Riwayat Cinta dalam Secangkir Moka

Cerpen M Badri

Sudah sangat lama aku tidak menulis cerita tentang cinta. Maka ketika kau mengajakku berdiskusi persoalan purba itu, aku pun terpaksa membolak-balik riwayat yang terlanjur kubenamkan di palung labirin. Tapi tak apalah. Di usia kepala tujuh, aku masih mengingat banyak cerita yang bisa kubagikan kepadamu. Barangkali kita bisa saling berbagi cerita. Tentang cinta, atau apa saja yang ada dalam kepala indahmu.

Sebagai mahasiswi jurusan sastra yang terobsesi meneliti sastra lama, aku tak heran kalau kau suka berbagi cerita dengan lelaki tua sepertiku. Begitulah, tiba-tiba kau semakin akrab denganku. Hanya karena aku sangat hafal rahasia si Marquez yang terjebak sunyi selama 100 tahun. Atau kisah seppuku Mishima, si penulis eksentrik dari Negeri Sakura.
***

“Kamu tahu banyak hal, pak tua,” kata gadis nyentrik itu, sambil mengapit tas lusuh berbahan bekas pembungkus tepung terigu cap segi tiga biru.

“Aku bekas pencerita,” jawab lelaki tua itu dingin. Sesekali ia menyeruput moka dari cangkir porselen. Di sudut kafe bambu miliknya, di simpang tiga pinggiran kota.

Hampir setiap sore gadis itu menemuinya. Sekadar berbagi cerita atau berdiskusi tentang perkembangan penelitian sastra lamanya. Sebuah netbook mungil dikeluarkan dari tas. Di dalamnya ada ribuan file sastra klasik, mulai karya Raja Ali Haji, Soeman HS, Hamka, Sutan Takdir Alisjahbana, hingga pengembara macam Karl May dan Hemingway. Roman Siti Nurbaya versi e-book juga terselip di salah satu foldernya.

“Sejak kapan kau menyukai sastra lama? Sungguh aneh, biasanya gadis seusiamu lebih tertarik membaca teenlit atau chicklit atau apalah namanya itu.”

”Sastra klasik secara tematik lebih realistis dengan kondisi zamannya. Lebih dari itu, cerita cinta yang disuguhkan lebih manusiawi. Bukan percintaan cengeng atau cinta purba yang kacangan,” dia menjawab tanpa menolehkan muka. Jemari lentiknya asyik menari di atas keyboard warna putih susu.

”Katanya kamu bekas pencerita, pak tua?”

”Ya, tapi aku lebih suka mengisahkan cerita-cerita tentang diriku sendiri. Meski kadang kubungkus dengan gaya orang ketiga.” Sebelum melanjutkan ucapannya, ia melirik gadis itu. Mata kusutnya terlihat semakin keriput dibungkus kantung sawo matang.

“Aku juga pernah mengalami riwayat cinta penuh problema. Mirip cerita Raja Djaafar dengan Tengku Buntat dalam buku warna coklat jingga yang kau bawa kemarin itu1). Bergemuruh seperti ombak beronak penuh badai yang diciptakan para bangsawan. Hingga kini aku masih senewen, kenapa silsilah dan muasal menjadi karang bagi pelayaran cintaku.”

“Bagiku cinta seharusnya tak mengenal ruang dan waktu. Menerabas batas usia, agama, etnik, bangsa atau apa pun yang bagi sebagian orang kerap menjadi portal penghalang.” Gadis itu merespons.
“Yeaah! Tapi aku kalah. Silsilah telah memenggal cintaku. Tak seperti bangsawan keturunan Bugis-Melayu itu. Meski tak ditakdirkan bersatu, hingga kini mungkin cinta keduanya masih abadi dalam labirin yang sangat rahasia.” Ia menerawang jauh, memandangi langit biru diselimuti awan putih, mirip kolase samudra.

“Kupikir kau seorang pecinta yang payah!”

“Tapi setidaknya tak sampai berakhir pada kematian, seperti Romeo-Juliet yang kau agung-agungkan itu!” Kata lelaki tua itu tak mau kalah. “Kenapa kau tak pernah bertanya kenapa aku menjadi pencerita?”

“Tanpa ditanya, aku yakin kamu akan menceritakannya sendiri,” jawab gadis itu cuek.

“Bagi pencerita, benih-benih cinta yang tumbuh menjadi energi untuk bercerita. Energi itu semakin meledak ketika cinta melahirkan kegagalan dan penderitaan. Kerinduan yang indah dan keputusasaan yang pahit, kadang menjadi energi luar biasa buat pencerita untuk menghasilkan karya.”
“Karena itukah, tak sedikit pencerita ulung yang gagal dalam percintaan?”
“Ha-ha-ha-ha-ha…..”
***

Hujan turun rintik-rintik menjelang sore. Kafe bambu itu menjadi rendezvous yang menarik, tempat berbagi cerita tentang banyak hal. Seperti biasa, mereka duduk di sudut sebelah kiri yang menghadap ke jalan raya. Masing-masing ditemani secangkir moka. Dalam dingin, kopi yang dicampur dengan coklat itu dapat menghangatkan suasana.

”Tema apalagi yang kau gali?” Lelaki tua itu membuka pembicaraan, setelah keduanya bertatapan cukup lama.

”Aku sedang menghayati atas pembacaan Oedipus. Tapi aku bingung, kenapa Freud tiba-tiba menafsir naskah drama Sophocles itu untuk laki-laki yang jatuh cinta kepada perempuan yang jauh lebih tua,” jawabnya.

”Apa kau sedang jatuh cinta pada pria yang jauh lebih tua?”
”Hmmm....” Dia mendehem sambil menatap tajam kepadanya. ”Aku heran, kenapa cinta beda usia oleh psikoanalis Austria itu dianggap penyimpangan.”

”Barangkali ia menarik benang merah dari pendapat umum.”

”Celakanya, si Freud tidak mempunyai istilah khusus untuk wanita yang mengalami hal sama. Ia hanya mengistilahkan dengan feminine Oedipus attitude, untuk wanita yang lebih suka lawan jenis seumuran bapaknya. Benar-benar aneh bukan? Apakah di masa lalu tak ada wanita yang berperilaku mirip Oedipus itu. Yang ada, aku yakin, raja-raja pedofilia!” katanya ketus.

”Kau terlalu banyak membaca naskah kuno, hingga terjebak pada romantisme yang absurd...” bisik lelaki tua itu.
”Daripada kamu? Ter...”
”Ssttt...” Dengan reflek ia meletakkan jemari keriputnya di bibir gadis itu. Dia pun berhenti mendebat.
”Setelah membaca banyak cerita klasik, apakah kau punya obsesi cinta?”

”Ya, tentu.” Gadis itu menjawab sambil mengangkat alisnya. ”Aku ingin merasakan cinta hanya satu malam saja2). Atau hanya satu siang saja. Romantisnya cinta barangkali hanya sesaat. Setelah itu, mulai diracuni cemburu, curiga, benci, dan segala hal yang mengikis hangatnya cinta.”

”Begitu singkatkah cinta yang ideal?”
”Ya barangkali seperti itu. Setidaknya dari cerita-cerita yang kubaca.”
“Absurd...”
“Memang...”
”Lantas?”

”Bukankah setiap cinta selalu absurd. Menjelajah yang tak berbatas, merindu yang tak ternilai. Mengalahkan waktu. Mengalahkan jemu3).”

Lalu keduanya diam. Moka di cangkir yang sisa setengah, sudah dingin. Di luar lalu lalang kendaraan tak begitu ramai. Apalagi rintik gerimis dari tadi tak juga usai. Mendung putih masih bergelayut di langit berwarna pucat.

Lelaki tua itu memandang lurus ke seberang jalan. Ke sebuah panti jompo bercat abu-abu yang sebagian berlumut, sebagiannya lagi mengelupas. Ia memandang ke sana, berkali-kali.
”Kamu ingin menghabiskan sisa usia di sana?”
”Tidak...”

”Lalu kenapa kulihat dari tadi, bahkan dari kemarin-kemarin, saat duduk di sini kamu sering mengalihkan pandangan ke sana?” Gadis itu berusaha mengorek alasan lelaki tua di depannya.

”Melihat cinta...” Jawabnya santai.
”Nonsense...”
”Aku sudah lama menunggu untuk cinta. Sudah lebih setengah abad4). Ini barangkali cerita cintaku yang paling dahsyat, yang akan kubawa sampai mati.” Ia diam sejenak, menerawang ke masa lampau. Lalu matanya memandang ke arah panti jompo. Ke arah jendela yang tirainya terbuka setengah.

”Bahkan aku pun tak bisa menuliskannya. Karena kupikir riwayat cinta ini belum selesai.” Ia melanjutkan ceritanya, sambil menyeruput sisa moka. Gadis itu diam, meletakkan kedua tangannya di dagu. Menatap tajam ke arah lelaki tua.

”Dulu saat masih belia, dalam perjalanan kapal dari Tanjungpinang ke Tanjungpriok aku mengenal seorang wanita. Meski hanya sesaat, tapi saat itu aku merasakan getar-getar aneh. Dia anak seorang dokter dari Priangan yang oleh Belanda diperbantukan ke Anambas. Setelah kemerdekaan, dia dan keluarganya kembali ke tanah asalnya. Kebetulan satu kapal, kami bertemu, bercerita, dan tanpa sadar tumbuh benih-benih cinta.”

”Lalu kamu menikahinya?”
”Kami berpisah di Batavia, dia meneruskan perjalanan ke Priangan. Sebulan setelah itu, aku ingin menemuinya. Tapi tak jadi, aku lebih dulu mendapat kabar dia dikawinkan dengan seorang insinyur, anak priyayi. Dan aku tak pernah menikah sampai sekarang.”
”Absurd! Kenapa? Kamu masih menunggunya?!”
”Mungkin...”
”Aneh...”

”Tapi setidaknya aku tak sampai mengencani 622 wanita seperti pria edan dalam novel si Marquez, sambil menunggu kesempatan untuk mendapat cintanya lagi.”
”Apa hubungannya dengan gedung tua berisi manusia-manusia renta itu?”
”Tiga puluh tahun lalu aku dapat kabar dia pindah ke sini. Suaminya bekerja di perusahaan minyak. Tapi dua tahun lalu meninggal. Dia tak punya anak, lalu memilih tinggal di panti jompo seberang itu.” Tangannya menunjuk ke arah gedung warna abu-abu.

”Selama itu...”
”Ya, selama ini aku mengikutinya. Tinggal tak seberapa jauh dari tempatnya. Supaya setiap hari aku bisa melihatnya, dari jauh. Itu sudah membuatku bahagia, membuat cintaku terus hidup.”

”Kenapa sekarang kamu tak menemuinya. Lalu menyatakan cinta gilamu itu!”
”Cinta yang sebenar-benar cinta ada di hati, di dalam jiwa. Kontak fisik tak penting. Aku takut, menemuinya malah akan membunuh cintaku. Setelah lebih setengah abad, dalam kondisi pikun dan rabun, aku ragu dia masih mengenaliku. Biarlah aku mencintainya dari jauh. Dari tempat yang dia tak dapat melihatku. Tapi aku melihatnya.”

”Sampai kapan?”
”Sampai aku atau dia mati. Atau ada wanita lain yang bisa kucintai...”
Lalu, lelaki tua itu diam. Matanya memandang gadis di depannya. Gadis itu pun balik memandangnya. Kedua mata mereka bertatapan. Ada dua rahasia dalam dua kepala yang tak terucap. Moka di cangkir tak lagi tersisa. ***

Bogor, 2007 - Pekanbaru, 2009

Catatan:
1)Kisah Raja Djaafar dan Tengku Buntat dapat dibaca dalam novel Bulang Cahaya karya Rida K Liamsi (JP Book, 2007).
2)Tentang kisah cinta singkat ini terinspirasi film “Before Sunrise” yang disutradarai Richard Linklater (1995).
3)Meminjam komentar dinding FB dari akun Budy Utamy.
4)Terinspirasi film “Love in the Time of Cholera” yang disutradarai Mike Newell (2007), diadaptasi dari novel pemenang nobel Gabriel Garcia Marquez.

Cerpen ini dimuat Riau Pos, Ahad, 6 Desember 2009