Narasi Ombak

Jalan ke selatan itu seperti sebuah sajadah panjang
yang membentang di keremangan petang
dan kita berkejaran dengan adzan maghrib
sebelum lanskap pantai dipermainkan nasib
“mari teriakkan zikir
bersama gemuruh ombak di atas pasir”

Kemudian kita mengemasi cemas
dengan rakaat-rakaat pendek
sambil senandungkan doa dan air mata
di atas perahu kehidupan yang terapung
mengembara dari kota ke kota

Sementara bahasa kanak kita
masih tertinggal di perbatasan desa
juga berlembar-lembar sajak
yang sebagian terserak
menunggui waktu dan jarak

2004




Tentang Kota yang Berdebu
:Eska

Singgahlah ke kotaku, katamu
sambil membuka lembaran peta dan boneka barbie
masih saja kau simpan dalam buku harian
bergambar crayon shincan
lalu kau pun mengemasi waktu senja,
dan memasukkan lanskap dalam koper
tak lupa doa-doa dari bunda kau tulis
seperti sebuah cerita pendek
dan bahasa kanakmu, tersangkut di mulut gang dekat perbatasan

Di kotamu pipa-pipa tumbuh seperti cendawan
kadang seperti belulang, atau garis tangan yang memanjang menyilang
dan debu-debu itu, seperti salju di musim kemarau
memenuhi jalan dan bangku taman
yang selalu saja terisi reruntuhan daun-daun
atau ceceran tanah timbun

Kemudian kilometer-kilometer yang kulalui
menggelinding begitu saja, sebab jalanan tak begitu rata
untuk menggadaikan kantuk di antara ruko-ruko
yang lebih mirip tumpukan kardus dan batu bata
atau gerbong kereta

Nduk, roda ini tak cukup untuk mengitari setiap lorong
kedai kopi, hotel melati, kaki lima, pasar malam
juga beberapa bagian cerita kelam
yang selalu mewarnai setiap kota sebelum menjadi dewasa
dan lebih bermakna

2004




Subuh

Selimut itu selalu saja mengisyaratkan maut
seperti warna fajar di fallujah
dan aku masih terjebak dalam kantuk yang buruk
dalam jeruji kamar dengan dinding memar
karena setiap hari selalu terbakar
gemuruh bahasa yang menyala tanpa dosa

Ah, subuh terlalu dingin
setelah semalaman hujan melumpuhkan
setiap mimpi yang berawal dengan ketakutan
sebab setiap saat nyawa tercerabut dari akarnya
jasad kita, yang tak pernah sempurna

“asshalaatu khairum minan naum…”

2004





Di Makam Bung Karno

Wangi kembang tengah hari
seperti tembang musim semi
dan gemerisik angin mengabarkan hening
di pucuk-pucuk kamboja yang menguning
  : orang-orang datang dan pergi
    mengirim doa dengan irama sunyi
    di samping pintu makam dari jati

Ziarah ibarat tetirah
ketika melihat negeri yang gundah
dan aku mengeja proklamasi layaknya puisi
di antara mantra-mantra
dan serpihan buku tua
yang terselip di balik jas merah

Di depan gerbang,
sebuah patung berkata selamat datang
kepada seluruh penjuru yang bertandang
sejak pagi hingga petang

2004




Perempuan Kalikuning

Sejak matahari melepas sauh di ujung subuh
selendang sunyi melingkar
di bahu kekar
hingga jemari terasa memar
dan sepanjang sungai kering, lengking usia
berjalan menapaki tebing yang terbelah

Kabut merapi singgah di pucuk hari
namun perempuan penambang tetap berdansa
seiring irama pasir yang mengalir
di telapak kaki dan batu cadas
yang tergerus nasib

Kulit legam menandakan
lembar-lembar kehidupan yang lebam
di lereng gunung yang kadang terisak
dan memagut akar pinus
berlapis humus di tanah tandus

Petang yang tersangkut di atas keranjang
selalu saja mengingatkan jalan pulang
dan di rumah, anak cucu menunggu
sepincuk nasi pecel campur bakwan
sambil menyambangi masa depan

2004





Membaca Tanda

Kita mungkin hanya membaca
setiap tanda yang tiba-tiba menjadi petaka
karena lantunan doa mengelupas
dan bergegas menuju muara
tanpa menyadari kehadiran-Nya

Gemuruh badai selalu menyapa
ketika sujud kita terlihat singkat
dalam langkah yang terasa berat

2004






Bahasa Alam

Setiap kita lupa
cuaca selalu saja menorehkan luka
hutan yang ditebas, perbukitan gundul
menjadikan hari-hari terasa mandul
air bah mengalirkan gundah
gempa meretakkan duka
dan kita tetap tak mengeja makna

Sujud kita mungkin terlalu singkat
dan sajadah selalu berdebu dan terlipat
di balik buramnya lentera kehidupan
dengan bencana yang menikam
lalu menenggelamkan harapan

2004





Mengeja Bencana

Barangkali almanak masih mengisahkan kelam
ketika kota menjadi serpihan-serpihan
setelah laut bergemuruh di ujung tahun yang lumpuh
tubuh-tubuh berserakan di antara pecahan
air mata dan duka

Tsunami datang dan pergi
gempa meninggalkan catatan luka
di relung-relung dosa
sampai maut menjemput di musim berkabut
tanpa sempat mengucap syahadat
dari getaran bibir berkarat
saat retakan-retakan hati berhenti
dalam bentangan kafan yang memanjang

2004




Melukis Hujan Menyulam Kafan
:catatan risau buat riau

Kubaca lagi aroma tanahku, dan pusaran waktu
selalu saja melahirkan gemuruh yang sama
dari luka lama
masihkah aku harus menyusu pada limbah di ceruk sungaimu yang galau?
atau menjerang kemarau bersama sisa hutan di jantungmu
ketahuilah,
batu-batu berserakan di atas kepala kita yang gersang
dan gurindam tetap saja terdengar sumbang
walau badai menggelora di setiap tarikan nafas yang meregang

Aku lelah mendayung sampan kayu
sambil mencumbui arang bakau
tapi gelombang pasang menghempas tiang pancang
yang kita tancapkan sebelum sampan kita berlabuh
di dermaga rapuh
beribu puisi kutulis setiap pagi
sambil menunggu matahari
dan di setiap persinggahan
aku selalu menemukan warna-warna hujan seputih kafan
hujan itu, turun dari retakan mata kita
membakar amuk di dada kita.

Lihatlah, sisa pipa minyak terserak
tapi masa depan anak cucu tak bergerak
dari pusaran kemiskinan, lengking kebodohan
 dan negeri kita seperti mata angin
yang kehilangan arah, selalu resah

kueja api tersirat mati, kueja kabut tersirat maut
haruskah aku menabuh kompang
sebelum suara adzan mengemasi detak jantung kita?

Kubuka selembar kafan dari tanganmu
lalu kusulam dengan berbait-bait pantun
kuerami bahasa melayu sambil melukis hujan
menerjemahkan masa depan
sebelum tanah kita digulung ombak, dirajam onak
dan kita tetap saja menambang liur
dari dasar kubur
serupa darah yang menjadi petuah
di negeri-negeri gelisah

Di manakah sejarah berliku itu
aku akan melukisnya bersama hujan
sebelum kau hidangkan secangkir duka
serpihan air mata
dan kafan yang akan kita bentangkan
di depan orang-orang jakarta, ternoda
oleh gemulai tubuh kita
yang terlalu renta

2004



Mencari Surga

Mungkinkah waktu yang telah kulalui selalu risau
saat langkah kaki ini terpojok pada lubang yang salah
surga yang kugapai entah di mana
bertahun-tahun kucari sambil berkeliling
mengikuti matahari
berselimut hujan sambil menggenggam awan
wajahku ibu, tidak sebersih harapanmu
kadang menciptakan reruntuhan hujan dan kabut dari matamu yang galau
lalu di manakah aku harus mencari surga?

Waktu berlalu, aku lupa mencium punggung tanganmu
sementara gema takbir menyayat serpihan tubuh ini
hingga kian mengecil seperti lukisan pasir dalam
kanvas putih
hari-hari tercipta seperti musim yang pergi begitu saja
seperti kata-kata yang kutulis terhapus percikan gelombang
sementara perahu yang kukayuh masih belum berlabuh

Adakah surga di bawah dermaga kasihmu?

2004