Ada Salju di Matanya

Cerpen M Badri

Dia memberiku seulas senyuman yang beku. Persis kedua matanya yang menatap dengan pandangan kosong. Tak ada gairah terpancar. Apalagi hasrat untuk saling memagut rindu.

Pertama kali aku mendapatinya di bangku taman, di tepi selatan kota kecil Marvoiann. Udara pegunungan yang dingin membungkus tubuh mungil perempuan itu. Sehingga wajah ovalnya terlihat pucat, seperti tak beraliran darah. Namun aku membaca ada guratan kecemasan di kedua matanya yang bulat persis bola-bola salju. Daun-daun kering nampak tersapu angin yang bertiup dari utara. Lalu mengambang di permukaan kolam kecil tanpa ikan. Sebagian lagi tersangkut di atas jembatan bambu yang menghubungkan dua sisi kolam.

Hari baru pukul lima sore. Namun kabut mulai turun di bentangan bukit-bukit yang tumbuh seperti batu karang berwarna pucat. Dari jendela hotel aku melihat perempuan itu menatap jauh ke lembah. Pandangannya seperti hilang menembus pohon-pohon hijau yang berkilauan tersaput matahari senja. Kebaya birunya meliuk terbawa angin, sekilas mirip sayap burung yang mengepak di antara ranting-ranting pinus yang tumbuh di sekitar taman.

Tertarik oleh keganjilan yang dipancarkan perempuan itu, aku pun bergegas turun dari hotel. Melewati tempat parkir, lalu menyeberang jalan ke arah taman. Namun sial, aku tidak menjumpai perempuan itu lagi. Kupandangi sekeliling taman, tapi tak terlihat siapa pun kecuali tukang kebun di sudut yang agak jauh. Aku tidak salah, di bangku kayu itulah perempuan tadi duduk. Samar-samar aku masih merasakan sisa wangi parfum beraroma melati di sekitar tempat itu. Jelas perempuan itu bukan sejenis gadis bunian kesepian yang sering menampakkan diri pada lelaki yang sedang menikmati kesendirian, sepertiku.

Dengan seribu pertanyaan yang memadati pikiran, aku sengaja berlama-lama di tempat itu. Menikmati sisa cahaya matahari dan udara dingin pegunungan. Secangkir cappucino kupesan dari kafe tenda yang tak jauh dari taman. Aroma kopi Italia itu sejenak melupakanku dari bayangan perempuan berkebaya biru yang meliuk seperti kepakan sayap merpati. Sayup-sayup Beatles terdengar merdu, bergantian dengan Cucak Rawa dan Cindai dari beberapa kafe di sekitar taman. Sendirian aku menyeruput isi cangkir itu sampai habis. Untuk sementara tubuhku terasa hangat menjelang sampai di kamar hotel. Di sana setumpuk naskah menunggu kuselesaikan. Besok malam semua harus sudah siap kukirim ke penerbit.

Sengaja aku memilih Marvoiann yang dingin untuk menyelesaikan tulisan-tulisan yang dipesan penerbit. Karena kebisingan kota selalu saja membuyarkan imajinasiku yang belakangan ini terasa pelit. Namun perempuan sore tadi tetap tak bisa lenyap dari pikiranku. Baru kali ini aku menjumpai perempuan dengan bola mata seperti salju menatap beku. Sejak itu aku selalu menjumpai tatapannya di mana-mana. Di dalam bus kota, di kamar mandi, di kantor, di tempat parkir, di dalam tidur siangku, di dalam layar kaca. Kadang tubuh mungilnya kulihat berlarian di antara rimbun ilalang di belakang rumah. Tangannya mengepak seperti sayap lalu terbang tinggi sekali, menembus gumpalan awan-awan kelam di langit sampai menjadi titik putih yang sangat jauh sebelum kemudian lenyap seiring dengan putusnya lamunan.

***

Pengapnya udara kota akibat kemarau panjang begitu menyesakkan dada. Sinar matahari terasa kering dan tajam bersaing dengan debu-debu yang menguap dari jalanan yang tak pernah sepi oleh lalu-lalang kendaraan. Di sebuah halte yang sempit aku menunggu bus kota yang melaju seperti serigala, meliuk-liuk seperti ular cobra, sambil sesekali mengisap rokok lalu memuntahkan asapnya ke mana saja. Jam hampir menunjukkan angka tiga, tapi matahari belum juga beranjak dari tempatnya semula. Sumpah serapah keluar dari orang-orang yang tak sabar menunggu kedatangan bus kota dari arah utara. Aku tak peduli, dan menganggap itu semua sebuah simfoni dengan berbagai irama. Bukankah perbedaan irama selalu saja menciptakan sebuah komposisi yang indah? I leave the world today mengalun dengan irama remix dari kaki lima penjual VCD bajakan, berbaur dengan teriakan tukang parkir.

Tepat ketika bara terakhir rokok di tanganku terjatuh, bus kota datang dan aku segera ikut melesat menembus jalanan kota yang di kanan kirinya tumbuh ratusan ruko seperti batu bata yang berjejer di samping tungku. Udara di dalam bus kota terasa sumpek bercampur keringat orang-orang yang mungkin baru menyelesaikan pekerjaan di kantor, bengkel, super market, pasar loak atau di mana saja. Namun di antara tangan-tangan yang bergelayutan dan kursi-kursi kusam aku seperti melihat sesuatu, yang sebelumnya juga pernah kulihat. Warna biru dan tatapan beku itu, yeaahh.

Bukankah dia mirip dengan perempuan yang kutemui di taman sebelah selatan Marvoiann yang dingin? Atau mungkin, banyak perempuan di dunia ini yang mempunyai wajah sama dan keganjilan yang sama juga. Dia duduk di bangku paling belakang dan menatap kosong ke luar jendela sebelah kanan. Bola matanya masih juga seperti salju, bulat dan beku. Tapi kali ini agak bercampur keringat yang merembes dari ujung jilbabnya. Mungkin dia tidak tahu kalau aku sudah dua kali melihatnya sebulan ini, di tempat yang berbeda dengan cuaca yang berbeda.

Menatap mata perempuan itu, aku seperti melihat pohon-pohon cemara tumbuh di dalam bus kota. Debu-debu yang menyeruak dari jendela terbuka seperti kabut berhawa sejuk. Dan bukit-bukit membentang sepanjang jalan dengan cericit pipit di dahan. Tak ada ruko, tak ada sumpah serapah, tak ada bau keringat. Namun itu hanya sebentar, semua kembali seperti semula saat kondektur menarik ongkos dan beberapa kali bus berhenti mendadak di beberapa gang menurunkan penumpang. Ketika aku melihat ke belakang, tak lagi menjumpai dua bola mata beku itu. Dia seperti datang dan pergi bersama angin atau debu atau kabut atau ah, aku tak bisa menerjemahkan.

Samar-samar aku masih sempat mendengarkan jingle sebuah iklan produk kosmetik di televisi, “mana putri saljunya?, kamu putri saljunya” sebelum dengkur panjang mengelupaskan bayangan perempuan tadi. Dalam mimpi tidur sore itu, aku seperti berada dalam sebuah taman yang dipenuhi semak belukar dan pohon-pohon tua dengan akar-akar gantung menjuntai sampai ke tanah. Lalu buah-buahan berwarna warni tumbuh seperti dalam sebuah lukisan. Aku duduk di bawah sebatang pohon, hanya bercawat dari daun-daun lebar sambil menikmati sebutir apel berwarna merah. Dan tak jauh dari tempatku duduk, seorang perempuan berkulit putih bersih bersembunyi di balik rimbunan semak-semak manatap beku ke arahku. Rambut panjangnya menjuntai seperi akar pohon yang lembut berwarna hitam mengkilat. Kedua mata perempuan itu bulat seperti salju dan dingin. Sementara unchained melody mengalun dari beberapa arah mata angin, beriringan dengan gemerisik pohon. Perempuan itu berteriak lembut, Adam, Adam, Adam........ Lalu hilang bersamaan dengan terdengarnya adzan magrib dari surau sebelah rumah.

***

Seperti biasa aku selalu menghabiskan malam minggu di sebuah kafe di Bandar Seniman, sambil sesekali mencicipi jagung bakar dan secangkir cappucino. Suara biola dari seberang panggung begitu menyayat mengiringi tarian lima orang perempuan bersayap jerami. Di langit bulan telanjang menampakkan lekuk tubuhnya yang putih kekuning-kuningan. Di sekelilingnya bintang-bintang pucat pasi menahan birahi. Berselimut gumpalan awan yang mengental terbawa angin musim dingin.

Di kafe aku berharap melihat perempuan itu di antara orang-orang yang menghabiskan malam. Dia duduk sendiri menghadap ke arahku, sehingga aku bebas memandangi wajahnya, bola matanya yang seperti salju, tatapan matanya yang beku, dengan diam-diam. Karena memang keanehan yang dipancarkan perempuan itu selalu saja mengusikku. Bahkan beberapa sajak yang kutulis menggambarkan dia, hingga suatu ketika redaktur koran langganan tulisanku mengumpat. “Sajak murahan, ke mana imajinasi gilamu? Dasar phyloginik!!!” Seperti biasa aku hanya tertawa, lalu mengajaknya ke kafe ini juga dan minum kopi bersama.

Jarum jam sudah menunjukkan angka dua belas lewat tiga belas. Teman-teman ngobrolku satu persatu sudah pulang, sebagian mungkin sudah meringkuk dalam pelukan istrinya atau mencari tempat lain dan mabuk sampai pagi. Suara musik yang biasa berdentum seperti kapal pecah tak terdengar lagi. Beberapa gelintir lelaki dan perempuan yang tersisa di bangku kafe masih asyik dengan kepulan asap rokok dan cekikikan genit. Aku masih betah sampai beberapa jam lagi duduk di kursi plastik di bawah pohon mahoni itu, walau hanya sendirian. Mungkin itu lebih baik, dan aku bebas menemukan ide untuk topik utama majalah minggu depan tanpa ada yang mengganggu.

Sebuah taksi warna krem berhenti tepat di samping tempatku duduk. Menurunkan penumpang seorang perempuan dengan gaun warna biru, lalu pergi lagi dengan meninggalkan kepulan karbon monooksida. Perempuan itu lalu memilih bangku kosong dua blok di depanku.

“Susu coklat segelas dan kentang goreng, jangan lupa tissu,” katanya setelah seorang pelayan berbadan subur menghampiri dan mneyodorkan daftar menu yang sudah lusuh. Suara itu terdengar dingin, walau lembut. Jantungku berdetak agak berlebihan saat kulihat dengan seksama, perempuan itu adalah sosok yang pernah kulihat di taman dan di bus kota. Aku tak pernah lupa dengan dua bola matanya. Mungkin malam ini kesempatanku melihat perempuan itu lebih jauh dan menyingkap salju yang turun di balik sorot matanya yang dingin.

“Malam Nona, boleh saya temani,” kataku.
Dia diam lalu nyengir sebentar. Tapi aku keburu duduk di depannya, sehingga mau tidak mau dia mempersilahkanku walau dengan agak terpaksa. Kutawari sebungkus rokok, dan dia menggeleng. Beberapa saat kemudian pesanannya datang. Aku kemudian mengambil sisa cappucino di tempatku semula duduk, lalu kembali lagi. Perempuan itu menyeruput susu coklatnya dan mulai menikmati kentang gorengnya. Dia menyodorkan piringnya kepadaku.

Perempuan itu begitu tertutup, bahkan tak mau menyebutkan namanya. Tapi dia mengaku beberapa waktu lalu pernah pergi ke kota Marvoiann dan sempat menikmati keindahan taman suatu senja yang dingin dan berkabut. Dia salah satu mahasiswi sebuah perguruan tinggi di kota ini yang aktif di NGO yang concern terhadap masalah perempuan dan pembelaan buruh. Dia juga bercerita, beberapa bulan lalu terjadi penculikan beberapa orang aktivis pasca tuntutan peningkatan kesejahteraan buruh penambangan minyak bumi yang berbuntut pada bentrokan fisik dengan aparat keamanan. Lima orang aktivis dinyatakan hilang, termasuk Alia, perempuan satu kostnya yang berasal dari kota yang sama. Sejak itu dia menjadi pemurung dan berusaha mencari tahu di mana Alia berada, hingga kini. Dia selalu pergi dari kota ke kota, namun tak juga ada berita tentang nasib sahabatnya. Gejala insomnia mulai menjangkitinya, sehingga tubuhnya semakin hari semakin kehilangan gairah. Pandangan matanya juga selalu terlihat sayu, sehingga tak salah bila aku menyebutnya beku dan dingin seperti bola-bola salju.

“Oh, ya.... siapa nama Nona?” aku mengulangi pertanyaan tolol tadi.
“Tak penting...!”
“Jadi saya harus menyebut Nona dengan panggilan apa?”
“Apa saja...!”
“Bagaimana kalau Putri Salju?!” kata-kataku mulai asal-asalan, karena hari sudah lewat malam. Putri Salju? Ah, seperti perempuan dari negeri dongeng saja. Tapi kurasa itu sesuai dengan tatapannya yang beku dan dingin. Juga kedua matanya yang bulat seperti bola-bola salju.
“Terserah...!”

Pekanbaru, November 2004