Hantu Penunggu Pohon

sumber gambar: https://img1.etsystatic.com
Cerpen M Badri

Mak Inah lari terbirit-birit. Perempuan setengah abad itu seketika bisa berlari kencang. Melesat, melebihi laju kendaraan yang biasa melintasi jalan berlubang itu. Menembus pekat malam. Dia terus berlari, menjauhi pertigaan pinggir desa. Tidak berani menoleh ke belakang. Ke pohon randu yang menjadi penanda desa. Dalam pandangan samarnya, pohon itu berubah menjadi rumah raksasa. Dengan puluhan wajah tersenyum hambar kepadanya.

“Han... Han... Hantuuu............”

Dia berteriak parau. Tapi tak ada orang yang mendengar. Orang-orang kampung sudah meringkuk dalam selimut. Menikmati udara dingin. Dibawa hujan yang turun bertubi-tubi. Setelah kemarau berkepanjangan. 

Akhirnya Mak Inah sampai juga di rumah. Jarak beberapa ratus meter serasa berkilo-kilo meter jauhnya. Mungkin inilah lari paling panjang dalam sejarah hidupnya. Meskipun dulu pernah dikejar babi hutan di ladang, tapi tak separah ini. Ketakutannya menjelma keringat dingin. Dia pingsan tepat di depan pintu rumahnya.
Brukkkk......

“Mak... Mak.... Kenapa Mak?”

Sabir, anak bungsunya, panik bukan kepalang. Ia sebenarnya akan pergi meronda. Setelah melempar sarung dan senter ke lantai, Sabir mengangkat tubuh Emaknya yang sudah lunglai itu ke dalam rumah. Direbahkannya di dipan kayu. Ia mengambil minyak angin. Lalu mendekatkan mulut botol yang sudah dibuka ke hidung Emaknya. Beberapa menit kemudian Mak Inah sadar. Tapi nafasnya masih terengah-engah.

Ia segera minum air putih hangat. Mengatar nafas perlahan-lahan. Seperti yang diajarkan instruktur senam lansia, setiap Minggu pagi di balai desa. Sabir menyeka wajah Mak Inah yang terus berkeringat dingin. Kepalanya dipenuhi tanda tanya. Tidak biasanya Emaknya seperti itu. Tapi Mak Inah belum sanggup bercerita. Hanya pesan ketakutan luar biasa tersirat di wajahnya.

“Han... Hantu itu benar-benar ada. Bukan cuma cerita...”

“Hantu apa Mak?”

“Hantu pohon randu, di ujung desa...”

“Tidak mungkin, Mak...”

Sabir terus menenangkan Mak Inah. Memijit-mijit kakinya yang pincang, karena keletihan dan tersungkur beberapa kali sebelum sampai rumah. Wanita tua itu terus berdebat tentang hantu penunggu pohon. Tapi Sabir tetap tidak percaya.

***

Cerita hantu penunggu pohon akhir-akhir ini santer terdengar. Tepatnya beberapa pekan setelah pemilihan umum. Hantu yang kabarnya menunggu pohon randu tua penanda desa. Pohon randu itu sangat rindang. Lingkar batangnya tidak cukup dipeluk lima depa orang dewasa. Mungkin umurnya sudah puluhan atau bahkan ratusan tahun. Letaknya di pertigaan ujung desa. Persimpangan jalan yang menghubungkan desa itu dengan desa-desa tetangga. 

Pohon randu itu saat musim hujan, daunnya sangat rimbun. Tetapi pada musim kemarau meranggas. Tapi karena dahan dan rantingnya banyak, pohon itu tetap meneduhkan. Apalagi kalau kapuknya beterbangan ditiup angin ke segala penjuru. Sekitarnya seperti dilanda hujan salju. Suasananya terkesan romantis. Karena itu pada musim kemarau, tempat itu sering dijadikan lokasi pemotretan pre-wedding. 

Di bawahnya ada gubuk kayu pangkalan ojek. Di sebelahnya ada beberapa kedai kaki lima penjual makanan dan minuman. Kalau malam gubuk itu berubah menjadi pos ronda. Karena itulah, kalau siang cukup ramai yang duduk-duduk di sana. Selain mereka yang berangkat atau pulang berladang, juga anak-anak sekolah. Bahkan kegiatan-kegiatan desa sering dilaksanakan di sana. Di lapangan sepak bola tidak jauh dari pohon randu itu. 

Pohon randu itu seperti magnet. Sejak pagi hingga petang selalu ramai oleh kumpulan orang-orang kampung. Sekadar ngopi di warung atau main domino. Apalagi kalau musim politik, entah pemilihan kepala desa, kepala daerah, legislatif, bahkan presiden. Bangku-bangku di bawah pohon randu itu menjadi saksi konsolidasi dan transaksi politik. Maka tidak heran kalau gambar-gambar wajah orang dengan senyum dipaksanakan banyak tertempel di sana. 

Bidang batang randu yang luas itu, kemudian menjadi semacam galeri politik. Menampilkan wajah dan senyum palsu yang tercetak di baliho, spanduk dan pamflet-pamflet mini. Wajah-wajah yang dipermak sedemikian rupa di perangkat komputer, hingga terlihat muda dan menawan. Bahkan banyak jauh berbeda dengan aslinya. Kemudian senyum itu, ahh! Terlihat sekali kalau direkayasa. Bahkan tidak lebih baik dari senyum pramuniaga yang menyapa pelanggan dengan terpaksa.

Pada musim pemilu, pohon randu itu semakin ramai dengan tempelan wajah-wajah caleg yang dipaku ke batangnya. Saling berlomba memasang gambar dan jargon di bidang paling terlihat. Bahkan tinggi-tinggian, sambil berharap gambar yang letaknya paling tinggi bakal mendapat peruntungan suara tertinggi pula. Dahan dan rantingnya pun tak luput dari gambar-gambar caleg. Entah siapa yang memulai, semakin mendekati musim kampanye, cabang dan ranting pohon randu itu tiba-tiba penuh dengan gantungan gambar caleg. 

Pohon randu itu kemudian berubah menjadi pohon aneka wajah. Tidak ada dahan dan ranting yang luput dari gantungan gambar-gambar berbagai ukuran. Bahkan hingga sampai ke pucuk paling atas, yang tingginya beberapa puluh meter. Buah randu yang biasanya menerbangkan kapuk pada musim kemarau pun tidak terlihat lagi. Tertutup oleh wajah-wajah yang selalu tersenyum. Melambai-lambai ketika ditiup angin. 

Konon, tren menggantung gambar di pohon itu berdasarkan saran paranormal desa tetangga. Menurut paranormal itu, pohon randu tua itu memiliki tuah tinggi. Dihuni berbagai jenis dan bentuk mahluk halus. Siapa bisa meletakkan gambar di lokasi paling tinggi, maka dia yang kemungkinan bakal menang. Begitulah kata paranormal, dalam kondisi seperti kesurupan. Pohon randu itu pun kemudian dipenuhi dengan aneka sesaji. Pelengkap hasrat menjadi wakil rakyat.

***

“Tolong...”

“Ada mayat...”

“Bunuh diri...”

Keheningan kampung itu pecah oleh teriakan warga. Padahal azan subuh baru saja berlalu. Warga desa segera berbondong-bondong ke arah suara teriakan. Berasal dari sekitar pohon randu. Tempat itu seketika menjadi ramai. Salah seorang warga melihat seseorang gantung diri di dahan pohon randu.

“Siapa?” Seorang warga berbisik-bisik kepada temannya yang lebih dulu tiba. 

“Madesu...” Jawabnya juga lirih.

“Yang dulu ribut di sini ya?”

Temannya mengangguk. Ia teringat lelaki umur empat puluhan itu. Madesu, caleg nomor urut satu dari salah satu partai peserta pemilu. Dia dan tim suksesnya pernah ribut dengan caleg lain. Gara-gara rebutan tempat untuk menggantung gambarnya. Madesu, caleg pendatang baru dari desa tetangga. Konon, dia menghabiskan duit ratusan juta untuk mendapat nomor urut satu. Menggadaikan kebun dan rumah. Dia yakin, kalau terpilih, dalam beberapa bulan duitnya akan kembali. Bahkan akan berlipat ganda. Wah!

Desa itu mendadak gempar. Baru kali ini ada orang gantung diri di pohon randu. Maka kabar itu segera tersiar ke mana-mana. Diberitakan surat kabar dan radio. Bahkan televisi nasional juga meliputnya. Betapa tidak, lelaki itu menggantung di dahan yang tinggi. Lidahnya menjulur. Matanya melotot tajam. Tidak ada senyum di bibirnya. Seperti pada beberapa gambar wajahnya yang masih tergantung di pohon itu.

Orang-orang menduga, dia stres karena tidak terpilih menjadi legislator.  Beberapa hari sebelumnya dia sempat depresi. Posisi terhormat wakil rakyat gagal dia dapatkan. Padahal rumah dan ladang sudah tergadai. Sebelumnya dia sempat mengamuk. Kadang keliling desa teriak-teriak, seperti orang kampanye. Padahal pemilu sudah selesai. Belum sempat dibawa ke rumah sakit jiwa, Madesu keburu mati bunuh diri.

Tapi tragedi pohon randu tidak berhenti pada Madesu. Beberapa hari berikutnya ada lagi orang gantung diri di tempat sama. Warga menghitung, tidak sampai sebulan ada lima caleg gagal gantung diri di tempat itu. Mereka pun semakin takut. Rapat warga dengan tokoh masyarakat desa sebenarnya memutuskan untuk menebang pohon randu tua itu. Tapi tidak jadi karena keberadaan pohon randu itu dianggap penting sebagai penanda desa. Kalau pohon itu ditebang, nama Desa Randu Kramat tentunya juga harus diganti. Warga tidak mau repot mengubah KTP dan alamat surat.

Pohon randu itu pun akhirnya dipagari kawat berduri cukup tinggi. Supaya caleg-caleg gagal lainnya, yang stres dan hendak bunuh diri tidak bisa memanjat pohon randu. Warga pun semakin rajin ronda di kawasan itu. Melawan rasa takut pada pohon tua, yang terlihat semakin mencekam. Tidak ada lagi orang-orang main domino hingga tengah malam. Tapi dahan pohon itu tetap semarak. Gambar-gambar caleg masih banyak yang bergantungan. Tidak ada warga yang berani memanjat untuk membersihkannya.

Desa itu semakin mencekam sejak ada isu hantu penunggu pohon yang kerap mengganggu. Desas-desus itu terus menyebar luas. Ada yang mengaku pernah mendengar suara  orang berpidato. Ada juga yang bercerita, temannya bertemu orang membagi-bagikan uang, tapi tiba-tiba menghilang. Berbagai cerita seputar hantu penunggu pohon randu meramaikan desa itu.

***

“Emak melihat Madesu...”

“Orang mati tidak mungkin hidup lagi Mak...”

Sabir terus mendebat Mak Inah, yang mulai bisa bernafas dengan teratur. Mak Inah bercerita, sepulang menjenguk teman pengajiannya yang sakit di desa sebelah, dia lewat pertigaan pohon randu. Membawa senter menyala redup. Samar-samar dia melihat wajah Madesu, caleg yang bunuh diri beberapa pekan sebelumnya.
“Dia tersenyum sama Emak...”

“Dia ngomong apa, Mak?”

“Diam saja. Tapi terus tersenyum. Emak lihat dan perhatikan, banyak sekali Madesu di situ. Semuanya tersenyum sama Emak. Emak sapa, dia tetap tersenyum. Emak lempar pakai kerikil dia tetap tersenyum. Emak lari, dia masih tersenyum...”

Sabir tertawa lirih. Dalam hati, ia membatin, mungkin Mak Inah melihat gambar-gambar caleg yang jatuh dari pohon randu selepas hujan disertai angin kencang sore tadi. Tali pengikat gambar-gambar itu lapuk, setelah berhari-hari terkena hujan dan panas. Lama-kelamaan gambar-gambar itu berguguran. Seperti daun randu di musim kemarau. Seperti kapuk yang beterbangan ke segala penjuru. ***

Bogor, 9 April 2014

Dimuat di Riau Pos: 20 April 2014
http://www.riaupos.co/1933-spesial-hantu-penunggu-pohon.html