Rembulan dan Mayat Lelaki yang Terapung di Pelabuhan

Cerpen M Badri

Langit pucat pasi. Hujan yang mengguyur kota selama beberapa hari membuat jalanan becek, terutama gang-gang sempit yang belum tersentuh aspal. Aku sendiri di pojok pelabuhan menyandang ransel kusam. Pelabuhan masih lengang, sebuah kapal kayu terayun-ayun diterpa ombak laut yang keruh. Sampah industri berserakan sepanjang dermaga. Mengapung, kadang tenggelam dan timbul kembali.

Segelas air mineral sudah kuteguk setengah. Menyisakan gelembung-gelembung kecil. Aku masih galau dengan mahluk-mahluk dalam perut yang memberontak. Minta jatah makan siang yang tertunda. Bayangan matahari sore memantul dan menciptakan sebuah silhuet buram.

Haruskah aku pulang ke pulau itu. Lima belas tahun sudah aku tidak pulang, entah bagaimana wujud wajah-wajah beringas itu sekarang. Yang membakar kampung, menjarah barang-barang. Membunuh ibu, memperkosa kakak. Kebetulan aku tak tahu entah siapa dan kemana ayahku. Yang kutahu ibu sudah sendiri sejak aku masih menetek. Yang jelas dia bukan hermaprodit. Mungkin ayah pulang ke negaranya, negara entah yang aku sendiri juga tak tahu.

Aku sendiri disini. Di kota yang sebelumnya tak pernah kubayangkan akan sampai kesini. Pelabuhan ini, dulu masih berupa kerangka-kerangka kayu. Aku diletakkan begitu saja oleh orang kapal yang membawaku. Beruntung Tuhan masih menyisakan sedikit nafas, sehingga aku bisa berjalan menelusuri gang-gang yang tak kukenal. Hingga sampai ke suatu tempat. Persetan dengan tempat itu!

Sebuah lokalisasi. Puluhan kamar-kamar sempit, perempuan-perempuan berdandan minim, lelaki teler, dan desah nafas dengan nada tak beraturan akrab dengan hari-hariku. Aku hanya anak kecil yang dipungut seorang mucikari dan dijadikan tukang bersih-bersih. Mulai kamar tidur sampai kamar mandi. Hanya diupah dengan makan gratis dan sebungkus rokok. Aku sudah mulai merokok sejak berumur entah, aku sendiri lupa. Kadang punya uang hanya bila ada orang yang menyuruh membelikan rokok atau bir atau entah apa, kemudian tak mau mengambil kembaliannya.

Sejak itu aku lebih suka jadi kacung suruhan, karena bisa sering dapat uang. Kadang juga aku ikut minum bareng mereka sambil main dadu. Aku tukang pijit, kadang juga disuruh memanggilkan pelacur untuk menemani mereka. Dari pada dulu, mungkin derajatku naik satu tingkat. Dari tukang sapu berubah jadi kacung –mungkin sama saja. Tubuhku juga mulai kuhiasi dengan tato, gambar naga dan perempuan telanjang. Buatan seorang germo yang mantan perampok. Dilukis dengan tinta biru tua dan di pajang di dadaku. Aku sekarang seorang jantan. Aku mulai berani berkelahi dan main perempuan.

***

Hari sudah senja. Langit semakin pucat saja. Matahari menyisakan sedikit cahaya merah kekuning-kuningan dalam bingkai awan kelabu. Seperti ribuan hari yang telah kulalui di perkampungan itu. Samar-samar dari sudut kedai kopi di pinggir pelabuhan terdengar lagu No Woman No Cry nya Bob Marley. Aku takkan menangis kalau tak karena perempuan. Sum, pelacur pindahan dari pulau seberang itu awal segalanya.

Kapal yang akan membawaku ke pulau itu sudah berangkat. Tiket yang telah kubeli kulempar ke tubir sungai. Mengapung sebentar lalu tenggelam. Aku tak jadi pergi. Biarlah segalanya berakhir di sini, karena mulainya juga dari sini. Di dermaga tempat sekarang aku berdiri. Adzan Maghrib baru saja usai. Seorang perempuan tua menyandang mukena lewat di sampingku. Memandangku dengan tatapan asing, kemudian berlalu. Dia mau menghadap Tuhannya.

Siapa Tuhanku? Aku sendiri tak tahu. Sejak kecil aku tak pernah tahu siapa Tuhanku. Mungkin juga aku dikirim iblis untuk menjadi dutanya di bumi. Di tempatkan di gang-gang lokalisasi, jadi penghuninya, lalu mati, dan dijemputnya ke neraka. Ah Sum sialan itu, dia hanya akan mempercepat kematianku. Aku hanya tinggal menunggu giliran untuk dijemput ke neraka.

Terakhir dia hanya bilang, “Can, kita telah terjangkit virus yang sama. Maaf aku tak sengaja menularimu, aku sendiri juga baru tahu kemarin sewaktu orang Dinas Kesehatan melakukan sidak ke sini. Mungkin itu buah dari cinta kita Can. Cinta terlarang dari calon penghuni neraka. Kutunggu kamu disana….” Kemudian dia tertawa keras, keras sekali. Menggema di sudut kamar sempit berbau apak, kemudian menembus malam. Hilang ditelan gemuruh hujan dan kilatan guntur.

Dua hari kemudian kutemukan dia tergeletak di dalam kamar. Mulutnya berbuih. Dia telah mempercepat kematiannya. Di dinding kamarnya tertulis kalimat besar-besar dengan lipstik warna merah. “AKU BERANGKAT DULU, KUTUNGGU KAMU DISANA. KITA AKAN BERCINTA LAGI”…kemudian dia juga menulis dengan spidol hitam “AKU AKAN PESANKAN KAPLING 2X3 UNTUK TEMPAT KITA BERCINTA”. Norak sekali. Polisi menginterogasiku dan mengurungku selama tiga hari. Karena tak terbukti melakukan pembunuhan, seperti yang sering diberitakan di koran-koran, aku dilepas.

Sekarang di dermaga ini akan kutumpahkan semua. Haruskah aku terjun ke sungai dan tenggelam, lalu mati. Atau menggantungkan leherku di tiang penyangga dermaga, kemudian esoknya ditemukan orang dengan lidah yang menjulur. Ah terlalu mengerikan, jangan-jangan arwahku juga malah akan tersangkut disini.

Kulihat bulan mengapung di sungai. Mengambang dan kadang bergoyang-goyang. Bulan itu hanya sendiri, persis seperti diriku yang tengah duduk di tepi dermaga. Memandang tubir sungai. Air sungai menjadi berkilau keperak-perakan. Cahaya itu menampar wajahku dan menjilati air mata. Ah, baru kali ini aku menangis. Aku takut mati, mungkin juga takut neraka. Pernah kudengar ceramah di televisi, neraka itu sangat tidak enak. Manusia akan disiksa cambuk, gergaji dan benda antah berantah lainnya yang semua terbuat dari api. Mengerikan. Aku tiba-tiba jadi takut mati. Tapi ketakutanku percuma saja, toh kematianku akan dipercepat dengan virus yang bersarang dalam tubuhku.

Ingin aku menghubungi Tuhan, tapi tidak tahu bagaimana caranya. Aku ingin menumpahkan kesedihanku dan meminta-Nya untuk menunda kematianku. Entah kenapa aku jadi ingat Tuhan, yang sebelumnya tak kukenal apalagi kuingat. Kupencet-pencet tombol di handphone murahan milikku, siapa tahu ada nomor yang bisa menghubungi Tuhan. Percuma, operatorpun mungkin tak tahu Tuhan bisa dihubungi dengan nomor berapa. Kemudian kulempar handphone buruk yang baterainya tiba-tiba ngedrop itu ke tengah sungai. Lemparanku tepat mengenai rembulan yang tengah terapung. Kemudian rembulan itu tercerai berai. Cahayanya yang keperak-perakan berpendaran kemana-mana, sebagian memantul ke arahku dan menamparku. “Sialan, kenapa kau lempar aku,” mungkin rembulan itu memaki.

Beberapa menit kemudian, rembulan yang tercerai berai itu pelan-pelan menyatu. Membentuk bulat utuh dan cahayanya semakin bersinar saja. Rembulan itu semakin dekat ke arahku. Ingin aku mengajaknya menemui Tuhan. Aku mau minta maaf selama ini tak pernah mengenalnya. Aku juga mohon agar diberi grasi tidak masuk neraka. Aku tak mau lagi ketemu Sum, perempuan yang membuatku menangis.

Bulan bergoyang-goyang. Tiupan angin merusaknya. Kadang tampak lonjong, segitiga dan bujur sangkar, kemudian bulat lagi. Mungkin bulan bisa mengantarkanku menemui Tuhan. Bukannya orang-orang kalau menyebut Tuhan kadang dengan ‘Yang di Atas’. Bulan yang mengapung ini juga kadang terbang di langit, bergumul dengan awan dan bintang-bintang. Mungkin bulan dekat dengan Tuhan di atas sana.

Kulepas sandal jepit yang menempel di kedua kakiku. Ingin juga kulepas ransel dan semua pakaianku. Aku akan menemui Tuhan dengan telanjang, persis seperti ketika aku dilahirkan. Cukup aku membawa virus yang ada dalam tubuhku. Tapi tidak jadi, aku takut dibilang tidak sopan. Biarlah kubawa pakaian dan ransel lusuh ini menemui Tuhan. Supaya tahu aku baru pulang dari pengembaraan yang jauh.

Kutunggu sejenak agar bulan lebih dekat ke arahku. Kemudian sebelum berangkat aku akan berdo’a lebih dulu, “Tuhan, lindungilah hambamu agar selamat sampai tujuan dalam perjalanan untuk menemuiMu.” Sinar bulan seperti tangan-tangan yang menggapai ke arahku, sementara bulan itu masih terapung dan bergoyang-goyang. Seperti kapal yang menunggu penumpang untuk diberangkatkan entah ke mana. Tidak ada tangga yang bisa membawaku masuk ke dalam bulan. Aku sepertinya harus meloncat sekitar dua meter untuk sampai ke sana. Kutarik nafas dalam-dalam sebelum aku meloncat ke dalam bulan yang mengapung di sungai itu. Bulan akan mengantarkanku menemui Tuhan. Terasa dingin sekali….

***

Pagi tanpa sinar matahari….
Wartawan dan fotografer dari beberapa media cetak ramai-ramai ke pelabuhan. Ada juga beberapa kameramen televisi yang biasa menayangkan berita kriminal pada tengah hari. Lampu-lampu blitz berpendaran kesana kemari memotret sesosok tubuh yang mengapung di atas sungai, di pinggir dermaga. Ransel lusuh masih menempel di pundaknya. Rambutnya agak gimbal berwarna hitam kemerah-merahan. Memakai celana jeans lusuh warna biru laut dan kaos hitam lengan pendek. Tangannya memeluk sebuah bola plastik warna putih. Tubuhnya kurus kulitnya kuning langsat dan tinggi sekitar seratus tujuh puluhan.

Kota Mati,
Ditemukan sesosok tubuh pemuda keturunan berumur sekitar 23 tahun mengapung di pelabuhan. Menurut saksi mata yang tak mau disebutkan namanya, pemuda tak dikenal tersebut sudah berada di dermaga sejak siang kemarin. Dia nampak gelisah dan mondar-mandir di sekitar dermaga. Berdasarkan identifikasi dari pihak kepolisian, korban diperkirakan bunuh diri dengan cara melompat ke dalam laut yang airnya tengah pasang, karena tidak ditemukan sedikitpun tanda-tanda penganiayaan atau kejahatan lainnya. Pria tersebut diduga bunuh diri karena kesedihan ditinggal mati kekasihnya yang telah bunuh diri lebih dulu. Menurut informasi dari dinas terkait, mereka sama-sama mengidap HIV positif dan masuk dalam daftar pengawasan penderita AIDS. Seorang ibu setengah baya yang terakhir melihatnya pada tengah malam, pernah mendengar lelaki tersebut menyebut nama Tuhan berkali-kali sambil menangis. Untuk sementara jenazahnya masih disimpan di RSUD untuk divisum dan menunggu….


Sebuah koran kriminal yang terbit siang hari langsung menjadikannya headline dengan judul besar warna merah. Berita dilengkapi dengan foto yang diambil dari tiga posisi; sisi kiri, kanan dan atas. Sorenya kesibukan di dermaga masih tetap berlangsung seperti biasa, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.***


Pekanbaru, 2003