Lagu Purnama Sungai Duku

Cerpen M Badri

Di masa kecil, pernahkah nenekmu bercerita tentang perempuan bergaun keemasan bersampan di bawah purnama? Membelah arus Sungai Siak yang menderas menuju hilir, dari tepi ke tepi. Perempuan itu, kata nenekku, adalah penjelmaan peri yang turun ke bumi karena terpesona pada cerita tentang keperkasaan seorang pemuda yang selalu mengayuh lancang menuju hulu. Melawan arus bukan? Ya, pemuda itu mengayuh lancang sambil memainkan seruling sehingga ikan-ikan yang mendiami sungai ini tersihir dan membantunya berlayar menuju hulu yang tiada ujungnya.

Lalu kenapa peri itu ada di Sungai Duku ini, nenek? Kataku, di masa kecil yang begitu lugu. Peri yang mengejar cinta itu, kemudian terdampar di sini karena setelah bersampan ribuan siang ribuan malam tak juga menemukan si pemuda. Padahal jaraknya mungkin hanya dipisahkan satu purnama, namun arus sungai ini tak juga mempertemukan keduanya. Lalu bagaimana cinta sang peri itu, nenek? Katanya, cintanya ikut terdampar di tepi sungai ini ketika musim kemarau mendangkalkan jarak yang telah dia tempuh. Sampan peri itu, menurut cerita terdampar di sekitar pelabuhan Sungai Duku, yang kini selalu dilayari orang-orang menuju muara. Menuju lautan luas dengan banyak rencana dan tujuan.

Maka, setelah angin bertiup ke segala penjuru, di akhir musim kemarau yang ditandai dengan purnama penuh, tubuh sang peri tiba-tiba hilang seiring dengan turunnya hujan selama tujuh hari tujuh malam. Tubuh itu hilang bersama cintanya kepada pemuda yang sampai kini mungkin masih mengayuh lancang menuju hulu, sampai akhir usianya. Menurut cerita nelayan di masa lalu yang biasa mencari ikan di sungai ini, kadang-kadang saat purnama mereka melihat perempuan cantik berambut panjang bergaun keemasan melintasi sungai ini dari tepi ke tepi, sambil memainkan seruling dengan irama yang teramat syahdu. Menurut cerita juga, mereka kemudian mendapatkan banyak tangkapan, sebab ikan-ikan bermunculan karena terpesona dengan irama seruling sang peri.

“Benarkah cerita itu, Nenek?” kataku dua puluh tahun lalu, ketika suatu malam purnama nenek bercerita, melanjutkan kisah-kisahnya tentang hikayat sang peri yang terdampar di Sungai Duku.

“Cerita tetaplah cerita, kita tidak tahu sebelum membuktikan kebenarannya,” katanya sambil membelai rambutku yang kemerahan karena setiap hari terendam hangatnya sungai Siak. Ya, sejak aku mendengar cerita tentang peri itu, hampir tiap senja aku berenang di tepi sungai sambil menaruh harapan bertemu dengannya. Setidaknya sewaktu menyelam aku menyentuh gaunnya yang keemasan atau rambutnya yang panjang.

***

Purnama barangkali merupakan malam yang dinanti semua orang. Ketika bulan berlayar di atas lautan awan yang berarak mengikuti arah angin. Aku begitu terpesona dengan purnama, mungkin juga karena cerita nenek puluhan tahun lalu yang banyak menceritakan keindahan purnama. Tentang hikayat raja-raja di negeri entah yang selalu berpesta di malam terang itu. Tentang bidadari-bidadari cantik yang mandi di telaga di malam yang sama. Tapi keindahan purnama, kadang teracuni juga oleh cerita-cerita drakula atau siluman serigala yang sering kulihat di layar kaca.

Aku tidak akan banyak bercerita tentang purnama kepadamu Ai. Bukankah keindahannya sering kau nikmati di malam-malam sunyi ketika engkau bersampan dengan kekasihmu? Kekasih yang telah meninggalkanmu menuju muara dengan kapal feri, kemudian menyeberangi lautan Melaka yang begitu luasnya. Tapi setidaknya cerita peri itu tidak meracunimu sehingga engkau tenggelamkan rencana dan impianmu di dasar sungai ini. Ya, memang kenangan tidak akan hilang selama kita masih hidup.

“Maaf, kalau aku terlalu banyak bercerita tentang kisah cintaku yang begitu pilu, sehingga kau menyamakanku dengan peri seperti yang kau dengar dari nenekmu,” katanya suatu malam ketika dia kuajak menikmati purnama dari tepi pelabuhan.

“Tidak pernah sama Ai...” kataku kepada perempuan yang kemudian menjadi temanku, setelah perkenalan karena ketidaksengajaan.

“Lalu?”

“Perbedaan antara cerita dengan dunia nyata bisa tidak terhingga, tapi bisa juga sangat tipis. Tergantung bagaimana kita memaknai cerita itu,” kataku sambil memainkan ranting ke permukaan air yang mengalir perlahan-lahan.

“Apakah kamu juga menyukai senja?” kataku.

“Aku dulu sering menghabiskan senja di Danau Buatan bersama kekasihku, eh bekas kekasihku, yang kini pergi bersama cinta palsunya ke negeri yang aku tak pernah tahu. Barangkali, dia sudah bersampan dengan kekasihnya yang lain di danau lain,” dia mengusap air mata yang sebagiannya jatuh ke sungai.

“Senja itu membatasi gelap dan terang, hanya beberapa menit sebelum waktu berganti dan rotasi berputar mengikuti detak jam.”

“Lalu apa hubungannya dengan purnama?” katanya terlihat bingung.

“Renungkan saja...”

“Sok filosofis! Kamu yang benar saja kalau ngomong. Ihhh...”

Aku tertawa lepas, dan membiarkannya hanyut dalam kenangan yang selama ini begitu menghantui mimpi-mimpinya. Dia ingin melupakan kenangan buruk tentang cinta, tentang kekasihnya yang tiba-tiba meninggalkan rencana yang telah mereka rangkai berdua. Kekasihnya pergi sendirian, dari dermaga ini, mengikuti arah angin dan arus sungai, ketika senja begitu asing dan ganjil. Dia hampir tidak bisa menerima kejadian itu, dan nyaris saja menenggelamkan rencana dan impiannya di dasar sungai ini.

Aku bukan psikolog, kataku suatu ketika. Ketika dia ingin melepaskan beban yang teramat dalam menghunjamnya. Tapi dia terus saja bercerita tentang kisah cinta dan kehidupannya, sampai selesai dan membuatnya bisa tidur dengan nyenyak. Ceritanya seperti sebuah lagu malam yang pilu, selalu diputar berulang kali, sampai gerimis dan angin ikut menuntaskan kesedihannya.

“Aku tidak bisa tidur kalau belum bercerita kepadamu,” katanya dalam telepon suatu malam ketika hujan membasahi kota.

“Kenangan itu hal indah jika kau tak perlu berurusan dengan masa lalu.”

“Tapi aku ingin mengubur kedua-duanya,” dia semakin bersikeras dengan sikapnya. “Sudah sepuluh butir pil kutelan untuk menghapusnya.”

“Sepuluh butir pil? Kenapa tidak bola bilyar sekalian. Ah, kamu jangan berpikiran ngaco, Ai!”

“Nggak kok, cuma lima butir supaya aku bisa segera terbang ke alam mimpi. Lalu aku harus bagaimana?” dia terus menyeracau.

“Masa lalu biarlah berlalu, biarkan dia terbang bersama angin....”

“Bull shit...!”

Begitu juga dengan malam-malam berikutnya, sampai dia memaksa aku kembali bercerita tentang cerita masa kecil itu. Setelah sekian lama menumpahkan segala kisah, kesedihannya mulai hanyut dalam arus sungai yang sebelumnya menghanyutkan harapannya. Dia semakin menyukai malam di dermaga, sambil mendengarkan lagu-lagu sendu, di bawah purnama yang terlihat mengambang di permukaan air. Dia menyukai itu, sambil berharap bertemu dengan peri bergaun keemasan yang mengayuh sampan dari tepi ke tepi.

“Apakah kamu ingin bersampan dari tepi ke tepi juga?” kataku kemudian.

“Gila kamu...! Kenapa tidak kamu suruh saja aku berenang atau menyelam dan berharap bisa menyentuh gaun keemasannya atau rambutnya yang panjang, seperti obsesimu itu? Supaya aku bisa berbagi kisah dan pengalaman dengannya, tentang makna kehilangan. Tapi boleh juga, sesekali aku ingin bersampan dari tepi ke tepi agar bisa menghayati hati peri purnama itu.” Dia mengangguk-angguk.

***

Sudah sepekan lebih perempuan itu tidak ada kabarnya. Atau tepatnya sudah berbulan-bulan. Tiba-tiba dia seperti menghilang. Dua nomor telepon genggamnya tidak ada yang aktif. Ke mana kamu Ai? Untuk bertanya kepada teman-temannya? Aku sama sekali tidak tahu siapa-siapa temannya, juga rumahnya. Pertemanan kami hanya sebatas di telepon dan di atas pelabuhan. Pada malam-malam tertentu, kadang saat senja. Bukankah pertemuan adalah awal dari kehilangan?

“Sesekali buatlah cerita tentangku, kamu penulis cerita kan?” katanya suatu ketika, jauh-jauh hari sebelum dia pergi dan tak pernah kembali.

“Kenapa?”

“Supaya kamu juga bisa menceritakan kepada orang-orang tentang perempuan-perempuan yang kehilangan. Tidak hanya peri bergaun keemasan, tetapi juga tentang aku. Mungkin juga nantinya ada cerita tentang perempuan-perempuan lain yang mengalami nasib sama.”

Aku tertawa. Tapi dia hanya tersenyum kecut.

“Apakah kehilangan harus ditertawakan? Buatlah cerita ya, tentang aku, pliiis... Aku akan senang sekali bila kisahku kamu abadikan,” dia memohon.

“Mengabadikan kehilangan? Sangat sentimental bukan?”

“Biarlah, biar orang-orang bisa memaknai kehilangan. Sehingga tidak harus bunuh diri atau meratapi sepanjang hari. Kehilangan adalah akhir dari pertemuan. Itu bagian dari realitas hidup yang harus kita jalani. Tinggal bagaimana kita memaknainya.”

Dia terlihat serius. Dilemparkannya sebuah kerikil ke tengah sungai. Plung!

“Okelah, aku akan menceritakannya setelah aku kehilangan kamu. Ha-ha-ha... Bercanda kok. Sejujurnya aku tidak ingin kehilangan kamu, kehilangan cerita-cerita tentang kehilanganmu itu.”

Karena itulah kemudian aku membuat cerita tentangnya. Setelah berbulan-bulan cerita itu baru selesai. Namun aku tidak ingin segera menceritakan kepada orang-orang. Sangat sentimental tapi tidak populer. Seperti pesannya, agar orang-orang tidak harus bunuh diri atau meratapi sepanjang hari. Ke mana dia berbulan-bulan ini? Mestikah dia menghilang agar aku segera menceritakan kisahnya?

Tapi aku yakin dia tidak jauh-jauh dari sungai ini. Sebab dia dulu pernah bilang, ingin selalu dekat dengan sungai Siak. Tapi entah di mana dia sekarang berada, apakah di sekitar Sungaiduku ini juga (tapi aku yakin tidak), di sekitar jembatan Leighton, atau malah ke hilir seperti Perawang, Siak Sriindrapura, Sungaiapit atau di Pakning. Dengan kekasih barunya, suami, mungkin juga dengan kekasih masa lalu yang kembali setelah membuatnya kehilangan.

Dengan siapa dia sekarang, itu tidak penting. Yang jelas dia menghilang dalam kondisi hidup, sebab setiap orang yang hanyut di sungai Siak mayatnya selalu terapung. Sebab juga dia pernah bilang, tak perlu bunuh diri atau meratapi sepanjang hari. Maka aku pun kembali sendiri, setiap ingin melihat purnama dari dermaga. Ditemani lagu-lagu sendu yang mengalun dari MP3 player atau telepon genggam. Sambil berharap munculnya peri bergaun keemasan yang berlayar dari tepi ke tepi, meniup seruling yang katanya berirama syahdu.

***

Kepada orang-orang kemudian aku bercerita tentang peri bersampan di Sungai Duku setiap purnama, dari tepi ke tepi. Juga tentang perempuan yang kehilangan. Ada yang pura-pura percaya banyak juga yang tidak. Tapi ini nyata, hampir setiap senja (bukan setiap purnama) aku melihat perempuan setengah baya mengayuh sampan, dari tepi dermaga Sungaiduku ke tepinya yang lain. Kadang sendiri kadang bersama orang lain. Dia mengayuh dan terus mengayuh, sampai keringatnya yang berwarna keemasan karena memantulkan sinar matahari senja, bercucuran. Melawan gelombang dari kapal-kapal besar yang lewat. Atau beradu nasib dengan kedalaman sungai berwarna kecoklatan. Sungai yang kadang bersahabat kadang sangat murka.

Perempuan setengah baya itu, apakah penjelmaan dari peri bergaun keemasan? Atau perempuan kehilangan yang tiba-tiba menjadi tua setelah menyelam saat purnama, lalu terkena radiasi Sungai Siak yang kini dipenuhi sampah dan limbah industri. Ataukah dia bukan keduanya, tapi perempuan perkasa yang sedang mengayuh kehidupan keluarganya. Datanglah ke pelabuhan Sungai Duku, saat senja, dan kamu akan menemukan perempuan itu. Dengan sampan kayu dan sepasang dayung. Datanglah, lalu pandangi keringat keemasan yang mengalir dari tubuhnya...***


Bogor – Pekanbaru, 2007