Menjelang Jam Dua Tiga

 : renungan ulang tahun

Sudah hampir seperempat abad jarum jam berdetak dalam dinding-dinding retak
irama terus berganti seperti musim-musim tak pernah abadi
aku selalu merindukan hujan di bulan ketiga setiap tahunnya
membawakan dongengan untuk meninabobokan selembar lukisan
seperti sebuah siluet di depan jendela tak berkaca
yang tersaput butiran embun warna-warni dalam cahaya lilin tanpa jelaga

Dalam keriuhan zaman kembali teringat puluhan tahun silam
anak kecil menggaris-garis pematang dalam keremangan petang di halaman
sisa sinar matahari itu, membiaskan impian yang tak kunjung datang. sementara sebagian masa depan telah tercatat di pedalaman hutan
bersama pelangi dan pohon-pohon tumbang pada waktu-waktu yang gamang
jalanan lempung, tanah basah dan malam tanpa lentera
sebuah kota akan tumbuh dari karat tubuhnya

Menjelang jam dua tiga di musim berbeda
aku kenang rawa-rawa itu
dan angka-angka berkembang biak seiring suara jam berdetak
sementara jiwa ini mengelupas pelan-pelan dari dalam almanak
menunggu cuaca mengalirkan cahaya
setelah tanggal tiga belas bulan ketiga
setiap tahunnya

2004



Perempuan yang Menulis Puisi di Rahimnya

Seorang perempuan menyemai puisi di ladang-ladang mimpi
air mata seperti hujan yang dirindukan setiap musim semi
tak ada upacara persembahan atau tetabuhan
apalagi suara daun-daun berguguran di setiap pagi
hanya tercium wangi bunga-bunga yang tumbuh dari dalam hati

Seorang perempuan menyimpan puisi di dadanya
selama berbulan-bulan bertahun-tahun
sambil mengeja tanda baca di depan jendela

Seorang perempuan membaca kerinduan
sambil mengayuh biduk di halaman
batang-batang ilalang menjelma lautan dan batu karang
gumpalan awan seperti ombak dan sungai-sungai serupa badai
sinar matahari kemudian juga menjadi puisi
setelah ditanam di rahimnya

2004




Ode untuk Mei

Mei, lekuk tubuhmu adalah api
yang membakar jejak-jejak sejarah di bawah tiang semanggi
air mata mengalir dari liang-liang tubuh berbau amunisi
tak ada percakapan indah kecuali rintihan darah
dari jas-jas berdebu tertembus peluru

Gedung-gedung berkabut
jalan-jalan menawarkan maut
namun semangat tak pernah surut
saat kain kafan menggoreskan kepedihan
sekaligus kemenangan

2004




Merenungi Hujan #1

Mungkin perjalanan ini tetap saja membosankan
sebab tanah basah selalu memancing gelisah
ketika cuaca tak lebih bermakna
dari sekedar bencana yang melahirkan kesunyian
mirip tarian-tarian mendung di langit murung
yang menyapa gunung dan sungai

Dari batanghari hingga musi
orang-orang meratapi hujan yang setiap hari menikam
dan menenggelamkan irama rumah panggung,
perahu pancung, dan beberapa karung lumpur
sisa tahun lalu yang belum lagi mengering
karena matahari semakin renta
untuk menghangatkan tubuh bumi yang menua

Aku terlanjur menyaksikan itu
dari dalam bus yang merangkak seperti kura-kura
dan setia menggerus jalan sepanjang musim
lalu menuliskan suatu narasi dari pagi hingga malam
dalam peta kota-kota lusuh tak terawat
yang selalu terlambat

Maka,
hujan itu kembali membasuh tanah
sebelum sungai tergadai seperti hutan-hutan di hulu
yang menjelma mata pisau
lalu membabat rumah-rumah

2004



Merenungi Hujan #2

Tanah kapur itu kini berlumpur
setelah pohon-pohon jati tumbang diterjang gergaji
persis hutan di hulu kampar yang terkapar
pun cerita brantas dengan tanggul yang lumpuh
tak ubahnya kotopanjang yang tergenang
setelah hujan mengabarkan kematian

Lalu, masih adakah yang harus kutulis
kalau semua meniupkan tangis
dan sepanjang halaman koran berisi daftar korban
dengan huruf-huruf yang tergenang hujan
karena di mana-mana cuaca menjerat bencana
dan angin desember terasa lembab
saat aku terjebak dalam senyap

Di sini, mungkin mendung sedang menari
di sana, mungkin angin sedang berdansa
dan kita terlalu asyik dengan kantuk
yang buruk

2004




Kendal Tengah Malam
  :Eska

Singgahlah ke kotaku, katamu
kemudian memberiku selembar peta tua
yang telah mengantarkanmu ke pulau sumatera
tak lupa cerita dewi padi dan legenda alas roban
kau bacakan seperti sebuah roman

Aku pasrahkan kantukku pada roda
yang siap menggilas pantura sejak dari jakarta
karena gerimis berkali-kali mengemasi debu
dan membasuh warna matahari yang bisu

Kepadamu aku hanya dapat menceritakan
setiap jengkal kampung yang kau banggakan
dalam pijar rembulan dan bahasa mendung
di pematang sejak dari gringsing yang asing

“Kendal sunyi sekali di malam hari
hanya ada lampu taman dan kunang-kunang
yang bercanda dengan para peronda
di perempatan kota”

2004



Tembang Kaliurang

Irama kampung masih terkurung
dalam tirai-tirai kabut, hangatnya selimut
dan bukit-bukit ranum. di jalan yang melengkung
rumpun bambu menggerakkan pagi
seperti sebuah notasi yang diawali dengan tarian matahari
dalam kasidah panjang yang melelahkan

Punggung merapi masih saja sunyi
dan tebing kalikuning tetap hening
dalam dengus nafas perempuan penambang pasir
dengan selendang melingkar di bahu kekar
beraroma peluh yang menetes sejak adzan subuh
singgah di pucuk-pucuk daun
dan menyapa embun dengan bahasa alam
yang menggairahkan

Di sungai kering itu, sisa kepundan
mengalir di celah kemiskinan dan ketakutan
pada letusan yang menjelma cuaca buruk
serta hujan abu yang lebih mirip salju
di musim kemarau

Lalu notasi itu menemaniku dalam kebekuan
saat mengeja simfoni angin pohon-pohon pinus
dan humus yang mengabadikan batu cadas
di atas keranjang sebelum petang
menghapus jalan pulang

2004



Percakapan Batu

Kau dimana ketika aku terjebak dalam bangkai sajak
bersama badai yang selalu mengajak untuk bercumbu
terpaksa kugali beribu makam dengan jemari
walau tanpa batu nisan yang menandai setiap jengkal tubuhku
kecuali hanya rintihan peradaban di atas daun-daun koyak
matahari retak dan salak anjing selalu menjadi mimpi buruk
setiap malam ketika kupanggang jantung di atas perapian

Batu-batu itu selalu menemaniku mengelilingi waktu
berziarah ke lorong-lorong kota sambil bermain sandiwara
saat itulah percakapan mengisi ruang-ruang luka
dan serpihan kerikil membalut jasad
yang mengerang ditikam jejak
denyut nadi itu telah terkubur di bawah pintu

Aku ingin mengemasi rembulan di atas kanvas telanjang
seperti reruntuhan tubuh pesakitan di bangku taman
yang dihidangkan saat berdebat soal kematian
lalu dimanakah kau ketika aku menjelma batu
di setiap musim yang dijaga datu-datu

2004



Sebab Cinta Bukan Puisi

Masihkan kau selalu mencemburui tanda baca
sementara ruang-ruang imajinasi telah penuh dengan duka
aku telah lelah mengelilingi setiap lekuk angin
yang berhembus di sudut-sudut ranjang dengan rajutan kusam
warna-warna kerinduan telah mengelupas dari kota asalnya

Kalimat-kalimat beku itu
senantiasa kau kirimkan setiap malam
bersama bintang-bintang berjatuhan di atas meja makan
namun masih saja kau katakan rembulan terlelap kesepian
dalam rotasi malam yang bergerak perlahan-lahan

Datanglah padaku, setelah bayangan matahari itu berlalu
kemudian ucapkan selamat tinggal
pada kalender-kalender masa lalu
yang selama ini bereinkarnasi menjadi mimpi sunyi
sebab cinta bukan puisi
seperti yang kau nyanyikan setiap pagi

2004



Meditasi Sunyi

Aku belum selesai menenggak 99 botol bir bertuliskan namaMu
karena itulah zikirku masih sebatas igau
sembahyang sekedar gerakan kesunyian
pelengkap penderitaan
bersama kalimat-kalimat doa dari susunan pita suara
yang terkoyak
perjalanan menjadi sangat panjang melelahkan
dan aku seperti mahluk bersayap
yang jatuh dalam pusaran kabut

Di persimpangan jalan kembali kutemukan getaran namaMu
tapi jarum jam terus saja berputar
membentuk lingkaran-lingkaran semu
menerjemahkan wajah surgawi di sudut-sudut kafe
dan sepanjang trotoar
memetik buah kerinduan yang tumbuh dari peradaban
dan aku tetap bermimpi di keremangan zaman

2004