Badai Jelita
KATRIN. Namamu mengingatkanku
pada badai yang pernah mengamuk di semenanjung Florida. Hingga kini pun, aku masih bisa merasakan hembusan nafasmu yang beraroma dendam dan kebencian. Padahal kau hampir menghabiskan secangkir long black. Menghangatkan tubuh indahmu yang tersamar gaun
tipis warna gelap. Dari dinginnya senja Jakarta yang diguyur gerimis sejak jam tiga. Di sudut temaram kafe di samping taman
kota.
Entah kenapa, matamu memandang sinis pada dua remaja yang
berlari-lari kecil di depan
plaza. Berpelukan di bawah jaket beludru merah jambu. Kedua mata sayumu memandangi mereka. Sejak keluar dari taksi sampai hilang terbawa
eskalator yang bergerak menuju resepsionis hotel. Lalu kau kembali menatapku,
sambil menggoyang-goyangkan sisa kopi di cangkir. Tersenyum kecut, serupa mimik patung
kepala rusa di dinding kafe.
“Sampai di mana?”
“Sampai kau menatap sinis dua remaja tadi,” kataku
keluar dari pembicaraan semula.
“Huhhh...” dia mendengus, masih dengan nada sinis.
“Kamu tahu besok hari apa?”
“Rabu...”
“Bukan!”
“Benar kan, sekarang Selasa?”
“Kamu bego
apa memang nggak tahu?”
Suaranya agak meninggi, mendekatkan bibir
eksotisnya ke telingaku. Aku terdiam sejenak, memikirkan maksud lain dari
pertanyaan ketusnya tadi. Dia malah memandangku melotot. Menunggu kepalaku yang
terlanjur dipenuhi angka-angka.
“Oh iya, aku tahu maksudmu! Lalu kenapa? Bukankah
kasih sayang itu penting, Katrin?”
“Penting, hanya untuk malam ini saja...”
Dia menghembuskan asap rokok ke atas, sambil
mendengus pelan. Wangi kopi seketika
bercampur asap tembakau. Menghasilkan komposisi ganjil.
“Setiap tahun pada tengah bulan ini, jutaan
perempuan di dunia selalu menjadi korban. Korban kasih sayang, bullshit!”
“Wow, sinisme feminis di kepalamu bangkit lagi!”
Kataku mencibir.
“Memang begitu kenyataannya, kan? Laki-laki nggak
usah munafik! Jangan-jangan kamu salah satunya, huh..”
“Kok?” Aku heran, tiba-tiba dia mempersonifikasi
diriku dengan sikap alerginya terhadap laki-laki.
“Atas nama kasih sayang... Aku yakin pemuda sialan
yang memeluk pundak pacarnya tadi, yang pura-pura melindungi kepala pacarnya
dengan jaket dari rintik gerimis, merayunya bercinta semalam suntuk. Bercinta
seperti orang mabuk. Melampiaskan nafsu yang sudah menumpuk.”
Suaranya berhenti sejenak, tenggorokan Katrin
serak.
“Lalu, sepekan kemudian dia mulai jarang
menemuinya. Sebulan kemudian jarang menelponnya. Tiga bulan kemudian mulai
mencari alasan untuk membuat keributan. Beberapa bulan kemudian mereka tak akan
pernah terlihat bersama lagi. Betapa celaka nasib perempuan ingusan tadi,
bukan?”
“Kafein memberi pengaruh buruk di pikiranmu,
Katrin”
“Kenyataannya memang begitu. Kasih sayang menjadi senjata ampuh kebanyakan laki-laki, untuk memasuki rahasia tubuh perempuan.... Huh!”
Dia menggeser posisi duduknya. Kembali menyalakan
sebatang rokok bergambar sepasang kuda berahi. Mengangkat sebelah kakinya ke
paha. Membiarkan betis putihnya yang dihiasi tato burung kolibri, kejatuhan
percikan bara dan jelaga tembakau. Matanya menerawang ke masa lalu. Mengeja
cahaya lelampu warna ungu yang menyala temaram di sekeliling kafe.
***
Mungkin kau perlu mendengar cerita ini.
Rita. Adik perempuanku satu-satunya. Saat itu sedang
ranum-ranumnya. Seperti kebanyakan gadis remaja yang baru masuk SMA, dia dengan
bangga memamerkan kekasih barunya. Kakak kelas yang tubuh dan kehidupannya
nyaris sempurna. Anak politisi ternama. Tapi aku tidak terpengaruh.
Kesibukan tugas akhir kuliah dan aktivitas di sebuah NGO membuatku tidak
terlalu berpikir tentang laki-laki.
Hanya sekilas saja. Laki-laki belum menjadi bagian
penting dari hidupku. Apalagi di NGO itu, hampir saban hari aku diberi doktrin-doktrin
tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan. Terlalu sibuk dengan buku-buku dan
program kerja, aku lupa mendoktrin adikku sendiri. Tentang mahluk bernama
laki-laki. Kau tahu, Jakarta kota yang teramat binal dan liar.
Minggu kedua Februari. Sekuriti hotel mendapati dia
tergeletak di depan pintu kamar mandi. Dia mabuk berat. Sendirian. Pada suatu
pagi yang sunyi. Aku sebelumnya tidak pernah melihatnya mabuk. Tapi pagi itu dia tersungkur
dan tertidur. Tubuhnya nyaris telanjang. Ada
noda-noda dan bercak luka di bagian rahasia tubuhnya. Kau pasti tahu apa yang
sudah terjadi.
Seperti yang kukatakan tadi. Setelah Februari dan
seterusnya dia tidak pernah lagi bersama laki-laki muda itu. Rita sendirian. Mengeja
waktu bersama perutnya yang terus tumbuh. Dalam sendiri dia menjadi limbung. Murung.
Aku melihat siklus badai membentuk lingkaran absurd di sekeliling matanya yang
sendu. Suhu tubuhnya sering naik, emosinya meledak-ledak. Jiwanya semakin labil.
Hingga suatu malam saat hujan mengguyur kota. Polisi mendapati laki-laki muda itu tersungkur. Pisau berwarna saga menancap di dadanya. Di dekat pintu kamar mandi sebuah kafe, yang dindingnya dipenuhi foto telanjang segala rupa. Semua saksi melihat, penyebab laki-laki muda itu tewas adalah perempuan dengan badai di matanya. Segera saja Rita ditahan. Dia akhirnya melahirkan di penjara. Membesarkan anaknya di balik jeruji.
Anaknya perempuan, cantik, dinamai Sandy. Aku
tidak tahu kenapa orok jelita itu, dinamai sama dengan badai yang pernah menerjang
kawasan Karibia dan Bahama. Kau tahu, banyak perempuan yang membawa badai di
balik kelembutannya. Barangkali karena itu juga, hampir semua badai paling
mematikan di dunia dinamai dengan nama-nama feminin? Huh!
Oh iya, ada yang bilang, badai dinamakan identik
dengan nama feminin karena prosesnya yang cukup panjang dan berlangsung lama. Sesuai
dengan karakter perempuan. Bila marah, emosinya lama reda. Sedangkan topan
dinamakan identik dengan nama maskulin, karena berlangsung cepat. Entahlah...
Perempuan mungkin akan menghempaskan badai,
setelah tidak terjadi keseimbangan pada suhu darah, detak jantung, syaraf dan
jiwanya. Terutama kalau dipicu energi laki-laki yang tidak bersahabat atau
berkhianat. Sehingga terbentuklah gelombang badai, yang merupakan kombinasi
antara pusaran dendam dan kumpulan kebencian. Itu hanya asumsiku.
***
Aku membiarkan Katrin bercerita sampai usai.
Terlihat dua kanal mengalir dari sudut matanya
yang memerah. Meski intonasi suaranya menunjukkan ketegaran, sebagai wanita dia
tetap saja tidak bisa menyembunyikan kesedihan. Hatinya yang galau menghimpun
badai. Otot matanya kemudian menjebol bendungan di dalamnya. Dia menangis juga.
“Sudah, Katrin...”
“Aku tidak pernah bisa melupakan itu. Pertengahan
Februari seperti malam ini, selalu mengingatkanku pada kebodohan Rita. Juga
kebodohanku sendiri. Kebodohan banyak perempuan. Pada malam di mana
perempuan-perempuan belia di seluruh penjuru dunia, ramai-ramai menelanjangi
nasib buruknya.”
“Karena itukah, kau semakin alergi pada
laki-laki?”
“Huh... Bukan berarti aku memiliki hasrat bercinta
dengan perempuan!”
“Lalu?”
“Hei..! Kau tidak sedang berusaha merayuku, kan? Sumpah,
aku akan membunuhmu!”
“Ha-ha-ha-ha-ha...”
Katrin melotot. Nyaris saja tangannya menyambar
hiasan kepala rusa bertanduk yang dipajang di atas kafe. Lalu kembali diam di
sudut sofa. Menyulut sebatang rokok. Tangan kirinya menyeruput sisa kopi.
“Slurrrp...”
Hampir tengah malam. Katrin kembali memandang
sinis sepasang remaja sore tadi. Saat mereka berjalan menuruni eskalator.
Perlahan, tampak gontai, menuju keluar. Gadis itu menenteng jaket beludru merah
jambu dan mengapit setangkai mawar layu di celah jari tengahnya. Wajahnya
terlihat pucat, tersapu cahaya lampu lobi hotel yang temaram. Berjalan menunduk
tanpa sepatah kata. Tidak cekikikan seperti senja tadi.
Sedangkan laki-laki muda, berjalan di sampingnya
sambil menggandeng tangan. Wajahnya sumringah. Seperti baru saja memenangkan
suatu pertarungan. Sesekali ia tertawa sambil menyeringai pada kekasihnya.
Seperti patung singa yang berdiri angkuh di luar plaza. Dia terus melangkah
dengan gagah ke tepi jalan raya. Menghentikan taksi dan meluncur entah ke mana.
Aku melihat badai berkecamuk di mata Katrin.
Sepertinya badai itu muncul, setelah dia juga melihat benih-benih badai mulai
membentuk pusaran di mata gadis belia tadi. Katrin terdiam. Seperti menghimpun
kekuatan. Ingatannya kembali menerawang ke belakang. Mengingat Rita yang tadi
diceritakannya. Juga Sandy, badai cantik yang lahir di balik jeruji. Langit
kota mendung pada dini hari. (*)
Cerpen ini dimuat di Riau Pos, 28 Januari 2024












No comments
Post a Comment