Cerita dari Utara

Cerpen M Badri


Bulan telah mengambil laut dari laut
dan mengembalikannya ke laut. Oleh pesona keindahannya
oleh kepasrahannya yang damai dan suci,...1)

Laut memang sangat indah. Hamparan pasir putih di garis pantai yang memanjang di semenanjung seperti lukisan alam yang melankolis. Belum lagi barisan nyiur yang berjejer menunggu para nelayan beranjak pulang. Mungkin itu pula yang membuat Cut Alia, betah tinggal di tepi laut. Bertahun-tahun, sambil menyelesaikan beberapa lembar cerita. Dalam setiap tulisannya dia tak pernah meninggalkan laut, lengkap dengan panorama alamnya yang erotis. Begitu juga dengan puluhan sajak yang hampir tiap minggu diantar tukang pos ke rumahku. Sajak-sajak yang indah, seperti sebuah mercusuar yang membebaskan mataku memandang pulau-pulau, alunan gelombang, matahari senja, dan gumpalan awan yang menutupi sebagian dirgantara. Cut Alia selalu menyisipkan beberapa kata romantis di akhir sajaknya.

“Tapi laut juga mengisyaratkan maut. Konon puluhan tahun lalu nenek moyang kami pernah mengalami kejadian yang mengerikan. Negeri kami yang terletak di ujung utara porak poranda diterjang gelombang yang menggulung seperti raksasa mematikan. Ratusan rumah dan puluhan hektar ladang rata dengan tanah. Ribuan mayat mengapung di tengah samudra, dan hanya sedikit yang tersisa.”

Dia menuliskan kalimat singkat lewat kartu pos beberapa bulan lalu. Kemudian kegundahannya tentang laut menyusul dalam berlembar-lembar cerita yang diselesaikannya. Alia dengan lugas menulis kisah mengerikan yang pernah dituturkan nenek moyangnya. Setiap selesai satu bagian, dia selalu mengirimkan salinannya kepadaku. Seperti biasa dia minta komentar tentang cerita-cerita yang ditulisnya. Bagaimana tanah bergoncang dengan hebat diselingi gemuruh dari segala penjuru, juga air laut yang tiba-tiba menyusut sejauh ratusan meter. Setelah itu, menurut cerita Alia, dalam sekejap air bah setinggi pohon kelapa melesat menghantam pemukiman. Dalam hitungan menit semuanya hancur lebur.

“Begitulah dulu nenekku bercerita. Yang tersisa hanya tiga buah surau dan beberapa orang penduduk yang sempat menyelamatkan diri ke bukit, termasuk mendiang nenekku. Mereka kemudian membangun kembali kampung itu dari awal, selama bertahun-tahun hingga menjadi kota kecil yang indah. Di kota inilah aku lahir dan dibesarkan. Sejak kecil aku sudah akrab dengan laut, bahkan tak jarang saat liburan aku dulu ikut ayah melaut hingga ke tengah samudera yang di kanan kirinya hanya ada ombak. Itulah sebabnya, selesai kuliah di Jakarta aku langsung pulang ke kampung. Meninggalkan hiruk pikuk ibukota yang hanya membuatku terluka.”

Aku melihat sisa air mata yang telah mengering di atas kertas putih yang kuterima beberapa pekan lalu. Ingatanku kembali menerawang pada kejadian tujuh tahun lalu. Sebagai aktivis sebuah LSM yang didirikan bersama beberapa mahasiswa satu daerah dengannya, Alia sering kali terlibat kasus dengan aparat. Dia dengan berani menolak DOM yang diberlakukan di daerahnya. Tak hanya lewat gerakan di jalanan, tetapi juga sajak-sajak dan cerita fiksinya membuat merah muka aparat. Beberapa rekannya diculik, termasuk Puteh, teman terdekatnya yang tiba-tiba hilang selepas rapat tengah malam.

Bersamaan dengan itu, ayahnya yang seorang kepala mukim dikabarkan tewas di tepi hutan daerah Lhokkruet yang sangat jauh dari kampung Alia. Tidak ada pihak yang mengaku bertanggungjawab atas kematian ayahnya. Tanpa menunggu pengambilan ijazah sarjana, Alia langsung pulang dan melupakan Jakarta untuk selama-lamanya. Beberapa bulan dia tidak ada kabar beritanya, sampai kemudian sajaknya yang ditujukan kepadaku dimuat salah satu koran ibukota. Aku segera menghubungi kantor redaksi koran tersebut dan mendapatkan alamat Alia. Sejak itulah hubungan komunikasi antara aku dengan Alia tak pernah terputus. Walau lewat surat, karena dari dulu kami paling suka menulis. Huruf-huruf yang tergores di atas kertas akan selalu tersimpan dan menjadi kenangan yang tak mudah terlupakan. Meski pun ada telepon seluler, paling sesekali kalau ada pulsa kami hanya memakainya untuk menulis pesan; good night have a nice dream, menjelang tengah malam.

Tanah kelahiran Cut Alia memang memancarkan aroma misterius. Sejak zaman dulu menggambarkan perjuangan dan semangat yang tak pernah pupus. Bahkan menurut cerita, negeri tersebut tak pernah bisa ditaklukkan oleh penjajah. Hingga kini pun kemelut selalu menyelimuti ujung utara pulau Sumatera itu. Namun Alia selalu bangga dengan negerinya, bahkan aku pun sering iseng memanggilnya dengan Cut Nyak Dien, sosok wanita Aceh yang menjadi simbol perlawanan terhadap penjajah. Meski sering berseberangan pemikiran, sejak sama-sama tinggal di Jakarta aku selalu intim dengannya. Lima tahun bukan waktu yang singkat untuk dapat membaca jalan pikiran Alia.

Kubuka beberapa album lama yang terselip di antara tumpukan buku-buku tua. Hampir tujuh tahun? Kurasa sangat lama kami berpisah. Bahkan beberapa foto yang tersimpan dalam album mulai terlihat luntur dan buram. Ingin rasanya aku pergi ke negeri Alia, yang jaraknya hanya dipisahkan sebuah provinsi. Tapi Alia tetap melarangku, dengan alasan keamanan di sana masih memprihatinkan. Setiap hari selalu saja ada mayat korban pertikaian yang bergelimpangan.

“Aku lebih senang bila kamu tidak ke sini. Cukup ayahku saja, aku tak mau ada lagi orang yang kucintai mati di sini. Apakah kata-kata yang kutulis tidak cukup untuk mengobati rindumu? Bersabarlah, suatu saat entah di mana kita pasti akan berjumpa. Lagi pula apa yang akan kamu cari? Biarkanlah aku mencintai kesunyian. Aku akan sangat bahagia bila setiap akhir pekan selalu menerima surat darimu.”

Begitulah, di balik sosoknya yang lembut tersimpan sifat keras kepala. Tapi itulah yang kusuka dari Alia. Dia tak segan-segan melawan bila aku melakukan sesuatu yang tak sesuai dengan hatinya. Pernah kami bertengkar hebat saat mendaki Gunung Pangrango di sebelah utara Sukabumi. Gara-gara aku memetik beberapa tangkai edelweis, yang menurutnya tidak boleh dilakukan. Padahal aku memetik bunga abadi itu untuknya, tapi dia tetap tidak peduli dan menangis di bawah gerimis yang tersaput kabut senja hari. Itulah Alia, dan beberapa album yang mengabadikan perjalanan kami masih tersimpan dengan rapi. Juga puluhan lembar dokumentasi pembacaan puisi yang dulu sering dia lakukan di halaman TIM atau di sekitar Monas, saat gelombang unjuk rasa membuat panas kota Jakarta.

Kota tempatku tinggal, sejak tiga bulan lalu hampir tiap hari diguyur hujan. Banjir juga melanda beberapa daerah yang menyebabkan ribuan rumah tenggelam dan para pengungsi menangis di tenda-tenda darurat. Barangkali itu akibat maraknya illegal logging yang hingga kini tak pernah terselesaikan Gang kecil menuju rumahku yang masih belum diaspal juga selalu becek. Di sana-sini genangan air terlihat menutupi lubang bekas roda kendaraan. Mungkin itulah sebabnya, sampai lebih dua pekan surat dari Alia tak kunjung tiba. Tukang pos barangkali enggan menjamah gang sempit yang becek, sekedar mengantarkan surat yang sejak beberapa tahun lalu rutin diantar setiap akhir pekan. Ada saja isyarat yang menandai kedatangan surat dari Alia, yang membuat jantungku berdebar-debar. Cerita-cerita tentang pantai yang ditulis Alia kalau dibukukan mungkin sudah mencapai ratusan halaman.

Aku pernah berjanji kepada Alia untuk membukukan surat-surat yang dia kirim kepadaku, tentu saja kalau mempunyai dana berlebih. Aku akan mengubahnya menjadi catatan romantis, yang di setiap bagiannya dihiasi gambar pantai lukisanku sendiri. Sebuah buku mungil yang di dalamnya terdapat berbagai macam cerita tentang keindahan laut dan hamparan pasir putih. Juga burung-burung camar berteriak nyaring memuja sunset yang membentang di atas Lautan Hindia. “Suatu saat aku akan mewujudkannya Lia,” kataku dalam surat yang kukirim pertengahan November lalu, bersamaan dengan kado ulang tahunnya.

Tapi aku tak akan memasukkan cerita tentang badai yang pernah menggulung negerinya puluhan tahun lalu. Cerita yang menyedihkan pasti akan merusak keindahan. Beberapa lembar cerita tentang bencana maha dahsyat sempat juga mengganggu pikiranku. Aku hanya berharap siklus alam tersebut tidak akan pernah terjadi lagi. Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya Rumah Krong Bade yang kini ditinggali Alia, seandainya cerita nenek Alia kembali melanda. Juga mercusuar setinggi pohon kelapa yang dibangun bersebelahan, tepat di bibir pantai. Terlebih gadis dalam foto yang dibalut kebaya warna biru laut. Aku tentu tak ingin kehilangan pemilik bulu mata lentik itu!
***

Minggu pagi, aku baru saja menemukan surat di bawah pintu rumah kostku. Surat beramplop putih dengan garis merah biru di sekelilingnya itu terlihat agak lusuh dan ada bekas bercak lumpur. Itu surat dari Alia. Seberkas tinta pudar dalam garis-garis terbenam seperti tertimpa logam, menunjukkan surat itu dikirim pekan kedua bulan Desember. Hampir sebulan surat ini baru sampai? Seperti diterbangkan merpati dengan sayap patah, pada malam berkabut yang diguyur hujan. Padahal biasanya dalam seminggu surat dari Alia sudah sampai ke tanganku.

“Masih ingatkah kamu dengan kisah nenek moyangku, yang dulu pernah kuceritakan kepadamu? Tiga malam sebelum menulis surat ini aku mengalami mimpi buruk. Tubuhku seperti bersayap dan terbang mengitari kota tempat tinggalku. Dari atas langit yang pucat tanpa cahaya, aku menyaksikan kotaku porak-poranda. Dan ternyata, banyak sekali orang-orang yang juga bersayap sepertiku. Jumlahnya mungkin mencapai ribuan, mereka terbang dengan air mata yang menyembur dan lengking yang menyayat. Langit tiba-tiba mendung dan bergemuruh, dan aku langsung terjaga. Tapi mimpi itu seperti berulang-ulang, hingga malam sebelum aku selesai menulis surat ini kepadamu.”

Tak ada kalimat-kalimat romantis dalam surat Alia. Indahnya pasir pantai seperti tersapu gelombang ketakutan. Di bagian terakhir yang biasanya disisipi sajak indah, kali ini berubah menjadi kalimat-kalimat gundah. Entah mengapa aku menjadi seperti begitu dekat dengan Alia, dan ingin berada di sampingnya. “Berdoalah semoga tidak terjadi apa-apa. Aku ingin selalu bersamamu Alia, walau lewat kata-kata,” kataku dalam pesan singkat. Namun kalimat yang kukirim lewat ponsel itu beberapa kali selalu gagal terkirim.

Baru saja mata ini akan terpejam untuk tidur siang setelah melewati pagi yang melelahkan, aku langsung tersentak mendengar siaran Breaking News dari salah satu stasiun televisi partikelir. Dalam berita tanpa gambar tersebut, diinformasikan bahwa telah terjadi gempa yang diikuti dengan gelombang tsunami di ujung utara pulau Sumatera. Belum diperoleh informasi selengkapnya, sebab seluruh jaringan komunikasi di lokasi bencana putus total. Aku langsung saja membayangkan sebuah kengerian yang luar biasa. Bayangan wajah Alia tak pernah lepas dari kedua mataku yang galau. Tidur siang kubatalkan, sekedar mencari kebenaran informasi tersebut lewat radio dan internet. Tapi belum ada kepastian, sebab kejadian diperkirakan baru mulai pada pagi hari.

Setelah hampir dua pekan bencana itu berlalu, aku tetap risau. Sepanjang pagi hingga malam aktivitasku tak pernah lepas dari channel beberapa stasiun televisi. Beberapa koran juga kubeli hanya untuk mengikuti perkembangan di lokasi bencana. Air mata yang sebelumnya membeku di balik retina, harus tumpah setelah menyaksikan negeri yang porak poranda. Mayat-mayat bergelimpangan di antara reruntuhan bangunan. Kota yang tadinya megah dalam beberapa menit kembali rata dengan tanah. Dari televisi aku sempat menyaksikan mercusuar seperti dalam foto yang dikirim Alia, tinggal sebagian. Lalu di manakah rumah tradisional di samping mercusuar? Aku hanya melihat puing-puing terbalut lumpur.

Wajah-wajah penuh kesedihan yang ditayangkan televisi tak satu pun yang menyerupai Alia. Juga foto-foto mengerikan yang terpampang di halaman pertama semua koran. Beberapa wartawan media cetak dan elektronik yang kukenal, dan sedang melakukan liputan ke lokasi bencana, juga tak ada yang mengetahui nasib Alia. Sengaja foto Alia kucetak banyak-banyak dan kukirimkan kepada beberapa teman yang akan melakukan liputan atau menjadi relawan. Tapi hingga kini tetap saja tak ada informasi yang menunjukkan keberadaan Cut Alia. Gadis itu seperti hilang ditelan gelombang....***

Pekanbaru, 7 Januari 2005

1)Dari sajak Juan Ramon Jimenez “Mawar Laut”, terjemahan Sapardi Djoko Damono.