Kenangan di Bawah Bulan

Cerpen M Badri

Inilah malam yang dia tunggu-tunggu. Bulan menguning di atas kota. Jalanan belum begitu sunyi, masih ada simphoni penjual jagung bakar sepanjang trotoar. Api sisa pembakaran pun belum meredam. Asap putih masih menari-nari di atas paving block, sebuah tarian melankolis. Lampu-lampu yang membelah jalan begitu hangat menyapa. Beberapa bocah pengamen menghampirinya, menyanyikan lagu cinta yang ganjil. Irama lembut Bethoven terdengar dari sebuah kafe, yang memanjakan pengunjungnya dengan nuansa klasik yang romantis.

Dia kembali menyalakan cerutu yang mulai membeku di bibirnya. Sejak sore, ya sejak rona senja mulai berganti dengan semburat cahaya bulan, dan langit diramaikan bintang, dia telah duduk di sana. Di kursi itu, sambil menunggu. Sengaja dia memilih bangku paling sudut, persis sepuluh tahun lalu. Di sebelahnya, pohon sengon itu juga masih berdiri dengan angkuh. Beberapa helai daun kering yang lembut seperti salju, jatuh di atas meja bundar, juga di atas rambutnya yang basah oleh embun. Sebatang lilin mulai mengelupas dari matanya, yang terus memandang gerbang sebelah selatan.

Dua pekan lalu, wanita yang pernah menjadi kekasihnya ingin menemuinya di tempat itu. Seminggu sebelum malam pergantian tahun. Bukankah itu malam ulang tahun istrinya? Tetapi dia terlanjur berjanji untuk menemui wanita itu, karena hanya semalam dia singgah di kota ini. Setelah sepuluh tahun, setelah suatu malam selepas hujan, wanita itu mengucapkan selamat tinggal, hanya lewat telepon. Kemudian lewat telepon juga, wanita itu ingin menemuinya. Suatu malam, seminggu menjelang pergantian tahun. Dan malam ini juga, tepat tengah malam dia harus di rumah, merayakan ulang tahun istrinya.

“Aku senang kamu masih menungguku.” Dia menoleh dan mendapati wanita itu tersenyum di belakangnya, masih seperti dulu. Nyaris tak ada perubahan, tatapan matanya juga masih sendu. Ada kerinduan yang tersirat.

“Ternyata kamu datang juga,” katanya lalu menjabat tangan wanita itu. Jemarinya tetap lembut, pikirnya. Sama seperti ketika mereka masih bersama, sepuluh tahun yang lalu. Bangku ini juga masih menyisakan kenangan di antara mereka, saat hujan merintik di akhir pekan. Beberapa menit tak ada percakapan. Ada kegembiraan yang mengunci mulut mereka.

“Maaf mengganggumu, kalau istrimu tahu mungkin dia akan marah. Aku kebetulah singgah ke kotamu, jadi kuputuskan untuk menemuimu. Karena besok pagi harus meneruskan perjalanan ke beberapa daerah di Jambi dan Sumatera Selatan,” dia duduk sambil menyilangkan kakinya yang dibalut rok panjang.

“Hmmm.... Tidak apa-apa. Aku senang kita bertemu kembali, meskipun suasananya tidak seperti dulu. Biarlah masa lalu kita berlalu bersama waktu, atau kita tutup dengan rapi.”

Dia menghembuskan nafas dalam-dalam, bayangan wajah istrinya melintas di benaknya. Ada perasaan bersalah. Tapi, dia meyakinkan diri kalau malam ini bukan untuk menyulam kembali benang masa lalu. Hanya pertemuan biasa, sekadar mengingat bahwa di antara mereka pernah ada kenangan.

“Mau minum apa?” katanya sambil memantik korek api ke udara. Seorang pelayan kafe datang dan menyerahkan sederet daftar menu. Malam begitu dingin, sebab seperti biasa di penghujung tahun hujan turun hampir saban hari. Beruntung malam itu cuaca lumayan cerah, sehingga dia dapat memandang wajah bekas kekasihnya itu sambil menghitung daun sengon yang jatuh di meja.

“Lupa ya, makanan kesukaanku?” katanya, tanpa menyentuh daftar menu.
Dia berpikir sejenak, kemudian tersenyum. “Masih pisang bakar dan jus jagung, bukan?”

“Dan kamu masih cappucino plus kentang goreng?”
Kemudian wanita itu tertawa. Dia melihat dua titik kristal bening di sudut mata wanita itu. Sebuah syal warna biru menutupi lehernya yang jenjang. Ada kabut yang membungkus jemarinya, sehingga keinginan untuk menggenggam tangan wanita itu urung dilakukan. Ya, dia tidak ingin rasa bersalah terhadap istrinya semakin bertambah. Wanita itu hanya bayangan dari masa lalu, sedang kini dia telah memiliki wanita yang lain. Di rumah, mungkin wanita yang sangat dicintainya itu, masih mengira suaminya lembur di kantor, sambil berharap kepulangannya menjelang tengah malam. Meniup lilin, memotong kue ulang tahun, dan satu kecupan menjadi hadiah paling indah.

“Kok melamun?”
“Tidak, hanya teringat kenangan kita dulu.” Dia menyembunyikan kegelisahannya. Di sisi lain, dia tidak ingin mengganggu kebahagiaan malam ini, dengan bekas kekasihnya yang datang dari jauh. Setelah sepuluh tahun tidak ada kabar, kini dia muncul kembali, membawa sebuah kenangan.

“Masih suka menulis puisi?” katanya, sambil menyeruput jus jagung, yang dulu dianggapnya sebagai minuman paling aneh. Tapi kemudian dia sangat menyukainya.

“Sesekali, kalau jenuh dengan rutinitas di kantor.”
“Buku puisi yang kamu kirimkan sebagai kado ulang tahunku dulu, masih kusimpan lho. Buku itu selalu mengingatkanku pada Danau Buatan, Istana Siak, Pelabuhan Sungaiduku, Pelita Pantai, Kafe Black Horse, Jembatan Leighton sampai Bandar Serai ini. Bukankah kamu selalu menuliskan perjalanan kita dengan diksi yang menari-nari? Dan melalui buku itu, aku bisa selalu mengenangnya.”

Dia hanya tersenyum, sebuah kenangan yang terlalu menyakitkan untuk dilupakan, pikirnya. Sebenarnya dia sudah bisa melupakan semua itu, tapi malam ini entah kenapa memori itu kembali hadir dengan jelas, setelah sangat lama tersimpan. Dia memandang langit yang dipenuhi awan berarak menuju tenggara, sedikit menutupi cahaya bulan yang mulai rapat dengan pohon-pohon yang berjajar di pinggir-pinggir kafe.

“Maaf, aku nanti harus pulang sebelum tengah malam. Masih ada waktu satu setengah jam lagi buat kita,” katanya sambil melirik arloji yang detaknya terasa begitu cepat.

“Tidak apa-apa, bisa melihatmu saja aku sudah senang. Kalau istrimu tahu tentang pertemuan kita, sampaikan saja maafku, aku tidak hendak merebutmu darinya. Aku hanya ingin mengenang sesuatu yang pernah begitu membekas dalam hatiku. Bukankah kamu pernah bilang, sesuatu yang indah meskipun tidak berakhir dengan indah, tetap menjadi kenangan yang indah, bukan?”

“Semoga saja tidak tahu, soalnya dia pencemburu. Aku begitu mencintainya, malam ini aku tidak ingin melukai hatinya.” Dia mendesah pelan.

Wanita itu mengangguk. “Sebenarnya aku ingin mengelilingi kota ini, seperti dulu. Maukah kamu menemaniku, sekali ini saja, sekalian mengantarkanku kembali ke hotel?”

“Oke, bukannya besok kamu akan pergi lagi...” Dia bangkit dari duduknya, lalu mengajak wanita itu ke tempat parkir. Kafe di tanah lapang itu mulai sepi, beberapa penjual jagung bakar terlihat berkemas. Malam begitu indah, dalam sebuah pertemuan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Dia mengemudikan mobilnya dengan pelan, sengaja membiarkan wanita itu menikmati pemandangan kota yang dingin. Nyaris tak ada percakapan, mereka hanyut dalam pikiran masing-masing. Dia membiarkan wanita itu mengingat kembali kenangannya, pada malam-malam yang lama hilang.

“Kota ini masih seperti dulu, sepanjang jalan dipenuhi lampu-lampu.” Wanita itu merapikan posisi duduknya. “Maaf...” Tanpa sengaja wanita itu memeluk pinggangnya, namun buru-buru ditariknya kembali. Dia menoleh, “Nggak apa-apa, aku tahu perasaanmu...”

Tak terasa mereka sudah sampai di Pasar Bawah. Sebuah bangunan megah berukiran etnik lokal masih berdiri di antara sederetan toko-toko yang menyerupai lanskap kota tua. Lampu-lampu di sisinya berpendaran seperti kunang-kunang tersangkut di tiang-tiang pagar. “Kamu dulu pernah mengajakku ke sini, bukan? Membeli lempuk durian, dodol kedondong, bolu kemojo, dan selembar songket untuk oleh-oleh sebelum aku pulang. Di lantai tiga itu dulu, kamu pernah dengan lembut mengucapkan kata-kata indah ke dalam relung telingaku, sampai aku terbuai dan membiarkanmu menciumku begitu saja. Kamu jahat, tapi kamu juga lelaki paling romantis yang pernah kukenal.”

“Kamu masih mengingatnya?”
“Tentu saja, bukannya kamu kemudian mengukirnya dalam puisi di buku harianku. Masa kamu lupa?”

Dia terdiam, sebab tidak mungkin mengingat setiap kalimat yang pernah dia tulis untuk kekasih di masa lalunya itu. Terlalu banyak kenangan yang harus dia simpan selama sepuluh tahun terakhir. Dan wanita itu datang untuk membongkar kembali segala cerita yang pernah begitu indah dia tulis dan dia lukis dalam sketsa-sketsa abstrak yang terbentang sepanjang jalan di kota ini. Seperti lukisan bangunan tua yang begitu artistik, seperti juga perkampungan-perkampungan di tepi sungai yang terlihat unik. Sebuah kenangan, mungkin juga akan menjadi kisah romantik bila dibebaskan dari luka yang menyertainya.

“Jembatan itu masih teguh juga ya? Hanya bergeming dihempas arus sungai yang menderas sepanjang hari. Kamu masih suka datang ke sini?” Wanita itu membuka kaca mobil yang mulai mengembun. Beberapa deret bangku yang berjejer sepanjang turap sungai terlihat kosong. Meja-mejanya juga hanya berisi kotak tisu dan beberapa botol bekas yang belum dikemas. Ada nelayan termenung di atas sampan yang terombang-ambing di tengah sungai, cahaya senternya memendar di tengah derasnya arus yang bergelombang seperti selendang alam. Menyatu dengan cahaya bulan yang kini menyendiri di langit paling sunyi. Begitu dingin, seperti juga tiang-tiang jembatan yang hanya berupa silhuet.

“Mungkin inilah tempat paling romantis di kota ini. Banyak tulisan yang telah kubuat, inspirasinya bermula ketika duduk di bawah jembatan yang menyerupai gua itu. Seperti juga Grotta Azzura yang begitu mempesonakan penyair August Kopisch, Oscar Wilde, Ivan Turgenev, Maxim Gorki hingga Pablo Neruda dan Sutan Takdir Alisjahbana. Tempat yang indah selalu menyisakan kenangan, bukan?”

Wanita itu menerawang jauh ke seberang. Pikirannya melayang entah ke mana, mungkin juga ke masa lalu, atau ke tempat-tempat romantis yang pernah ia singgahi. Ada aliran bening dari ujung matanya yang ditumbuhi bulu-bulu lentik. “Aku tidak pernah bisa melupakan ini,” katanya sambil membetulkan syal yang hampir jatuh.

Kemudian wanita itu kembali terkenang sesuatu. “Dulu ketika aku datang musim banjir, kamu pernah mengajakku melihat anak-anak yang melompat ke sungai dari atas jembatan itu kan? Mereka begitu ceria menikmati meluapnya air yang hampir membenamkan perkampungan di seberang sana. Kamu hanya tertawa ketika beberapa kali aku memotret tingkah mereka dari jauh. Lalu kamu bilang, dulu waktu kecil kamu juga seperti itu.”

Ujung jari wanita itu menunjuk ke turap yang agak tinggi di kiri jembatan. “Dari sana kamu memotret sepasang kapal yang berlabuh dengan latar belakang langit senja kemerah-merahan. Simpanlah foto itu, katamu, dan hingga kini aku masih menyimpannya. Kamu juga pernah mengabadikan langit senja itu dalam sebuah cerita, yang membuatku cemburu.”

Dia diam saja, membiarkan wanita itu terus bercerita. Tapi perjalanan berlalu begitu singkat. Kemudian dia menjalankan kendaraannya ke Jalan Yos Sudarso dan berbelok ke Jalan Riau. Tak ada lagi percakapan, sampai melewati Jalan Ahmad Yani dan kembali menyusuri Jalan Sudirman yang lengang. “Aku tidak tahu kapan kita bisa bertemu lagi,” kata wanita itu sambil mengusap air matanya yang semakin menderas.

“Semoga pertemuan ini tidak menambah liang luka yang menganga di dada kita. Biarlah kenangan itu seperti angin, seperti rumput kering atau daun yang jatuh dari pohon. Dan kita hanya melihatnya dari jauh, tanpa bisa menghampiri atau menyentuhnya.” Dia terus menyetir sambil sesekali melirik wanita di sampingnya.

“Tapi tetap saja tidak bisa dilupakan, selama masih ada sesuatu yang mengingatkan,” kata wanita itu tanpa notasi.

“Ke mana perjalananmu besok pagi?” Dia menggenggam tangan wanita itu dan mengalihkan pembicaraan, agar tidak semakin terbius kenangan.

“Mungkin ke Jambi dulu. Aku mengantar beberapa teman dari Oxford University yang meneliti suku pedalaman di Pulau Sumatera. Bukan kebetulan singgah ke kota ini, aku sebenarnya sengaja mengagendakan sejak awal. Aku kini disibukkan dengan kegiatan akademis dan penelitian. Seperti itulah diriku sekarang. Kegiatan seni sudah lama kutinggalkan,” katanya tetap memandang lurus ke depan, ke badan jalan yang pernah menyisakan kenangan.

“Sudah sampai.” Mobil berhenti di depan hotel tempat wanita itu menginap. “Mungkin sekarang kita harus kembali kepada kehidupan kita masing-masing. Sampaikan maafku pada istrimu, kalau ia mempermasalahkan pertemuan kita malam ini.”

“Saya masuk dulu, ya. Selamat malam....” Wanita itu mengulurkan tangannya, dan dia memeluknya sejenak. Ada kesedihan luar biasa yang mengunci mulut mereka. Kemudian dia menginjak pedal gas, setelah wanita itu berlalu dan menghilang di lobi hotel.
***

“Iya, ma.... Sebentar lagi papa sampai,” dia menutup telepon genggamnya.
Terbayang di benaknya, istrinya yang anggun datang menyambut di depan pagar. Lalu mengajaknya duduk dengan mesra di ruang tamu, merayakan ulang tahun istrinya, yang pertama setelah mereka menikah. Dua batang lilin dan sebuah kue tart begitu hangat di atas meja. Ada setangkai mawar dan sebuah kecupan, sebagai hadiah paling indah. Dia berusaha melupakan kenangan dengan wanita bekas kekasihnya yang berakhir beberapa menit lalu, di bawah bulan, yang menguning di atas kota. Sampai lonceng jam berdenting dua belas kali.***

Pekanbaru - Bogor, 2005