarinya, dan tidak perlu tawar menawar karena semua buku dipastikan diskon 30% dari harga normal.

Kali ini saya berburu buku-buku komunikasi. Untuk sementara, saya menahan hasrat untuk membeli buku sastra. Caranya, saya tidak melirik ke rak buku sastra agar tidak tergoda untuk memungutnya. Akhirnya berhasil juga, dari sekitar 20an buku yang saya ambil tidak satu pun buku sastra. Sebab saat ini memerlukan banyak buku ilmiah, untuk literatur dan referensi rencana saya menulis beberapa buku komunikasi. Memang, setelah menyelesaikan magister komunikasi pembangunan, saya terpancing untuk menulis buku ilmiah. Ingin menjadi sastrawan dan ilmuwan, suatu cita-cita sederhana.

Hampir dua jam saya terjebak di rak-rak buku. Memilih dan memilah puluhan judul buku berdasarkan prioritas. Menghabiskan anggaran yang setara dengan biaya hidup sebulan. Sebab tidak ada buku yang murah di Indonesia. Kegilaan saya terhadap buku sebenarnya tidak seberapa, dibandingkan sebagian orang yang mencari buku sampai trance. Sambil melenggang keluar pasar saya teringat salah satu judul buku tentang buku, “Aku Buku dan Sepotong Sajak Cinta.”

Setelah sholah dzuhur dan makan siang di belakang pasar, saya segera menghubungi kawan yang mengambil magister kenotariatan di Universitas Pajajaran. Kawan lama yang pernah agak dekat. Kami janjian ketemu di Bandung Indah Plaza (BIP). Saya pun segera mencari angkutan kota menuju kesana, meskipun sempat kesasar karena lupa berhenti di perempatan dekat plaza. Dia sudah menunggu di depan, lalu mengajak saya menuju foodcourt di lantai atas. Memesan dua gelas ice cappucino, kopi yang menurut Dee dalam “Filosofi Kopi”nya, sebagai kopi paling genit. Kesegarancappucino menemani kami ngobrol sekitar dua jam, tentang apa saja, dari yang paling serius sampai paling tidak serius.

Menjelang senja saya segera beranjak meninggalkan BIP, meninggalkannya, meninggalkan kotaBandung. Angkutan jurusan Dago – Kalapa telah menunggu di depan plaza, kemudian disambung angkutan jurusan Kalapa – Leuwipanjang. Tiba di terminal hari sudah mulai gelap. Sebuah bus AC jurusan Bandung – Bogor mengantarkan saya pulang. Menembus kemacetan kota yang dipenuhi mobil-mobil dari Jakarta. Melewati Cianjur dan kawasan puncak di malam hari, yang dari atas terlihat indahnya ribuan lampu yang bertaburan di lembah Bogor. Menjelang tengah malam saya sudah tiba di rumah. Lelah!***