Manekin dari Seberang

Cerpen M Badri

Aku tak tahu kenapa perempuan berwajah porselen itu senang berlama-lama duduk di kafe tepi pelabuhan. Memandang kapal-kapal barang bersandar memuntahkan ratusan kardus yang ditata semrawut di lambungnya. Tapi sejatinya mata sayunya tak berlabuh di kapal kayu tua itu, yang cukup uzur untuk mengarungi selat. Matanya menatap jauh, menembus ombak, kabut dan gugusan langit kelabu.

Di kota pesisir ini, sudah hampir sepekan dia menghabiskan waktu. Menikmati kebebasan setelah beberapa bulan terperangkap di istana vampir di negeri seberang. Istana yang dipenuhi wangi dupa. Meski di kota ini, dia juga harus menghirup bau asap pembakaran yang menyesakkan, setelah dua pekan dilanda kemarau.

“Aku menikmati ini. Aroma asap lebih wangi dari dengus nafas lelaki itu. Bau dupa di hidungnya seakan perlahan-lahan membunuhku. Dengan cinta! Ah cinta, cinta, cinta... Bukannya cinta tak pernah menyiksa?” katanya, lalu menyeruput secangkir kopi tubruk kental.

Slruuup!
Aku hanya ingin memastikan dia menikmati kota ini. Betah berlama-lama di sini, sambil terus bercerita tentang indahnya surga yang dia dengar sejak masa kecilnya. Surga di seberang, tempat orang-orang melabuhkan mimpi. Surga para perantau, yang sejak dulu menyihir orang-orang untuk menyeberangi selat dengan kapal semokel dan tinggal di sana. Bertahun-tahun, bahkan sampai beranak pinak, terkubur atau terpenjara.

”Tapi tak ada surga di sana,” katanya tanpa nada, sambil mengajakku berlalu dari kafe tua itu. Tatapan dingin kuli angkut menghantar kami, sampai menghilang ditelan senja yang membungkus jalan tanah berbatu yang dipenuhi bau ikan.
***

Sudah hampir sepekan aku menemani Rahama. Perempuan jelita yang kecantikannya tampak pudar, ketika terdampar di pelabuhan ini. Bersama kapal kayu yang dipenuhi barang-barang selundupan. Suatu malam, ketika bulan pucat dan awan abu-abu memayungi langit di atas selat.

Beberapa hari ini aku menamaninya menyisir pantai, memandang lumpur yang mengendap di akar-akar bakau, dan air laut berwarna kecoklatan yang surut. Kadang dia bercerita tentang kemiskinan, cinta, dan hasrat untuk melupakan masa lalu yang sekeruh sungai gambut di pinggir kota.

Sesekali aku mendengar dia menyanyi dengan bahasa yang tak kumengerti. Aku membiarkannya, menikmati udara segar yang berhembus dari laut. Ini barangkali akan menjadi terapi psikologis, setelah dia cukup lama terperangkap di dalam tembok istana yang dipenuhi vampir. Hijau bakau mungkin akan memulihkan pandangan matanya yang lama dipenuhi warna-warna putus asa. Dari lukisan serigala, ular berkepala dua, juga cambuk dan silet yang setiap hari membuatnya mengerang di ranjang.

”Aku pernah punya hasrat bunuh diri. Tapi pasti akan buruk kalau arwahku selamanya terperangkap di sana. Ide sialan itu mungkin malah akan membuatnya tertawa puas. Penuh kemenangan setelah setiap hari menghisap darahku saat nafsu iblisnya datang tiba-tiba. Ah, setiap kali bercinta, aku seakan sedang bersetubuh dengan bekantan yang terbiasa memuaskan betinanya sambil melompat-lompat di atas pohon,” katanya lirih, sambil melempar kerikil-kerikil kecil ke pantai.

Akhirnya porselen jelita itu, mengaku menjadi manekin penghias istana. Kadang dipajang di gerbang, ruang tamu, aula, bahkan keliling ke berbagai kota dengan kereta yang menderu seperti bunyi letusan bom waktu. Ia pernah ingin pulang ke kampung halaman, menjadi gadis dusun yang setiap hari pergi ke kebun. Atau tinggal di kota menjadi penyanyi dan foto model.

Tapi pria yang disebutnya berhidung mirip bekantan itu, seolah merampas masa kecilnya. Kenapa kau bisa sampai ke pulau penuh bujukan surga itu, Rahama? Tapi dia tak langsung menjawab. Hanya merapat kepadaku, sambil mengeluarkan bisikan seperti desis rahasia yang biasa diucapkan orang-orang yang menyimpan banyak teka-teki. ”Aku terbius bujuk rayu yang dihembuskannya suatu malam. Penuh wewangian materi dan ketulusan hati,” bisiknya.

Tapi aku tak begitu saja mempercayai ucapannya yang tersusun rapi. Seperti barisan puisi dengan bahasa tak pasti. Bagaimanapun, dalam kondisi masih labil dia menyimpan banyak tanda tanya. Apalagi aku dan dia baru berinteraksi sejak Trauma Center tempatku menjadi volunter memintaku mengatasi post traumatic stress disorder yang dialaminya. Dan butuh waktu lama menghilangkan efek traumatik itu. Sebab korban kekerasan, biasanya mengalami kondisi berkurangnya respons terhadap sekitar. Sayang sekali kalau perempuan secantik dia kehilangan fungsi adaptif terhadap lingkungan.

Apalagi, raut wajahnya terlihat pernah memancarkan keceriaan di masa lalu. Perlahan, Rahama, aku akan membersihkan debu kelabu yang menutupi kilau tubuhmu yang dipenuhi grafiti cakaran kelelawar. Melarungnya ke dasar selat, hingga porselen jelita itu terbebas dari sihir pangeran vampir yang telah menghisap sebagian mimpinya. Aku ingin kau muncul dari laut serupa duyung yang berenang di kolam penuh bunga dan wangi serimpi.
***

Perempatan kota, setelah senja.
Kota renta ini seperti bereinkarnasi. Barisan pedagang kaki lima tampak lincah memenuhi pedestrian yang diselimuti lumut dan rumput. Dari persimpangan yang dihuni patung ikan, aku mengajaknya jalan kaki menikmati lampion yang menyala di teras toko-toko Tionghoa. Juga irama keloneng becak yang bersahutan dengan bel sepeda, lalu lalang seperti pasar malam.

”Sudah lama aku tak melihat suasana seperti ini. Kota tua dengan arsitektur masa lalu yang bertahan digerus peradaban. Ah, tapi suasana seperti ini malah mengingatkanku pada lanskap kota vampir seperti di film-film kolosal. Vampir, vampir, vampir... Apa yang dibuat pangeran kelelawar itu sekarang? Apakah dia mencariku seperti anak yang kehilangan mainan? Aku harap dia tak menemukanku di sini,” katanya, menerawang pada hamparan lampion yang berjejer di sepanjang jalan.

Di antara pancaran cahaya petromak yang tergantung di gerobak martabak, wajah porselennya terlihat lebih putih dibanding beberapa hari lalu. Bibirnya tak lagi sekelam jelaga lilin yang dijejer penjual jagung bakar di meja-meja kayu yang tersuruk di bawah pohon ketapang. Pipinya juga lebih gendut, persis bakpao tembam yang dipajang di etalase kedai kopi Cina.

Pantas saja pangeran vampir yang sering kau sebut itu memperlakukanmu seperti manekin. Mungkin saja dia menjadi gila karena terlalu cinta kepadamu. Sehingga dengan tingkah paling aneh, berhasrat mengukir tubuhmu sampai benar-benar sempurna. Saking cintanya, dia terjangkit hiper posesif hingga mengalami rasa takut paling akut untuk kehilanganmu. Aku curiga, menjelang pelarianmu dia tengah berencana membalsem tubuhmu supaya menjadi mumi abadi. Dia ingin hidup selamanya, bersamamu Rahama. Bukankah vampir tak pernah mati?

Rahama mengangkat alisnya yang tebal seperti sabut pohon aren. Di balik rambut sulurnya yang tersibak, dia memperlihatkan bekas sundutan cerutu berbentuk mata dadu berwarna coklat tua. Lalu memperlihatkan sisi kiri lehernya, penuh bekas cupang merah marun dengan beberapa pasang titik keruh. Seperti bekas gigitan ular berbisa yang tersebar tak merata.

”Dia selalu bercinta sambil mengeluarkan suara semua penghuni hutan. Tapi yang paling neraka, ketika dia menciumku setelah menghabiskan satu drum wine hasil fermentasi berabad-abad lalu. Seakan nafsu semua binatang buas bersarang di tubuhnya. Kau mungkin bisa membayangkan bagaimana aku beberapa kali pingsan dan hampir mati melayaninya?!” Rahama meradang.

”Huhhh!”
”Dan kau masih mencintainya?”
”Aku bahkan tak mengerti apa itu cinta.”
”Jadi bagaimana selama ini kau bisa bercinta dengannya di atas kapal pesiar, sambil mengelilingi samudra.”
”Aku tak menikmatinya.”
”Apakah...”

”Sudahlah! Sebaiknya kau tak usah menanyakan masalah itu. Penderitaanku tak perlu dijelaskan dengan kata-kata. Harusnya melihat semua luka di tubuhku kau sudah bisa membayangkannya.”

Matanya mendelik. Lalu bergegas meninggalkanku di dekat kuburan tua, salah satu landmark kota yang dipenuhi puluhan pohon ara. Dia menuju ke hotel, yang letaknya sekitar seratus meter dari sini, dan dua ratus meter dari persimpangan yang dihuni patung ikan tadi. Aku tak hendak mengejarnya. Duduk di bangku batu di bawah pohon ara, barangkali bisa membuatku berpikir bagaimana mengorek semua isi kepalanya. Lalu mencari cara paling manjur untuk membuatnya waras dari sihir pangeran vampir.
***

Bundaran HI, tengah hari.
Dari sebuah kafe di hotel legendaris, aku melihatmu berdiri di bawah kucuran air mancur yang membuat kuyup para demonstran. Patung Selamat Datang masih berdiri melambai ramah kepada siapa saja yang mampir. Bahkan vampir sekalipun. Di sela-sela pekatnya debu polusi, kau melambaikan tangan ke arahku. Lalu kembali berteriak-teriak dengan bahasa samar, bersama para aktivis feminis.

Aku takjub pada patung muda-mudi menggenggam bunga berwarna tembaga itu. Seperti gambar di kartu pos yang sepekan lalu kau kirim ke rumahku di kota pesisir. Kau masih berwajah porselen. Seolah tak menampakkan bekas luka dari cinta neraka yang pernah kau ceritakan kepadaku.

”Aku seperti peri yang berhasil pulang ke negeri dongeng setelah sayapku terbenam di kolam lumpur. Hasrat hidupku lebih tinggi setelah aku merasa benar-benar bebas dari sihir vampir tampan itu. I have to continue my entire life.”

Aku kembali menimang-nimang kartu pos warna coklat muda di meja. Dari jauh, kau terlihat berjingkrak-jingkrak seperti anak kanguru baru lepas dari kantungnya. Sesekali kau berdiri tenang seperti manekin hidup yang ada di plaza pinggir jalan sana. Aku beranjak dari kursi. Kopi terakhir yang tersisa di cangkir segera kuseruput.
Slruuup!
Kau masih tetap menyimpan banyak rahasia. ***

Pekanbaru, Juni 2009

Dimuat Riau Pos, Ahad, 5 Juli 2009