Musisi Tua

Dari balik lensa matahari pagi
aku melihat jemarimu memetik sunyi
menyusun beberapa simfoni
di antara secangkir kopi
dan sekerat roti

Di sebuah kedai
kursi bambu betung
menjelma panggung
beriring tetabuhan
lautan dan dedaunan

Sepasang stiker kehidupan
melekat di lekuk gitarmu
yang selalu gemetar
saat menerjemahkan nada
dengan suara samar

Menyanyikan perjalanan
yang menjadi kenangan
tanpa luka
menggarami cinta
pada suatu masa

Di sepanjang dawai
ada cerita tersembunyi
yang mengalun merdu
dalam lagu sendu
serupa duka rindu

2011



Amsal Perahu
: Machzumi Dawood (Alm.)

Sebuah perahu kembali ke dermaga
setelah mengarungi lautan kata
ombak sajak
badai puisi
berkawan matahari dan pelangi

Bersebati dengan karang
para petualang
sambil berbagi cerita
tentang cinta
tentang luka

Di setiap persinggahan
mengabadikan imaji
di ruang paling sunyi
sambil bertopeng bulan*
menulis sajak untuk dia*

Bertahun-tahun
mengeja silsilah kata
dan muasal tanda
dalam jemari*
ibu puisi

Tiba di bandar paling sepi
ia berorasi*
di antara dua perahu*:
“Ketika aku tak berdarah lagi
sambutlah aku
dalam tanah kosongMu”**

2012

* Beberapa judul sajak yang pernah ditulis Machzumi Dawood
** Mengutip kata-kata dalam “Puisi untuk Negeriku” karya Machzumi Dawood



Tanda di Atas Pasir

Badai menerbangkan pasir
yang diburu para serdadu
di rerimbun batu nisan
seperti riuh ikan
tersangkut jaring nelayan

Reranting di atas dangau
melesat seperti peluru
ke kafe-kafe
berirama sumbang
di bising malam

Kau di sana,
mengayuh murka
sambil meniup bara
yang menyala di kepala
sejak kapal tiba

Ini bukan sandiwara
katamu, sambil meracik kata
yang terserak di pinggir kota
ditemani para bidadari
dari ujung hati sampai mata kaki

Lalu kau tiup juga
lilin yang melelehkan ingatan
tentang kematian
kampung halaman
dan sedu sedan

2011