Sepetak Asa di Wisma Tua

Nuryancik (80) termenung di dalam rumahnya. Di kursi plastik merah yang warnanya mulai memudar. Tangannya bersandar di meja kayu yang dilapisi taplak plastik bermotif bunga-bunga. Kopi hitam terlihat mengepul di dalam sebuah cerek plastik yang dikelilingi beberapa gelas beling. Matanya menerawang jauh, menatap rintik hujan di luar yang bunyinya bersaing dengan riuh gelombang.
Di rumah yang sekaligus dijadikan penginapan ini, ia menghabiskan masa tuanya. Sambil menunggu tamu yang belum tentu seminggu sekali ada. “Banyak yang tak tahu kalau di sini ada wisma,“ katanya kepada kami, Sabtu (2/1/2010).
Di mata Nuryancik, mendirikan penginapan bukan semata demi uang. Dirinya yang pernah puluhan tahun merantau ke Malaysia ingin daerahnya juga maju. Karena itulah, ia mengisi hari tuanya dengan terjun ke bisnis pariwisata. Meski tak pernah merasakan manisnya. Padahal penginapan yang diberi nama “Wisma Afira“ itu, merupakan satu-satunya di Teluk Rhu, bahkan Tanjung Medang, Rupat Utara.
Wisma tersebut terdiri dari satu bangunan induk dua lantai, kemudian dua bangunan sayap masing-masing satu lantai di kanan dan kirinya. Semuanya terbuat dari kayu, dicat berwarna biru dan kuning. Di bangunan induk terdapat teras yang dihiasi selembayung, ciri khas arsitektur Melayu. Semua bangunan berlantai plester semen. Jumlah kamar yang disewakan ada 24 kamar, di bangunan induk dan sayap. Biaya sewa per harinya Rp 100 ribu. Untuk menuju wisma itu, dari pelabuhan Tanjung Medang bisa naik ojek dengan ongkos sekitar Rp 20 ribu.
Fasilitas wisma juga cukup sederhana. Hanya ada tempat tidur beserta perlengkapan lainnya. Namun tanpa AC maupun kipas angin. Selain minimnya aliran listrik, udara di kawasan tersebut sebenarnya juga sudah cukup dingin. “Jadi menurut kami fasilitasnya cukuplah,” ujarnya.
Wisma tersebut terlihat seperti wisma tua yang berusia puluhan tahun. Padahal sebenarnya, melihat tulisan yang terdapat di prasasti depan wisma, tanggal peletakan batu pertama pada 1-6-1991 oleh Camat Rupat Drs Arlizman A. Sedangkan peresmiannya dilakukan oleh Pembantu Bupati Bengkalis Wilayah II H Naskari BA tertanggal 02-07-1997. Kondisi wisma yang kurang terawat menjadikannya tampak seperti bangunan tua.
”Soalnya tamu yang datang tak pasti. Kalau mau merawat dengan baik, kami tak punya biaya. Pendapatan sewa yang tak tentu datang, juga tak cukup untuk beli minyak genset,” tutur Nuryancik, yang didampingi istrinya.
Ia mengaku harus jatuh bangun mempertahankan usaha penginapan tersebut. Sebab biaya yang dikeluarkan tak sebanding dengan pendapatan. “Ini masalahnya bukan hanya bisnis, tapi kami ingin menghayati pariwisata. Apalagi ini penginapan satu-satunya, jadi kalau orang mau nginap, pastinya memang harus ke sini. Kalau ini kami tutup tentu kasihan yang berkunjung ke sini,” ujarnya.
Selama ini menurutnya, penginapan tersebut lebih banyak kosong daripada terisi. Hal itu  disebabkan tak banyak wisatawan yang datang ke Rupat Utara. Kalaupun banyak, hanya pada waktu-waktu tertentu. Seperti pada saat Mandi Safar, tahun baru dan libur nasional.
”Belum lama ini baru saja disewa semua sama orang Lanal (Angkatan Laut), waktu latihan di pantai. Setelah itu lama tak ada yang datang, baru tahun baru kemarin ada lagi,” katanya.
Meski tak bisa diandalkan sebagai sumber pencaharian, namun Nuryancik berjanji tetap bakal mempertahankan usaha tersebut sampai akhir hayatnya. Satu-satunya harapan, ada pada Hapiz, anak bungsunya yang saat ini masih sekolah di SLTA di Tanjung Medang. “Kalau memang nanti ada yang bisa melanjutkan usaha ini, akan lebih baik lagi,” ujarnya.
Dalam menjalankan usaha penginapan itu, Nuryancik tidak memberlakukan syarat-syarat ketat bagi tamu. Siapapun boleh menginap di sana. “Udahlah tamunya jarang sekali, kalau ditanya-tanya KTP dan segala macam takutnya malah tak ada yang mau nginap di sini,” katanya memberi alasan.
Sebagai pelaku usaha pendukung pariwisata, Nuryancik sangat berharap pada rencana pengembangan pulau tersebut. Kalau tidak, meski pantainya indah dan potensi pariwisatanya menjanjikan, pulau itu tak akan pernah maju. Persoalan infrastruktur jalan, listrik dan air bersih memang menjadi kendala utama.
“Kalau memang itu belum dibenahi, kami yakin sampai kapan pun pulau ini akan tetap seperti ini. Dan kehidupan kami juga tetap sama, tidak akan pernah berubah. Tapi kalau jalan-jalan bagus, ke sini mudah, saya yakin banyak orang akan datang,” tukasnya.
Nuryancik kemudian memberi beberapa catatan buat para pemangku kepentingan. Intinya pengembangan pariwisata harus melibatkan masyarakat sekitar. Seperti mendidik pemuda setempat menjadi pemandu wisata, penyedia hiburan kesenian khas daerah, dan transportasi wisata. Kemudian, pembuatan suvenir dan penjualannya kepada pelancong, juga harus memberdayakan masyarakat tempatan.
”Kalau mau dijadikan tempat wisata harus tahu adatlah. Jangan macam di Bali itu, orang berbugil-bugil. Nanti rusak pula anak-anak sini. Pariwisata itu harus menjunjung budaya, seperti kita Melayu,” imbuhnya.
Tapi sebelum benar-benar dijadikan kawasan wisata, ia berharap pemerintah lebih dulu mendidik masyarakat untuk masuk ke bisnis pariwisata. Misalnya cara menyambut dan melayani tamu, mengajar bahasa inggris anak-anak muda setempat yang menjadi pemandu, dan keterampilan pembuatan kerajinan.
”Di daerah wisata kan biasanya ada craft (suvenir), itu harus masyarakat sini yang buat dengan menonjolkan ciri khas kita. Kalau belum bisa, ya harus diajari dulu supaya bisa. Soalnya itulah yang nanti mungkin jadi sumber kehidupan anak-anak di sini. Kalau pantai sudah jadi tempat wisata, tak mungkin pula mereka melaut lagi,” terang ayah lima anak dan kakek 30 cucu itu.

Menggali Akar Budaya
Sore itu di Wisma Afira, sembilan pemuda terlihat sedang berkumpul. Mereka duduk lesehan di lantai yang dialasi karpet plastik berwarna coklat dengan motif kotak segi delapan dan bunga-bunga. Sebelum masuk ke dalam wisma, kami mengira mereka adalah tamu yang sedang menginap dan membuat acara. Salah satunya duduk di kursi plastik, terlihat sedang memberi pengarahan kepada yang lainnya.
”Itu anak kami Hapiz sedang latihan teater,” kata istri Nuryancik sambil menunjuk lelaki muda berkaos belang-belang, saat mempersilahkan kami masuk.
Nama lengkapnya Muhammad Hapiz, saat ini masih berstatus siswa kelas 3 SMU 1 Rupat Utara. Pemuda ini mengaku sebagai pegiat seni tempatan. Ia mendirikan kelompok seni ”Sanggar Gerbang Pulai” bersama beberapa pemuda lainnya. Tempat latihan, biasanya memang di wisma itu. Diberi nama ”Sanggar Gerbang Pulai” karena sanggar ini setiap tampil selalu menggunakan aksesoris dan peralatan seni yang terbuat dari pulai. Pohon yang memiliki kayu lunak, sehingga mudah dibentuk.
Ia menuturkan, sanggar ini dibentuk pada 2006 lalu. Waktu itu Hapiz sekolah di SMP. Meski masih belia, tapi semangatnya untuk mengembangkan budaya Melayu sangat kuat. Dengan segala keterbatasan, ia berusaha membebaskan pemuda-pemuda setempat dari gagap budaya sendiri.
”Kami tak mau anak-anak Rupat kalah saing dalam mengembangkan budaya di sini. Khasanah Rupat sangat banyak yang harus digali. Di sanggar inilah kami belajar dan sewaktu-waktu ada event kami akan tampil,” kata Hapiz.
Usaha yang dilakukan Hapiz sangat unik. Awalnya ia mengumpulkan teman-teman sepermainan di sekitar kampungnya. Lalu teman-teman dan adik kelas di sekolahnya. Sekarang ini anggota sanggar sudah mencapai 60-an orang.
”Kami mengadakan banyak kegiatan. Setiap hari pasti ada yang kami lakukan dengan kegiatan yang berbeda-beda. Ada latihan teater, rebana, olah vokal dan zapin,” paparnya.
Ia mengakui, awalnya cukup sulit mengumpulkan dan mengajak orang lain belajar kesenian. Bahkan hingga kini pun, anggota sanggar banyak yang datang dan pergi. ”Memang awalnya mengajak kawan-kawan agak susah. Ada yang punya kesibukan masing-masing. Kadang pas diajak ada yang berhenti. Macam macam itu adelah,” kata Hapiz dengan logat Melayu.
Tak hanya itu, ia dan anggota sanggar pun harus banyak berkorban untuk menghidupkan sanggar. Tidak hanya waktu dan tenaga, tapi juga materi. ”Saya kadang katakan pada kawan-kawan apa yang kita lakukan ini adalah agar kita siap untuk mengembangkan budaya di Rupat. Tidak hanya menjadi penonton, karena itu kami terus berlatih dan belajar,” terangnya.
Ketika ditanya dari mana belajar mengembangkan kesenian selama ini, ia mengaku semuanya belajar mandiri. “Kami belajar sendiri bang. Kebetulan saya memang sudah sejak kecil paham dan tahu tentang seni dari ayah. Sekarang tinggal melihat orang tampil, kemudian dikembangkan lagi di kampung,” ujarnya.
Tahun 2006 lalu, kebetulan Hapiz mewakili Rupat untuk ikut lomba teater di Bengkalis. Namun saat itu kelompok teaternya kurang beruntung. Berbekal pengalaman itu, kemudian dirinya bertekad mengembangkan sanggar di kampungnya. ”Banyak cerita-cerita rakyat di Rupat yang kami angkat menjadi teater,“ ujarnya.
Tapi sayangnya, perhatian pemerintah terhadap pengembangan budaya daerah seperti itu masih minim. ”Kami kadang tampil tanpa diberi apa-apa. Pernah baru-baru ini kami ikut lomba di Bengkalis dan menang. Tapi malah uang yang kami dapat kami serahkan ke camat. Kata camat karena uang yang kami pakai untuk berangkat pinjam ke orang lain. Akhirnya meskipun menang kami tak dapat apa-apa,” keluhnya.
Berdasarkan pengalaman itu, hapiz pun sangat berharap pemerintah memberi perhatian kepada masyarakat tempatan, khususnya pengembangan kesenian dan kebudayaan daerah. ”Kami sangat mengharapkan peran lebih dari pemerintah. Karena jika dikembangkan menjadi daerah wisata, tentu masyarakat tempatan yang harus dipersiapakan dulu. Kami tak mau nanti kami hanya jadi penonton di daerah sendiri bang,” ujarnya.
Sekarang sanggar yang dibentuknya ini sudah mulai berjalan. Bahkan setiap tahun ada agenda untuk menerima anggota baru. ”Anggota kami ini beragam, ada yang dari sekolah juga anak sekitar sini,” kata Hapiz. Di luar wisma, terlihat kerangka panggung dari kayu masih berdiri. ”Itu bekas kami tampil tahun baru kemarin,” pungkasnya. (*)
Catatan: Tulisan ini sebelumnya dipublikasikan di RiauBisnis.com.