Kembang Kopi


Cerpen M Badri

Pernahkah kamu mendengar sesuatu tentang kembang kopi? Tentang keluarga pekerja perkebunan teh, yang berpantang minum teh turun-temurun. Mereka hanya minum kopi, di tengah perkebunan teh yang hijau.

Sepertinya aku harus menceritakan kepadamu, tentang gadis itu, dan rahasia setangkai kembang kopi dalam secangkir kopi hitam. Gadis gunung yang setiap hari menyuguhiku kopi wangi, seperti wangi tubuhnya yang beraroma kebun.

Matahari pagi menabur sinarnya di sela-sela gunung. Menghangatkan gigil musim hujan, mewarnai halimun yang menutupi lekuknya. Seperti jubah alam, lembut, berkilauan dan anggun. Tak ada yang lebih nikmat di pagi yang dingin, selain meneguk secangkir kopi, sambil memandang hamparan pegunungan yang menghijau dan memukau. Menatap barisan perempuan pemetik teh berjalan beriringan membelah perkebunan. Atau melihat keriangan anak-anak sekolah di perempatan jalan, menunggu mobil pick-up untuk sekadar menumpang.

Ia gadis gunung beraroma kebun, setiap pagi dan petang mengantarkan secangkir kopi, gorengan gurih, dan makanan. Gadis dusun yang anggun, berbalut kain batik dan sanggul. Di vila mungil yang kutempati selama beberapa minggu, untuk riset sosiokultural pekerja perkebunan warisan kolonial. Vila bambu yang berbaur dengan semak dan perdu-perduan gunung. Gadis dusun yang sederhana, ia anak penjaga warung yang ramah, warung kecil di lembah.

“Kenapa kamu selalu memberi kembang kopi di dalam cangkir ini, Sahra?” kataku suatu pagi, setelah melihat kebiasaannya meletakkan setangkai kembang kopi yang putih lembut, di atas secangkir kopi hitam. Suatu kebiasaan yang tidak pernah kulihat di tempat lain, di kafe-kafe atau warung-warung kopi yang pernah kusinggahi. Tapi dia hanya tersenyum.

“Minum saja Bang. Tapi rasanya enak, kan?”

“Hmmm…. Ada keharuman yang beda. Apa ini kebiasaan di sini?”

“Tidak juga. Ini hanya kebiasaan keluarga kami, sejak turun temurun. Sudahlah, tidak penting untuk dibicarakan. Tapi kalau tidak suka, tidak apa-apa.”

“Oh nggak, enak kok. Malah tambah enak, hanya aneh saja, he he he…”

Lalu ia pamit dan kembali ke warungnya, di lembah, yang dari atas terlihat seperti serangga kecil di tengah rerumputan. Namun aku masih ingin tahu, alasannya memberi kembang kopi dalam secangkir kopi hitam. Bahkan Dee pun mungkin tidak tahu tentang hal itu, karena tidak kudapati kembang kopi dalam Filosofi Kopi-nya. Aku yakin Sahra, kamu dan keluargamu menyimpan sesuatu tentang kembang kopi. Karena aku terlanjur meneguknya, maka aku ingin menyingkap sesuatu yang tersembunyi itu.

“Kenapa selalu ada kembang kopi di cangkir ini, Sahra?”

Aku hampir tiap hari menanyakannya, setiap ia mengantarkan secangkir kopi dan makanan ke vila. Namun ia hanya tersenyum, menyilahkanku minum, atau menanyakan kalau aku tidak suka ia tidak akan meletakkannya lagi. Tapi aku terlanjur menyukainya, dan selalu merindukan setangkai kembang kopi setiap pagi dan petang di cangkirku. Seperti aku merindukannya, untuk bertanya dan berharap dia memberi tahu sesuatu tentang kembang kopi itu.
***

“Kenapa kopi ini dicampur kembangnya, Sahra?” tanyaku, entah sudah yang ke berapa kali.

“Benarkah Abang ingin tahu tentang kembang kopi ini?” jawabnya tanpa ekspresi. Mungkin ia sudah jenuh dengan pertanyaan-pertanyaan sama yang selalu kulontarkan hampir setiap hari.

“Tapi aku khawatir, setelah Abang tahu, tak mau lagi minum kopi buatan kami.” Ia menatap tajam, ingin jawaban dariku.

“Tidak Sahra. Aku terlanjur meneguknya, terlanjur menyukainya. Keharumannya telah menyatu dengan diriku. Jadi tidak usah khawatir, aku hanya sekadar ingin tahu kenapa kamu selalu meletakkan kembang kopi di cangkirku.”

Matanya menerawang jauh, entah ke masa lalu, atau mengingat sesuatu. Menembus pekat halimun yang pagi itu menyelimuti gunung. Kicau burung juga masih menjadi bagian dari harmoni alam. Selama beberapa menit tak ada percakapan. Aku membiarkannya larut dalam pikirannya sendiri. Adakah sesuatu tentang kembang kopi itu, sehingga ia harus menunggu lama untuk sekadar bicara?

“Dulu Bang, dulu sekali. Ketika perkebunan teh ini baru dibuka oleh Belanda, nenek dari nenekku tinggal di sini. Entah bagaimana aku harus memanggilnya? Buyut, moyang, atau apa?”

“Terserah kamu, Sahra. Lantas?” kataku penasaran ingin mendengar lanjutan ceritanya.

“Nenek dari nenekku itu, tinggal di barak pekerja yang ada di tengah-tengah perkebunan. Dulu katanya, menurut cerita yang turun- temurun di keluargaku, beliau termasuk kembang kebun. Paling cantik di antara perempuan-perempuan yang ada di perkebunan teh ini. Banyak pria pada masa itu yang terpesona pada kecantikannya. Dari pekerja kebun sampai mandor, asisten, administratur. Bahkan gubernur jenderal juga jatuh hati.”

Sahra diam sejenak. Ia berdiri dan melangkah ke beranda. Pandangannya masih jauh ke masa lalu. Seolah ingin menceritakan, cerita masa lalu keluarganya dengan sepenuh hati. Cerita turun-temurun yang hanya diketahui keluarganya. Tapi ia menceritakan kepadaku? Hanya karena aku selalu menanyakan kembang kopi di secangkir kopi yang kuminum setiap hari.
“Kita ngobrol sambil jalan saja, Bang.” Ia mengajakku keluar dari vila bambu itu, lalu melangkah di jalan kecil yang membelah perkebunan. Aku melihat permadani alam hijau bergelombang. Sinar matahari membuatnya berkilauan. Ia sedikit menyingkap kain batiknya saat melewati jalan becek. Sebab hampir tiap malam hujan mengguyur perkebunan.

“Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kecantikannya, sampai-sampai gubernur jenderal juga jatuh hati kepadanya. Tapi itu mungkin, sebab beliau bekerja sebagai penyeduh teh di perkebunan ini. Teh racikannya sangat nikmat, sehingga setiap tamu penting yang datang selalu beliau yang membuat tehnya. Mungkin itulah awal dari cerita turun-temurun itu.”

Aku juga tidak habis pikir, seorang gubernur jenderal tertarik pada perawan gunung. Tapi mungkin saja, sebab penguasa Belanda di masa lalu banyak mencari gadis-gadis pribumi untuk dijadikan gundik, nyai, atau selir. Bukankah di masa lalu juga, tidak ada yang lebih penting dari seorang perempuan selain kecantikan dan kepiawaiannya di dapur? Katanya, itu mencerminkan kepiawaiannya melayani lelaki di tempat tidur. Tapi entahlah, aku hidup di masa kini. Kecantikan perempuan bisa dilihat dari fisik, hati, atau kecerdasannya.

“Tapi beliau tidak mau dijadikan gundik gubernur jenderal. Tidak seperti perempuan-perempuan cantik lainnya di masa itu, yang bangga menjadi gundik pejabat Hindia Belanda. Sebab mereka akan mendapat derajat tinggi secara sosial dan ekonomi. Tapi beliau beda Bang, cinta dan kasih sayangnya telah lekat pada seorang pemuda dusun, pejuang kampung. Kecantikan tidak membuatnya hanyut pada gelimang harta, sehingga tenggelam dalam permainan cinta para penguasa di zaman itu. Padahal jarang seorang gubernur jenderal tertarik pada perempuan pribumi yang bukan bangsawan, gadis gunung lagi.”

Sahra tersenyum, seolah mengalami langsung romantisme masa lalu itu. Kami berjalan semakin jauh. Di lereng seberang, aku melihat beberapa perempuan pemetik teh mulai turun, menggendong keranjang yang penuh dengan daun-daun teh segar. Untuk dibawa ke pabrik di tengah perkebunan. Mengolahnya menjadi beberapa jenis, untuk konsumsi ekspor dan lokal. Tawa mereka senada dengan gemericik kali yang membelah pegunungan.

Aku melihat wajah Sahra berubah sendu. “Lalu, sesuatu yang buruk terjadi. Gubernur jenderal itu Bang, memperkosanya di suatu malam. Saat hujan mengguyur pegunungan dengan derasnya. Di rumah administratur, sesaat setelah selesai menyeduh teh untuk tamu-tamu itu. Mungkin itu teh terakhir yang diseduhnya di perkebunan ini. Sebab setelah itu, beliau mengurung diri di rumah. Keluarga tidak bisa berbuat apa-apa. Menuntut seorang gubernur jenderal? Sesuatu yang mustahil bukan?”

Sahra menggenggam rerimbun daun teh hijau, meremasnya, mencabutnya dan melemparkannya ke udara. Daun teh itu berhamburan, lalu berjatuhan di tanah basah. Aku melihat cairan bening mulai mengalir di pipinya yang ranum. Seperti sungai kecil dari perut gunung menuruni lembah.

“Beberapa bulan kemudian, kejadian malam itu membuat perutnya membesar. Malangnya pemuda dusun yang dicintainya itu, kabarnya gugur dalam suatu pertempuran di utara Jawa. Orang-orang tidak ada yang percaya kalau janin itu hasil perbuatan gubernur jenderal. Saat itu, hamil tanpa suami menjadi aib, dianggap pembawa sial. Orang-orang perkebunan mengusirnya, karena dianggap akan membawa malapetaka di perkebunan.”

“Lalu mereka tinggal di mana?”

“Di hutan, pinggir perkebunan. Membuat gubuk kecil, sambil menunggu kelahiran anak yang dikandungnya. Tapi mungkin ini kehendak Tuhan, atau sudah menjadi takdir, saat hamil tua beliau meninggal. Lalu dikubur bersama janin yang masih ada dalam perutnya.”

Air mata Sahra menderas. Sesekali ia mengusap dengan punggung tangannya. Kami terus berjalan, entah sudah melewati berapa bukit dan tikungan. Sebab di pegunungan ini semuanya hampir sama, hijau dan bergelombang.

“Kamu pernah mendengar cerita tentang perempuan yang beranak dalam kubur, Bang?” katanya tiba-tiba.

“Iya, dalam film-film horor dan cerita misteri. Kenapa Sahra?”

“Itulah yang terjadi dengan beliau. Ini bukan dongeng, atau cerita-cerita film. Mungkin sudah takdir Tuhan harus begitu. Bukankah tidak ada sesuatu yang tidak mungkin di dunia ini, kalau sudah ada campur tangan-Nya? Begitulah Bang, seminggu setelah beliau meninggal, keluarga mendengar tangis bayi dari dalam makamnya, yang berada di belakang gubuk. Saat itu juga, ayah beliau menggalinya dan mendapati bayi perempuan di samping jasadnya, yang katanya tidak rusak, malah berbau wangi. Bayi itu nenek ibuku.”

Aku terdiam mendengar ceritanya. Benarkah kisah seperti dalam film-film itu terjadi? Dalam logika masyarakat kota, hal itu sepertinya tidak mungkin. Tapi aku yakin, ia tidak bohong, atau mengarang cerita untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku tentang kembang kopi di cangkir itu.


“Lalu apa hubungannya dengan kembang kopi di cangkir itu?”

“Tak lama setelahnya, entah siapa yang menanam, ada pohon kopi yang tumbuh di atas makamnya. Itu menjadi satu-satunya pohon kopi yang bisa tumbuh di pegunungan ini. Hanya satu pohon, tapi subur. Pohon itu kemudian berbunga lebat yang sangat semerbak, wangi. Tidak ada kembang kopi yang harumnya sama dengan pohon itu. Kemudian buahnya juga menjadi kopi yang sangat enak. Pohon itu sampai sekarang masih hidup.” Lalu Sahra menggandeng tanganku ke rerimbun belukar di pinggir perkebunan. Agak masuk ke dalam hutan, melewati jalan setapak.

“Itu pohonnya.”

Benar, aku melihat sebatang pohon kopi yang subur. Daun-daunnya hijau, bunga-bunganya berwarna putih dan halus. Harumnya berbeda, sangat lembut, seperti perpaduan antara melati, kenanga, mawar, entah apa lagi. Wanginya sangat unik, dan sepertinya tidak ada yang menyamai. Buahnya juga sangat bagus, merah menyala dan bersih. Tidak ada satu pun buahnya yang jatuh ke tanah.

“Sejak itu, keluarga turun-temurun berpantang minum teh. Sampai sekarang, hanya minum kopi dari pohon ini. Kopi ini juga tidak dijual, paling hanya dihidangkan kepada tamu. Itulah sebabnya, ibu hanya menyuruhmu membayar makanan saja, sedangkan kopi yang kuantar setiap pagi itu gratis.”

“Kembang kopi itu?”

“Oh iya, kami meletakkannya supaya keharuman biji kopinya menyatu dengan kembangnya. Agar orang yang meminumnya diwangikan kehidupannya. Sebab kembang adalah lambang keindahan, kelembutan dan kasih sayang. Sebenarnya itu hanya racikan biasa, tapi kemudian ada yang tidak lengkap bila menyeduh kopi dari pohon itu tanpa kembangnya. Aroma dan rasanya juga lebih nikmat bila disajikan dengan kembangnya.”

Aku hanya manggut-manggut mendengar cerita Sahra.

“Apakah masih mau minum kopi itu, setelah tahu asal usulnya?”

“Sepertinya aku terlanjur menyukai aromanya, rasanya. Itu kopi paling nikmat yang pernah kuminum. Aku yakin kopi wangi itu jauh lebih enak dari kopi tiwus seperti dalam cerita Dee. Bahkan aku ingin selalu meneguknya setiap hari. Jujur saja, hatiku jadi tenteram sejak tinggal di sini. Ada wangi kehidupan yang berbeda. Bolehkah aku minum kopi buatanmu, lengkap dengan kembangnya, setiap hari, Sahra?”
Ia hanya tersenyum.***

Bogor– Pekanbaru, 2008


Cerpen ini dimuat Riau Pos, Ahad, 25 April 2010