Tiga Belas Jam di Baduy Dalam


Malam baru saja merayap. Samar-samar kami mulai melihat siluet gubuk-gubuk bambu leuit. Lumbung padi tradisional itu berjejer rapi di tepi hutan. Aroma kehidupan segera tercium dari kejauhan. Berpadu dengan harum lumpur dan dedaunan basah. Senja yang mistis. Hening berbaur dengan suara hewan nokturnal yang mulai keluar sarang. Setelah melalui jembatan bambu dengan air sungainya yang deras, kami sampai di perkampungan itu.

Warga Kampung Cibeo yang dihuni suku Baduy Dalam segera menyambut dengan ramah. Jauh dari kesan kaku dan seram. Seperti persepsi kebanyakan warga kota terhadap suku-suku pedalaman. Salah satu warga Baduy, dengan ramah mengantar kami mencari rumah tempat bermalam. Dalam gelap, kami mengikuti gerak kakinya yang lincah menjejak batu-batu di jalan setapak mengitari rumah-rumah warga. Tak ada penerangan memadai. Hanya lampu minyak dan lilin yang samar-samar menerangi perkampungan.

Hap! Setelah melompati batu terakhir, akhirnya rumah yang dituju terlihat juga. Sebuah rumah panggung dari bambu, berlantai kayu. Di sana beberapa rekan kami yang lebih dulu tiba sudah menunggu. Pak Fajrid, pemilik rumah mempersilahkan kami masuk. Dua anak kecilnya nongol dari balik bilik. Mereka tersenyum ramah. Bahasa tubuhnya menyiratkan persahabatan.

“Kalau mau bersih-bersih silahkan ke sungai,” kata pemilik rumah, sambil menunjuk ke arah suara gemericik air yang terlindung sebuah pohon besar. Terlihat seram dan gelap. Sungai itu juga terlindung rumpun bambu. Setelah istirahat sejenak saya pun segera menuju sungai. Melalui jalan setapak yang sepi.

Sungai di Kampung Cibeo itu mengalir lembut setinggi lutut. Airnya bersih dan sejuk. Meskipun hujan baru saja mengguyur perkampungan. Mandi di sungai berbatu menjadi sensasi luar biasa. Tak ada sampah dan benda pencemar. Sifat alaminya menyatu dengan kehidupan penduduknya yang bersahaja.

“Mandi, Kang?” tiba-tiba saya dikejutkan oleh suara orang yang baru muncul dari kegelapan. Sambil membawa sebatang lilin, ia menuruni tangga batu menuju dasar sungai. Setelah melepas ikat kepala dan pakaian, ia segera menyeburkan diri. Namanya Pak An, warga kampung itu juga.
Setelah kenalan dan basa-basi sebentar, ia pun berbagi bercerita. Seperti kebanyakan warga Baduy Dalam, mereka senang menceritakan kampung halamannya. Sungai itu bersih dan segar karena memang penduduk menjaganya. Ada aturan adat tidak boleh mengotori lingkungan. Aturan itu juga berlaku bagi para pendatang.

“Di sini tidak boleh pakai sabun dan sampo,” katanya. Persis seperti yang disampaikan pemandu perjalanan kami ke Baduy Dalam. Memang kedua perlengkapan mandi itu, plus pasta gigi diharamkan di kawasan itu. Mandi cukup dengan menyiram  air ke tubuh. Harum sumber air alami sudah cukup menyegarkan. Apalagi di sekitar sungai tumbuh kembang-kembang liar nan wangi.
Dari cerita Pak An, sungai itu sendiri dibagi menjadi tiga kawasan. Kawasan untuk warga biasa ada di bawah. Salah satunya tempat kami mandi. Di atasnya ada kawasan untuk Jaro (pemimpin pemerintahan) dan keluarganya. Semakin ke hulu diperuntukkan untuk Pu’un (pemimpin adat) dan keluarganya.

“Saya duluan ya, Kang,” katanya ramah, sambil bergegas beranjak dari sungai. Tapi saya yang sudah belasan tahun tidak merasakan berendam di sungai, masih ingin berlama-lama di sana. Berendam sambil memandangi bintang-bintang yang meramaikan dirgantara. Juga bulan yang membagikan cahayanya melalui celah daun-daun bambu.

Segarnya air sungai Kampung Cibeo menghilangkan lelah dan penat 10 jam perjalanan. Bermula dari stasiun Tanahabang, sekitar pukul 07.30 kami berangkat dengan kereta api yang merangkak pelan-pelan menuju stasiun Rangkasbitung, Lebak, Banten. Perjalanan dilanjutkan dengan angkutan minibus menuju Ciboleger, desa terluar sebelum masuk ke perkampuangan suku Baduy.

Setelah  istirahat dan memenuhi kebutuhan logistik, sekitar jam 13.00 kami mulai berjalan kaki melewati perkampungan suku Baduy Luar. Baru beberapa langkah, hujan mengguyur deras. Tapi kami tetap melanjutkan perjalanan, karena tidak ingin kemalaman di jalan. Sebab medan menuju perkampungan suku Baduy Dalam cukup berat. Melalui jalan setapak yang licin dan berlumpur kala hujan. Jalurnya naik turun dengan terjal. Membelah punggung bukit dan lembah.

Memang, dari sejumlah literatur yang pernah saya baca, masyarakat Baduy Dalam merupakan salah satu suku yang hidupnya masih terasing atau mengasingkan diri dari keramaian. Mereka tidak mau tersentuh oleh kegiatan pembangunan. Praktis perkampungan tersebut tidak teraliri listrik, tidak memiliki  fasilitas kesehatan dan pendidikan formal, apalagi  sarana transportasi. Permukiman penduduknya juga sangat sederhana. Mereka bermukim di bagian dalam atau hulu Sungai Ciujung. Ada tiga kampung yang mereka tinggali, yaitu Cikeusik, Cikawartana dan Cibeo. Mereka tidak pernah menambah jumlah kampung.
***

Malam mulai larut. Binatang nokturnal semakin riang mengeluarkan bunyi-bunyian dari tempat persembunyiannya. Menciptakan harmoni irama alam yang merdu. Kerlap-kerlip lampu minyak dan lilin di rumah-rumah warga, berbaur dengan cahaya kunang-kunang yang rajin mengitari permukiman. Malam yang eksotis. Apalagi  di langit bulan terang diapit gugusan awan. Romantis bukan?

Malam itu, kami beruntung mendapat kesempatan berdialog dengan Jaro Sami. Kepala Kampung Cibeo itu, sudah menunggu di rumahnya yang sederhana. Saya dan puluhan pengunjung lainnya, segera berkumpul di beranda dan halaman rumahnya. Mencari posisi yang nyaman untuk duduk sambil mendengarkan berbagai cerita dari Jaro Sami. Tentang perkampungan dan sejarah Suku Baduy, yang selama ini hanya kami baca dari cerita-cerita di laman maya.

“Saya mengucapkan terimakasih kepada adik-adik yang sudah jauh-jauh datang mengunjungi perkampungan kami. Memang beginilah keadaannya, kampung kami sederhana,” kata Jaro Sami, memulai dialog. Tokoh kampung itu terlihat berwibawa. Suaranya datar tapi menggema. Wajahnya terlihat tegas dengan kumis dan jenggot tipis. Raut mukanya menunjukkan tanda seorang pemimpin yang disegani di komunitasnya.

Dari penuturan Jaro Sami, Suku Baduy merupakan bagian dari komunitas masyarakat Sunda. Mereka menganut keyakinan  Sunda Wiwitan, suatu kepercayaan yang lekat dengan suku Sunda masa lampau. Selain mempercayai keberadaan Tuhan, mereka mempercayai pikukuh nenek moyang. Aturan adat yang menjadi pedoman bagi aktivitas masyarakat Baduy Dalam. Mereka juga menjadikan alam sebagai sandaran kehidupan. Tidak heran kalau hidup mereka menyatu dengan alam raya.

“Kami sangat menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Tidak boleh merusak alam karena akan mengganggu keseimbangan kehidupan,” kata Jaro Sami dengan bijak. Perkataan itu, menyiratkan betapa mereka menjadi benteng terakhir perlindungan  alam dan lingkungan yang semakin rusak ini. Kearifan lokal yang mereka pertahankan dan wariskan turun-temurun, menjadikan komunitas tersebut bertahan dari gempuran kemajuan.

Untuk membedakan masyarakat Baduy Dalam dengan Baduy Luar cukup mudah. Warga Baduy Dalam selalu berpakaian dan ikat kepala putih. Sedangkan Baduy Luar umumnya berpakaian hitam dan ikat kepala batik. Bila masyarakat Baduy Dalam tidak boleh menggunakan perangkat teknologi apa pun, tidak demikian Baduy Luar. Bahkan Baduy Luar sudah familiar dengan teknologi komunikasi modern.

Dalam beberapa tahun terakhir ini Baduy Dalam memang menjadi destinasi alternatif. Lingkungan perawan, magnet bagi wisatawan. Mengunjungi Baduy Dalam, pelancong mendapatkan tiga hal sekaligus. Pertama, wisata alam menjelajahi jalan setapak membelah perbukitan dan ladang-ladang. Kedua, wisata budaya melihat kearifan lokal dengan nilai-nilai tradisi yang masih dipertahankan. Ketiga, wisata spiritual menghayati harmoni manusia, lingkungan dan Sang Pencipta.

Kawasan Baduy Dalam memang terbuka bagi wisatawan. Kecuali pada bulan Kawalu, masa panen tiga bulan berturut-turut sekitar Februari hingga April, Baduy Dalam tertutup bagi orang luar. Sebab warga merayakannya dengan penuh khidmat dan khusyuk. Berdoa kepada Tuhan agar diberi rasa aman, damai dan kesejahteraan. Saya sendiri berkunjung tidak lama setelah Kawalu usai.

Tapi kehadiran wisatawan diakui Jaro Sami memberikan sedikit perubahan pada kehidupan masyarakat Baduy Dalam. Tetapi perubahan yang terjadi masih sebatas pada pola konsumsi. Tidak sampai pada adat istiadat yang sudah diwariskan oleh nenek moyang mereka. Misalnya pada pola makan, sebelum kehadiran wisatawan mereka mengkonsumsi produk hasil pertanian saja. Namun setelah ada wisatawan mereka mulai tertarik mengkonsumsi produk kemasan seperti kue, sarden, mi instan, dan sebagainya.

“Kalau kebiasaan makan memang ada perubahan. Kalau dulu kita tidak kenal kue tapi sekarang kita juga banyak makan makanan kemasan. Tapi kalau masalah pakaian dan adat-istiadat tidak ada perubahan dari dulu sampai sekarang,” kata Jaro Sami ketika saya tanya tentang kemungkinan terjadinya perubahan, akibat kerap dikunjungi wisatawan.

Selain pola konsumsi yang berubah, generasi muda mereka juga mulai banyak yang memahami Bahasa Indonesia. Terutama mereka yang sering ke luar kampung dan berinteraksi dengan dunia luar. “Belajarnya satu sama lain, tidak di sekolah,” Jaro Sami menjelaskan dengan Bahasa Indonesia yang fasih.

Di kampung itu sekolah formal memang masih menjadi sesuatu yang tabu. Bertentangan dengan aturan adat. Sehingga transfer pengetahuan hanya dilakukan secara informal. Saling belajar di antara mereka. Sekolah formal dikhawatirkan akan merusak tatanan adat yang telah moyang mereka bangun sejak dulu. Tapi mereka tidak bodoh. Daya tangkap mereka terhadap hal-hal baru sangat luar biasa. Mereka cepat menyerap informasi, tapi mampu menyaringnya. Pengetahuan yang tidak bertentangan dengan adat masih bisa mereka terima. Sebaliknya, hal-hal baru yang berpotensi merusak tatanan akan mereka hindari.

Dari beberapa cerita yang kami dengar, orang asing tidak boleh masuk kawasan Baduy Dalam. Baik selama di perjalanan maupun di perkampungan mereka, tidak sekalipun terlihat wajah bule dan oriental. “Memang warga asing tidak boleh sampai ke sini, mereka hanya boleh sampai Baduy Luar saja. Sudah dari dulu begitu, pantangan dari nenek moyang,” kata Jaro Sami menjawab pertanyaan penasaran salah seorang rekan kami.

Pantangan dari nenek moyang. Larangan adat. Kata itu sering kami dengar ketika bertanya tentang laku kehidupan mereka yang tidak biasa. Dua kata itu berarti selesai. Titik. Tidak boleh lagi diperdebatkan. Kalau sudah menyangkut pikukuh nenek moyang dan aturan adat, berarti sudah menyangkut harga diri dan nasib komunitas. Pelanggar pasti mendapat sanksi adat. Paling berat, dikeluarkan dari komunitas mereka. Diusir dari kampung dan tidak diakui sebagai warga Baduy Dalam. Lebih apes lagi, mereka bisa mendapat malapetaka.

Contoh kecil, mereka pergi ke mana-mana tidak boleh memakai alas kaki. Tidak boleh menumpang alat transportasi. Jika mereka melanggar akan mendapat sanksi adat yang berat. Dianggap murtad sebagai Baduy Dalam. Bahkan bisa celaka di perjalanan. “Pernah ada yang melanggar terus mengalami kecelakaan,” kata salah seorang warga.

Soal cinta juga sekarang menjadi masalah serius di kampung tersebut. Memang, suku Baduy Dalam hanya boleh melakukan perkawinan di antara mereka. Gadis Baduy Dalam tidak boleh kawin dengan suku Baduy Luar, apalagi pendatang. Mungkin itu salah satu cara untuk mempertahankan keberadaan komunitas mereka. Menjaga keluarga mereka dari kontaminasi budaya luar. Sehingga pikukuh nenek moyang masih bisa diwariskan turun-temurun.

“Tapi sekarang sudah agak longgar. Orang tua tidak bisa begitu saja menjodohkan anaknya. Anak-anak harus setuju kalau dijodohkan. Kalau tidak ya akan dicari pasangan lain yang cocok,” kata Jaro Sami.

Tapi untuk urusan kawin dengan sesama Baduy Dalam tidak bisa ditawar-tawar lagi. Kalau ada yang nekat kawin dengan orang luar, sama dengan melanggar adat dan keluar dari Baduy Dalam. Tidak boleh lagi tinggal di lingkungan tersebut. “Tapi ada juga satu dua yang melanggar. Namanya juga anak muda sekarang kalau sudah cinta bisa nekat,” Jaro Sami tersenyum sinis menceritakan perilaku sebagian kecil pemuda kampungnya.

Mungkin itu juga jawabannya, mengapa kami tidak pernah menjumpai gadis kampung Baduy Dalam. Gadis-gadis kampung itu seperti dipingit. Tidak boleh menampakkan diri kepada kaum Adam pendatang. Mereka hanya keluar setiap pagi buta, itu pun hanya untuk pergi ke sungai. Padahal, konon gadis-gadis kampung Baduy Dalam cantik jelita. Kulitnya putih bersih. Parasnya cantik alami tanpa polesan. Gadis pedalaman yang sejak kecil disepuh harum kembang hutan.
***

Pagi berangsur-angsur membuka tirai kehidupan Kampung Cibeo. Permukiman yang sebelumnya terlihat samar kini semakin benderang. Rumah-rumah bambu beratap ijuk dan rumbia berjejer rapi. Dikelilingi hutan dan rimbun bambu. Suasananya tenang. Dibungkus hawa dingin, sejuk tidak menusuk. Kebisingan hanya terdengar dari aktivitas para pendatang. Wisatawan yang ramai berkunjung saat akhir pekan.

Saya segera bergegas ke sungai. Menikmati aliran airnya yang sejuk. Mengalir perlahan membelah gugusan bebatuan. Melihat anak-anak kecil bermain riang di jembatan bambu gantung. Memandangi para pendatang dengan penuh persahabatan. Seorang pemuda kampung, terlihat berdiri di pinggir sungai. Tersenyum ramah.

“Sedang apa, Kang?” kataku membuka percakapan.
“Mengantar tamu ke tempat pembuangan,” katanya sambil tertawa lirih. Aku paham maksudnya. Menunjuk ke salah satu tempat tidak jauh dari sungai yang khusus digunakan untuk pembuangan sisa pencernaan. Agar tidak mengotori sungai. Sebab sampai ke hilir juga masih digunakan warga untuk mandi dan keperluan sehari-hari.

Kami pun berbincang-bincang ringan, tentang Baduy Dalam. Dia tidak keberatan berbagi cerita tentang kampung halamannya. Ceritanya juga persis seperti yang saya dengar dari Jaro Sami dan warga lainnya.

“Saya sering ke Jakarta, bahkan sampai ke Bogor dan Bekasi,” kata Yan, pemuda berusia 20-an tahun itu. Logat Bahasa Indonesianya terdengar agak gaul. Memang beberapa bulan sekali dia kerap ke luar kampung. Selain untuk berjualan hasil hutan dan kerajinan, juga untuk menyambangi kenalan yang ada di kota.

“Seringnya nganter madu dan golok pesanan,” ujarnya. Ia selalu berjalan tanpa alas kaki ke kota-kota yang dituju itu. Lama perjalanan bisa seminggu hingga setengah bulan. Memang, madu dan golok Baduy Dalam cukup terkenal di kalangan luar. Harga satu botol madu sekitar 75 - 100 ribu rupiah. Sedangkan golok kualitas terbaik mencapai 300 ribu rupiah. Bahkan ada yang lebih mahal.

“Kalau malam di perjalanan, biasa menginap di mana?”
“Seringnya kalau tidak di rumah kenalan ya di kantor polisi. Kadang juga di rumah perangkat desa yang kita lewati,” katanya bercerita ihwal pengalaman perjalanannya. Untuk menemukan alamat yang dituju juga bukan persoalan sulit. Dengan bermodalkan secarik kertas berisi alamat, dipastikan dia dapat menemukannya.
“Biasanya tanya ke tukang ojek, mereka banyak tahu, he-he-he...”
“Naik ojek?”
“Ya tidaklah, cuma bertanya...”
“Ngomong-ngomong, sudah kawin belum?”
“Belum...”
Dia tersenyum malu-malu.
“Kalau kawin maunya dengan gadis Baduy Dalam apa luar?”
“Belum tahu juga, ha-ha-ha...”

Begitulah, kaum muda Baduy Dalam kini banyak yang semakin terbuka. Memahami perubahan sebagai sebuah realitas. Tapi tetap saja, pikukuh nenek moyang dan aturan adat menjadi pagar kasat mata yang membentengi kehidupan mereka dari kontaminasi budaya luar. Meski tidak signifikan, kehadiran wisatawan yang mencapai ratusan orang setiap akhir pekan, tetap memancing terjadinya perubahan. Sebab bagaimanapun, interaksi dengan masyarakat berbeda budaya akan menghasilkan pengetahuan dan pengalaman baru. Pengalaman baru itulah yang kemudian perlahan-lahan memberikan warna berbeda bagi kehidupan suku Baduy Dalam.

Namun sampai kapan mereka akan bertahan? Apalagi, kami melihat sebagian pendatang mulai tidak menaati aturan. Pada beberapa bagian sungai, saya menemukan sampah yang dibuang sembarangan. Ada juga yang tidak mematikan telepon genggam. Meski sekadar untuk melihat jam atau menghidupkan alarm. Lebih dari itu, nilai-nilai komersil sudah mulai masuk ke kawasan tersebut. Nyaris tidak ada lagi sistem barter seperti pada masa lalu. Semuanya kini dapat dinilai dengan uang.
“Mungkin setelah ini, saya akan membatasi kunjungan ke sini,” kata Gress, pengelola kegiatan wisata yang beberapa kali membawa rombongan pelancong ke Baduy Dalam.

“Kalau terlalu sering didatangi wisatawan, saya khawatir adat-istiadat mereka, kebudayaan mereka, lingkungan mereka akan semakin rusak. Sebab tidak semua wisatawan mematuhi aturan. Takutnya ada yang membawa pengaruh buruk bagi kehidupan mereka,” katanya, sambil menyeruput segelas kopi manis di gelas bambu. Di balai-balai rumah panggung tempat kami bermalam.

Lalu, kami pun segera berkemas. Sebab pengunjung hanya boleh menginap satu malam. Menata perlengkapan pribadi ke dalam ransel. Tidak lupa memasukkan sampah-sampah plastik, membawanya pulang. Tidak ada yang kami tinggalkan, selain beberapa bungkus makanan kemasan untuk keluarga tuan rumah. Kami pun hanya membawa pulang pengalaman dan beberapa hasil kerajinan. Keelokan perkampungan tersebut masih tabu untuk diabadikan dalam kamera. Tapi keramahan, ketulusan dan persahabatan warga Baduy Dalam tetap lekat di memori kami.

Matahari menyembul di balik bukit. Semburat cahayanya memendar dari rumpun bambu. Terang dan eksotis. Kami segera berkumpul di tanah lapang. Berdoa untuk keselamatan perjalanan pulang. Kembali melewati jalan setapak, naik turun bukit dan lembah. Setelah satu malam melihat dan berinterakasi dengan  kehidupan suku Baduy Dalam. Meresapi kearifan budayanya. Lokalitasnya yang terpelihara. Menghayati laku hidupnya. Melihat bagaimana manusia merawat alam, alam merawat manusia. (*)