Ekspedisi Pulau Rupat

Mengawali kerja di tahun baru 2010, saya dan rekan-rekan di RiauBisnis.com ingin melakukan sesuatu yang baru. Ide ini sebenarnya secara tidak sengaja terlontar saat rapat proyeksi rutin di suatu pagi pada Desember 2009. Terlontar sebuah ide menggarap Special Report tentang pariwisata di Riau untuk edisi Januari 2010. Lalu terpikirlah melakukan perjalanan wisata jurnalistik ke suatu daerah. Tiba-tiba muncullah kata Rupat, pulau terluar Indonesia yang berhadapan dengan Selat Melaka. Konon, pulau itu menyimpan potensi wisata yang luar biasa.
Gayung pun bersambut. Selesai rapat, Chief Editor (saat itu Tri Ranti) memberikan saran untuk membuat liputan khusus tentang parisata di Riau. Klop! Ternyata meski tidak tidak bersama saat rapat, ternyata kami mempunyai pemikiran yang sama. Ide melakukan perjalanan ke Rupat pun kami sampaikan. Disetujui, lalu kami menyusun rencana, mencari informasi sebanyak-banyaknya. Tapi dari hasil searching di internet, tak banyak informasi yang kami dapat tentang Rupat Utara. Kontak dengan beberapa rekan tak membuahkan hasil menggembirakan.
Tapi nasib baik sepertinya berpihak kepada kami. Iseng-iseng, saya (saat itu Managing Editor) menulis rencana perjalanan ke Rupat Utara di dinding Facebook. Beberapa orang menanggapi, salah satunya teman lama yang sudah beberapa tahun tak saling kontak. Klo dh smpai sn.. Krm slm sm ahmad zamro’i ya bad.. Dy org sana tuch.. Tulis teman dengan akun Susanto Nova Susana. Setelah membuka profilnya, ternyata dia mencantumkan nomor kontak. Beberapa kali ditelpon tak aktif. Namun setelah yang entah keberapa kali nyambung, maka terjadilah komunikasi dan dapatlah nomor kontak kawan lama juga, yang ternyata pulang dan menjadi guru di sana.
Namanya Ahmad Zamroi, ternyata dia tinggal di Desa Sungai Cingam, beberapa kilometer dari Tanjungmedang, ibukota Kecamatan Rupat Utara. Setelah berdiskusi dengannya, muncullah beberapa rencana. Pertama, naik speedboat ke Selatmorong dan merapat di pelabuhan Cingam, baru melakukan perjalanan darat ke Tanjungmedang. Kedua, naik speedboat langsung ke Tanjungmedang.
Supaya lebih mengenal Rupat, kami pilih rencana pertama. Berangkat dari Pekanbaru pukul 04.00 WIB pagi kami tiba di Dumai pukul 07.30 WIB. Lalu kami mampir sementar ke rumah Ima, mantan reporter Riaubisnis.com. Ima kemudian mengantar kami ke pelabuhan speedboat di kawasan Budi Kemuliaan, Dumai. Ternyata speedboat menuju Sungai Cingam hanya satu kali, pada pukul 15.00 WIB. Sedangkan ke Tanjungmedang dua kali pada pukul 09.00 dan 15.00 WIB. Tak mau buang-buang waktu, setelah berdiskusi dengan Ahmad kami beralih ke rencana kedua. Pasalnya, Ahmad bersedia menjemput kami ke Tanjungmedang.
Maka kami pun meluncur dengan speedboat, melintasi Selat Melaka ke Tanjungmedang. Setelah merapat di pelabuhan Titi Akar tak lama kemudian sampailah di pelabuhan Tanjungmedang, pada pukul 12.00 WIB. Setelah menunggu beberapa saat, Ahmad muncul dengan lima orang temannya, yang ternyata murid-muridnya di SMA Pangkalan Nyirih, masuk Rupat bagian Selatan, yang dengat dengan Selat Morong. Setelah makan siang, petualangan pun dimulai.
Tujuan pertama kami ke rumah Camat Rupat Utara, tapi ternyata sedang berada di Bengkalis. Setelah mendapat nomor kontak dari istrinya, kami melanjutkan perjalanan ke Teluk Rhu, kawasan pantai berpasir putih yang sangat elok. Hanya beberapa menit setelah sampai di sana, hujan turun rintik-rintik. Kami pun berteduh di rumah warga sambil wawancara tentang segala hal yang akan kami tulis. Setelah reda kami pun menyusuri pantai sambil mengambil foto. Tapi mendadak mendung, lalu hujan pun turun lagi.
Dalam rintik gerimis, kami pun melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor menyusuri pantai sambil berlomba dengan air pasang. Soalnya kalau sudah pasang, pasir putih landai yang indah itu akan tertutup air laut. Namun sepertinya kami belum beruntung, baru sekitar dua kilometer hujan mulai deras. Untung tak jauh dari tempat kami kehujanan ada wisma tua yang nyaris tak terawat. Kami pun singgah untuk numpang berteduh. Ternyata pemiliknya pasangan yang sudah tua dan setia menunggu pantai dari masa ke masa, sambil berharap ramai dikunjungi. Banyak informasi yang kami dapat di sana.
Setelah reda, kami melanjutkan perjalanan lewat darat. Karena laut sudah pasang dan tak bisa dilewati kendaraan. Padahal hamparan pasir putih yang mau kami telusuri masih 10 kilometer lebih. Lewat darat jalanan lumayan licin, cor beton yang di sana sini berlobang. Namun baru beberapa kilometer melewati jalan dengan lebar 1,5 meter itu hujan kembali turun dengan lebat. Singgah sebentar di mushola di kawasan Tanjung Ponak.
Namun karena tak ada tanda-tanda hujan bakal turun, kami pun terpaksa menerabas hujan karena hari sudah senja dan harus naik pompong lagi menyusuri Sungai Lelong menuju Desa Makeruh. Itu merupakan satu-satunya cara untuk mencapai desa tersebut. Sebab belum ada jembatan penghubung. Setelah melewati kampung Lelong, yang mayoritasnya masyarakat Tionghoa kami kembali melalui jalan beton rusak dan sempit untuk menuju Desa Cingam.
Menjelang jam 19.00 WIB kami sampai di Desa Sungai Cingam lalu singgah sebentar di rumah kakeh Ahmad untuk Salah Maghrib. Nah, sebelumnya Ahmad bilang kalau turun hujan jalan menuju rumahnya tak bisa dilalui kendaraan. Ternyata benar, untuk sampai ke rumahnya kami harus jalan beberapa ratus meter dengan kaki telanjang. Karena berjalan di tanah liat berlumpur tak bisa menggunakan alas kaki. Tiba di rumahnya, kami makan malam dan berbagi cerita hingga mata terpejam.
Paginya, setelah sarapan pagi dan berpamitan dengan keluarga Ahmad, kami kembali jalan kaki menuju jalan beton terakhir. Lalu naik sepeda motor menuju Pantai Lohong melewati jalan beko (jalan tanah yang baru di-excavator) sepanjang 1,5 kilometer. Pantai itu juga tak kalah indah, pinggirnya dipenuhi pohon cemara. Namun nasibnya sama dengan pantai di Teluk Rhu, tak ada satu pun fasilitas pariwisata. Karena air sedang pasang, keindahan pasirnya yang landai pun tertutup gelombang.
Kami menutup perjalanan menuju pelabuhan di Pangkalah Nyirih yang masuk kawasan Rupat bagian selatan. Di sana ada Selat Morong yang membelah pulau tersebut. Sebuah jembatan sedang dibangun, tapi tak tahu kapan selesainya. Tepat pukul 09.30 WIB, speedboat Samudera Rupat II membawa kami menuju Dumai. Dari jauh perlahan-lahan Pulau Rupat tampak mengecil, tertutup ombak Selat Melaka. Kami berharap suatu saat bisa kembali lagi ke sana. Menikmati dan menyelami keindahannya…. (*)
Catatan: Tulisan ini sebelumnya dipublikasikan di RiauBisnis.com.