Sastra Koran, Sastra Saiber dan Sastra Apa Lagi?

Oleh M Badri

Membaca rubrik Budaya Riau Pos edisi Ahad dalam tiga pekan terakhir (6, 13, dan 20 Februari 2005) saya seperti melihat suasana lain di tengah ‘keheningan’ sastra Riau. Praktis ini merupakan perdebatan kreatif yang baru muncul lagi sejak beberapa bulan lalu, saat Syahrul Tombang menulis esai “Sastra, Sebuah Agama Baru (?)” dan melahirkan polemik di media massa. Tradisi ini sangat positif dilakukan karena dapat memunculkan pemikiran-pemikiran baru dalam perkembangan sastra di Riau. Sebab gairah sastra sedikit banyak terbentuk dari berbagai diskusi––terlepas apa pun mediumnya.

Membaca tiga buah esai secara berturut-turut yang saling terkait secara tematik, membuat saya tergelitik untuk ‘latah’ menanggapi beragam pemikiran yang telah tersaji. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa peran media massa sangat besar untuk melahirkan sastrawan dan karya sastra. Mungkin itulah yang mendasari tulisan Hary B Koriun dalam esai “Simbiosis Mutualisme antara Sastra dan Media Massa” yang mengatakan bahwa hubungan karya sastra dan media massa di Indonesia, merupakan fenomena unik yang merupakan sebuah hubungan yang saling menguntungkan (simbiosis mutualisme).

Kenyataannya memang demikian, media massa lebih dekat dengan pembaca dibanding dengan media lain. Sebab pengakuan kualitas (?) karya sastra tetap tergantung kepada penilaian publik pembaca. Bahkan pernah terjadi suatu karya sastra dianggap tidak pernah ada atau berhenti diterbitkan karena mendapat protes dari pembaca. Maka tidak heran bila banyak penulis selalu mengikuti keinginan pembaca supaya laku di pasaran. Seperti fenomena mutakhir sastra Indonesia saat ini, yang sedang dilanda demam teenlit dan chicklit, yang menurut bahasa Arswendo Atmowiloto disebut sebagai “sastra jerawat” yang muncul di ruang dan waktu sesaat seperti tumbuhnya jerawat.

Kembali kepada masalah hubungan ‘intim’ antara sastra dan media sastra, saya menilai (secara subyektif) tidak perlu ada pengkotak-kotakan media massa. Sebab semua bentuk publikasi bisa disebut sebagai media (untuk) massa. Kalau memang demikian apa perlu lagi kita membahas sastra koran? Toh, kenyataannya hampir semua media massa besar––termasuk Riau Pos––mempunyai media online yang menampilkan karya sastra dalam multimedia. Sehingga perbincangan sastra koran menjadi tidak menarik lagi bila kita melihat perkembangan saat ini. Menurut hemat saya biarkanlah sastra dibicarakan secara ‘telanjang’ tanpa mempersoalkan jubahnya (baca: media) baik itu koran, majalah, internet, buku, dan sebagainya. Sebab sastra sendiri juga bisa selalu berganti-ganti media, sebagai contoh tidak sedikit karya sastra yang dimuat di koran kemudian juga dipublikasikan secara online dan dibukukan.

Setelah membaca esai Pandapotan MT Siallagan “Kembali Memperbincangkan Sastra Koran” dan mengajak sastrawan Riau untuk memperbincangkan sastra koran, saya menilai ide ini sudah terlambat untuk dibicarakan saat ini. Memang tidak dapat dipungkiri kalau sebagian besar sastrawan tumbuh dan berkembang dari media koran. Tapi saya tidak sepakat bila disebutkan fakta bahwa sastra dan sastrawan Indonesia hari ini adalah sastra dan sastrawan koran. Dengan pernyataan seperti itu saya menilai Pandapotan terlalu mengkerdilkan media lain semisal buku dan cyber (lebih enak ditulis: saiber). Mengingat ruang pembaca media koran masih terbatas dalam cakupan wilayah koran tersebut diterbitkan. Mungkin beberapa waktu lalu saya tidak akan pernah mendapat e-mail dari sahabat peminat sastra di belahan bumi lain setelah mengakses situs www.riaupos.com, bila Riau Pos sebagai koran lokal tidak mempublikasikan karya sastranya secara online. Meskipun dengan jumlah pembaca terbanyak, tetapi media cetak (koran) tetap tidak bisa menembus ruang dan waktu.

Munculnya berbagai mailinglist sastra juga tidak bisa dipandang dengan sebelah mata. Begitu juga dengan berbagai situs ‘amatiran’ yang dibuat banyak orang dan dapat dengan mudah diakses oleh siapa saja di mana saja. Di media tersebut orang bebas memunculkan karyanya untuk dibaca tanpa harus berhadapan dengan tangan besi ‘kediktatoran’ redaktur budaya. Bukankah orang menulis karya sastra memang untuk dibaca siapa saja? Dan semua penulis pasti bangga bila karyanya dibaca orang, apalagi kalau kemudian dipuja (atau) dicerca. Sebagaimana esai Binhad Nurrohmat “Mencari Mutiara dalam Tumpukan Sampah Saiber” yang pernah dimuat Republika (maaf lupa tanggalnya), dia menuliskan bahwa, “medium komunikasi teks sastra ini di luar dugaan ternyata ‘merangsang’ banyak orang menulis atau mengirimkan teks sastra. Sejumlah nama penulis baru (yang masih a-historis) bermunculan, termasuk beberapa dedengkot penulis senior yang populer. Barangkali, situs sastra saiber ibarat alun-alun raksasa yang nyaris tak mustahil menghimpun siapa pun dan sebanyak apa pun nafsu untuk menulis. Lalu lahir komunitas sastra saiber. Sastra saiber sepintas mencerminkan getaran ‘sihir’ yang merangsang eforia menulis, menciptakan ruang demokratisasi menulis yang tak terkirakan kadar kebebasaannya. Sastra saiber kemudian menjadi ekologi teks yang rimbun dan ramai di balik kemayaan yang dingin dan misterius itu.”

Walaupun demikian, dalam perjalanan ‘demokratisasi menulis’ media saiber sering dianggap sebagai media sastra yang ibarat ‘tong sampah’. Pendapat ini muncul karena media ini memuat berbagai bentuk karya sastra tanpa proses seleksi sehingga menyebabkan hancurnya ‘moralitas’ menulis yang ditandai dengan munculnya teks-teks liar tidak bertanggungjawab. Kalau estetika karya sastra diukur dari ‘moralitas’ teks, lalu bagaimana dengan karya-karya ‘panas’ Djenar Maesa Ayu, Hudan Hidayat dan sebagainya yang muncul di koran-koran besar semisal Kompas, Koran Tempo dan Media Indonesia yang (katanya) telah melalui seleksi dengan ketat? Melihat hal ini saya beranggapan bahwa sastra saiber sebagai bentuk alternatif atau perlawanan terhadap arogansi sastra koran dengan selera subyektif redakturnya semata.

Tapi saya mengingatkan jangan pernah berharap mendapat honorarium dari penerbitan karya sastra di media saiber. Sebab sastra saiber umumnya muncul bukan sebagai ‘media kapitalis’ yang mendapatkan keuntungan dari penerbitan karya sastra itu. Bahkan tidak sedikit yang gulung tikar karena tidak ada founding dan pengelola yang setiap saat mau berprofesi sebagai ‘pekerja sosial’ di bidang sastra. Itulah kelemahannya, sehingga koran tetap menjadi media terdepan karena secara ekonomis relatif lebih menjanjikan bagi kreativitas sastrawan. Sebab motif menulis bagi sebagian besar sastrawan tetap untuk mendapatkan honorarium (yang layak).

Sastra, Media dan Ukuran Kualitas
Keragaman bentuk media yang bisa dijadikan sarana publikasi karya sastra akan memberikan warna baru bagi perkembangan sastra itu sendiri. Namun seperti saya singgung di bagian awal tulisan ini, kita tidak perlu memilah-milah istilah untuk berbagai media sastra tersebut. Karena setiap saat media sastra selalu berkembang mengikuti perjalanan teknologi mutakhir. Beberapa abad lalu sebelum ada media berbentuk teks, orang mempublikasikan sastra secara lisan dari mulut ke mulut atau lazim disebut dongeng. Setelah ada kertas maka sastrawan mengapresiasikan karya sastranya ke dalam teks, melalui buku-buku dengan tulisan tangan, kemudian cetak (printing). Setelah ada penerbitan koran, maka kesempatan untuk mempublikasikan karya sastra semakin terbuka lebar. Hingga kini muncul berbagai media baru seperti internet dan compac disc. Lalu apakah perlu melakukan pengelompokan sastrawan dan karya sastra sesuai dengan bentuknya?

Kalau demikian tentu saja nanti akan muncul istilah sastra(wan) buku, sastra(wan) koran, sastra(wan) saiber, hingga sastra(wan) compac disc, atau entah istilah apa lagi. Tentu saja pengistilahan seperti ini hanya akan menimbulkan beragam persepsi tentang sastra yang mengarah pada perdebatan tidak menguntungkan. Padahal hubungan simbiosis mutialismenya tetap sama. Lalu kalau kita harus berbicara masalah kualitas sastra di berbagai media tersebut tetaplah tidak akan mendapatkan jawaban yang sama. Sebab ukuran kualitas adalah sesuatu yang relatif dan subyektif. Dan semua orang mempunyai hak untuk menentukan kualitas karena tidak ada batasan-batasan penilaian. Begitu juga dengan redaktur budaya di media massa, tentu ukuran kualitas dari semua media tidak akan pernah sama bila orangnya juga berbeda.

Namun walaupun demikian, sebagaimana disebutkan Marhalim Zaini dalam esai “Sastra atau Media Massa yang Mandul (?)”, peran para redaktur budaya kita––baik yang kompeten maupun tidak kompeten––sesungguhnya sangat besar dalam ikut memberi arah, menentukan spektakel, dan menurunkan tulisan-tulisan yang berkualitas, dan dapat membaca secara cermat orisinalitas (tidak plagiasi) dari tulisan yang akan dimuat. Karena media massa yang sekaligus berperan dan dipercaya sebagai penjaga gawang kebudayaan harus lebih mengetengahkan obyektivitas daripada sebuah pembacaan yang sekilas. Pada posisi ini sastra dan media massa dapat duduk berdampingan dan saling membutuhkan.

Dalam konteks hubungan yang demikian, maka terciptalah sebuah simbiosis mutualisme yang dimaksudkan Hary B Koriun di mana media (apa pun bentuknya-pen) tetap merupakan sebuah tempat yang diperlukan oleh para penulis untuk mengaktualisasikan diri dan karyanya, sementara media juga membutuhkan karya sastra tersebut sebagai sebuah simbol dari intelektual. Karena media membutuhkan hal ini sebagai sebuah legitimasi, atau istilah kasarnya bahwa media tersebut juga ingin disebut sebagai media yang berbudaya.

Tentu saja kalau harus berbicara kualitas yang subyektif, kita tidak perlu membelah tubuh sastra menjadi berbagai macam bentuk menurut medianya. Karena bukan berarti kualitas sastra saiber lebih buruk dari sastra koran atau buku, begitu juga sebaliknya. Sebab media tetaplah media, yang selalu berubah setiap ada penemuan baru. Dan biarkan sastra berjalan mencari medianya sendiri. Karena apa pun medianya, tetap mempunyai kelebihan dan kekurangan. Sehingga nantinya tidak ada istilah sastra koran, sastra saiber dan sastra sebagainya...***


Dimuat Riau Pos, 2006